Segenap Karyawan Balai Penelitian Sungei Putih Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H. Semoga kita dapat memaknainya dengan iman, taqwa, dan sebaik-baiknya perbuatan.

Category Archives: Ringkasan Jurnal

Jurnal Penelitian Karet Vol. 32, No. 2, Thn 2014

POLA MUSIMAN PRODUKSI DAN GUGUR DAUN PADA KLON PB 260 DAN RRIC 100

 Seasonal Patterns of Yield and Shed Leaves of PB 260 and RRIC 100 Clones

 Tumpal H S SIREGAR

Abstract

             Growth and yield are the main agronomic parameters in rubber plant which are influenced by climate variation. Difference climate patterns between north and south equator causes difference peak yield of rubber period of those locations, follows growth and leaf fall period. To determine response of PB 260 and RRIC 100 clones toward seasons changing, the research was done in 2011 – 2012 on etalase block, Sungei putih experimental Garden, located 3° north equator. Each clone was arranged in Completed Randomzied Design, with 2 replications. Observation results showed that yield (ml latex/tree) in PB 260 had significant correlated with number of shed leaves, Dry Rubber Content (DRC), and rainfall, but it was not significant correlation with soil water content, leaf water content and stem flow. Yield of RRIC 100 had significant correlation with rainfall. Yield pattern of those clones showed the lowest yield found in April, and the peak yield in August (PB 260) and September (RRIC 100). Generally, DRC of RRIC 100 was higher than PB 260. Number of shed leaves were higher up to April for PB 260, but RRIC 100 had higher amount of shed leaves in May until August. This research could be indicated that RRIC 100 more withstand to climate changes, mainly rainfall fluctuation. The research result may be used as a guidance that stimulant application could be earlier for PB 260 than RRIC 100, mainly when those clones were managed in north equator.

 Keywords: Hevea brasiliensis, seasonal, pattern, rainfall, yield, shed leaves

 

Abstrak

            Pada tanaman karet pertumbuhan dan produksi adalah dua peubah agronomi penting yang sangat dipengaruhi oleh variasi iklim. Pola iklim tahunan yang berbeda pada utara dan selatan khatulistiwa menyebabkan waktu puncak produksi pada kedua kawasan tersebut juga berbeda mengikuti pola pertumbuhan dan gugur daun. Untuk mengetahui respon klon PB 260 dan RRIC 100 terhadap perubahan musim, maka dilakukan penelitian pada tahun 2011 – 2012 di blok etalase Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, yang berada di utara khatulistiwa. Tiap-tiap klon tersusun menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi (ml lateks/tanaman) PB 260 memiliki korelasi yang nyata dengan jumlah daun gugur, Kadar Karet Kering (KKK), dan curah hujan, sedangkan korelasi produksi tidak nyata dengan persentase air tanah, persentase air daun dan jumlah air yang tertampung. Pada RRIC 100 produksi nyata berkorelasi dengan curah hujan. Pengamatan produksi pada kedua klon tersebut menunjukkan bahwa produksi terendah terjadi pada bulan April. Sedangkan produksi tertinggi diperoleh PB 260 pada bulan Agustus dan RRIC 100 pada bulan September. Secara umum, KKK RRIC 100 lebih tinggi dibandingkan PB 260. Klon PB 260 mengalami jumlah daun gugur yang lebih tinggi hingga April, tetapi pada bulan Mei hingga Agustus, RRIC 100 mengalami gugur daun yang lebih tinggi. Penelitian ini menjadi indikasi bahwa RRIC 100 relatif lebih tahan terhadap perubahan lingkungan khususnya curah hujan dibandingkan PB 260. Hasil pengamatan memberi arah penelitian bahwa pad aklon PB 260 dapat lebih awal untuk mengaplikasikan stimulan dibandingkan RRIC 100, utamanya bila dikelola di kawasan utara khatulistiwa.

 Kata kunci : Hevea brasiliensis,  musim, pola musiman, curah hujan, produksi, gugur daun

 

GENOTIPE TERPILIH BERDASARKAN KARAKTER PERTUMBUHAN DAN HASIL LATEKS DARI UP/03/96

 The Selected Genotypes Based on Growth and Latex Yield Characters from UP/03/96

 Syarifah Aini PASARIBU, Irwan SUHENDRY, dan SAYURANDI

Abstract

             The use of high yielding clones is one of the ways to increase rubber production. The superior clone was obtained through several stages of testing, one of them is a preliminary test. The material test derived from selection intensity result of 10% in a population of nursery F1 crossing results. Evaluation of preliminary testing had been done on UP/03/96 at 10 years. Based on preliminary testing results, it was obtained two genotypes were grouped into latex yielding clone namely: no. 75 (91/439) and 33 (91/303), and ten genotypes that were grouped into latex-timber yielding clone, namely: no. 65 (91/160), 25 (91/438), 64 (91/301), 47 (91/45, 76 (91/65), 35 (91/409), 37 (91/369), 28 (91/214), and 5 (91/343). The genotypes were new superior promising clones which had good growth performance and latex yield.

 Keywords: Hevea brasiliensis, promising clone, latex-timber clones

 Abstrak

              Penggunaan klon-klon unggul yang berhasil tinggi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil karet. Klon unggul diperoleh melalui beberapa tahap pengujian salah satu diantaranya adalah pengujian pendahuluan. Materi pengujian berupa genotipe dari hasil seleksi dengan intensitas 10% pada populasi hasil persemaian F1. Evaluasi pengujian pendahuluan telah dilakukan pada UP/03/96 yang telah berumur 10 tahun. Dari hasil pengujian diperoleh sebanyak dua genotipe yang dikelompokkan kedalam klon penghasil lateks yaitu genotipe no. 75 (91/439) dan 33 (91/303), dan sebanyak sepuluh genotipe dikelompokan ke dalam klon penghasil lateks dan kayu, yaitu no. 65 (91/160), 25 (91/438), 64 (91/301), 47 (91/45, 76 (91/65), 35 (91/409), 37 (91/369), 28 (91/214), dan 5 (91/343). Genotipe-genotipe tersebut merupakan klon harapan unggul baru yang memiliki pertumbuhan dan hasi lateks yang baik.

 Kata Kunci : Hevea brasiliensis, klon harapan, klon penghasil lateks-kayu

 

KERAGAMAN GENETIK TANAMAN KARET (HEVEA BRASILIENSIS

MUELL ARG.) DARI HASIL PERSILANGAN INTERSPESIFIK

 Variability of Genetic Rubber Plant (Hevea brasiliensis Muell Arg.)

from Interspecific Crossing

Sekar WOELAN, SAYURANDI, dan Edy IRWANSYAH

Abstract

            Indonesian genetic variability of rubber germplasm has been enriched by conserving of the clones from the IRRDB (International Rubber Research and Development Board) expedition in Amazon Dale, Brazil in 1981. Opportunity to get the new superior genotypes will be higher by using hybridization between RRIM 600 X PN 1546. The first stage in rubber breeding is to select the best genotypes in seedling evaluation trial (SET). The selection was done to mind parameter mainly production potential (latex and wood) and growth (girth, bark thickness), bark anatomy (number and diameter of latex vessel, number of rubber particles), latex physiology (plugging index, yield index, rate of latex flow, sucrose, inorganic phosphate, thiol, Dry Rubber Content). The results of genotypes segregant from RRIM 600 x PN 1546 had quite high diversity, for variables of latex as well as timber produciton. Girth, bark thickness, number of latex vessel, production index and latex flow rate showed highly significant correlation with latex produciton. The relationship between the 12 components of production was indicated with a deterimination coefficient value R2 of 92.7% while the remaining 27.0% of information was unknown. The components of latex production that had high direct effect to latex production were number of latex vessels (0.722), rubber particles (0.591), girth (0.588), and bark thickness (0.556). Based on path analysis and stepwise regression, it was known that number of latex vessel and number of rubber particles had greater direct effect and without of the effect of multicoloniarities. The determination coefficient value of that both characters were  R2 of 61.90%. The genotypes selected based on latex yield were No. 18/G-518, No. 9/G-567, and No. 28/G-577. Based on rubber wood yield the genotypes selected were No 17/G-669 (volume of wood branching free), No. 19/G-567, No. 20/G-441 (volume of canopy wood) and No. 19/G-567, No. 20/G-441, No. 27/G-514 (volume of total wood).

 Keywords: Hevea brasiliensis, genetic variability, multiple regression, selection


Abstrak

            Variabilitas genetik plasma nutfah karet di Indonesia telah diperkaya dengan melakukan konservasi genotipe karet dari hasil ekspedisi IRRDB (International Rubber Research and Development Board) di sungei Amazone, Brasil pada tahun 1981. Peluang untuk mendapatkan genotipe unggul baru akan lebih besar dengan menggunakan persilangan antara RRIM 600 X PN 1546.  Tahapan awal dalam pemuliaan tanaman karet adalah dengan memilih genotipe terbaik di pengujian seedling evaluation trial (SET). Seleksi genotipe dilakukan berdasarkan parameter potensi produksi (lateks dan kayu), pertumbuhan tanaman (lilit batang, ketebalan kulit), anatomi kulit (jumlah dan diameter pembuluh lateks, jumlah partikel karet), serta fisiologi lateks (indeks penyumbatan, indeks produksi, kecepatan aliran lateks, kadar karet kering, sukrosa, tiol, fosfat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe hasil persilangan klon RRIM 600 X PN 1546 menunjukkan keragaman yang tinggi untuk produksi lateks maupun produksi kayu. Karakter lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, indeks produksi dan kecepatan aliran lateks menunjukkan adanya korelasi yang sangat nyata terhadap produksi lateks. Adanya hubungan diantara 12 komponen produksi ditunjukkan dengan besaran nilai koefisien determinasi yaitu R2 = 92,7%  dan sisanya 27,0%  informasinya belum diketahui. Komponen produksi yang mempunyai pengaruh langsung cukup tinggi terhadap produksi yaitu pembuluh lateks (0,722), partikel karet (0,591), lilit batang (0,588) dan tebal kulit (0,556). Berdasarkan analisis lintas dan regresi bertatar, diketahui bahwa jumlah partikel karet dan jumlah pembuluh lateks memiliki pengaruh langsung paling besar sekaligus bebas dari efek multikolinieritas. Hal ini mengindikasikan bahwa, kedua peubah itu secara parsial menunjukkan hubungan yang nyata terhadap produksi lateks. Niai koefisien determinasinya kedua karakter tersebut sebesar 61,90%. Genotipe terseleksi berdasarkan produksi lateks adalah No. 18/G-518, No. 9/G-567, dan No. 28/G-577. Berdasarkan produksi kayu ditemukan pada genotipe No 17/G-669 (volume kayu bebas cabang), No. 19/G-567, No. 20/G-441 (volume kayu kanopi) dan        No. 19/G-567, No. 20/G-441, No. 27/G-514 (volume kayu total).

 Kata kunci: Hevea brasiliensis, keragaman genetik, regresi berganda, seleksi

 

KEEFEKTIFAN BEBERAPA FUNGI ANTAGONIS (Trichoderma sp.)

DALAM BIOFUNGISIDA ENDOHEVEA TERHADAP PENYAKIT JAMUR

 AKAR PUTIH (Rigidoporus microporus) DI LAPANGAN

 The Effectiveness of Several Antagonistics Fungus (Trichoderma sp.) in Endohevea Biofungicide to White Root Disease (Rigidoporus microporus) at Field Scale

 Zaida FAIRUZAH, Cici Indriani DALIMUNTHE, KARYUDI,

Soleh SURYAMAN dan Wiwik E. WIDHAYATI

Abstract

            White root disease (WRD) causes high economic loss in rubber plantation reaching about Rp. 1.8 trilion/year. This destructive disease attacks rubber plants at every stage. Now days the control of white root disease is still using chemical fungicides such as hexaconazol, tridemorph, and triadimefon. These chemical fungicides are more expensive than biofungicides and also, it is not environmentally friendly. A progress has been reported by some plantations which have adopted the use of biofungicides. Endohevea is one of biofungicides which enables to control white root disease. This biofungicide consists of several antagonistic fungi which are grouped in Trichoderma genus. The effectiveness of Endohevea biofungicide was observed by direct drenching to the stem base which experienced varied degrees of attacks (scale 1, 2, or 3). The treatments were application frequency (one application and two applications) and two dosage types (one tablet/litre of water per plant and one tablet/5 litres of water per 5 plants) and the control (no application). Parameter observed was recovery percentage done every month after the first application. The result showed that Endohevea biofungicide was effective for white root disease control at field scale with 79.0% recovery percentage and significantly different compared with the control.

 Keywords: Hevea brasiliensis, white root disease, Trichoderma sp., Endohevea biofungicide

 

Abstrak

            Penyakit jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidoporus microporus menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi di perkebunan karet hingga Rp. 1,8 triliun/tahun. Penyakit ini menyerang semua stadia tanaman karet baik di pembibitan, kebun entres, TBM maupun TM. Saat ini pengendalian jamur akar putih masih menggunakan fungisida kimia berbahan aktif seperti heksakonazol, tridemorf, dan triadimefon. Pengendalian dengan fungisida kimia lebih mahal bila dibandingkan dengan biofungisida, selain itu tidak bersifat ramah lingkungan. Suatu kemajuan ditunjukkan oleh beberapa perkebunan yang telah mengadopsi penggunaan biofungisida. Endohevea merupakan salah satu biofungisida yang dapat mengendalikan JAP. Biofungisida ini terdiri atas beberapa fungi yang tergolong ke dalam genus Trichoderma yang bersifat antagonis terhadap JAP. Keefektifan biofungisida Endohevea diketahui dengan penyiraman biofungisida secara langsung ke pangkal batang tanaman yang terserang dengan skala serangan beragam (skala 1, 2, atau 3) dengan perlakuan banyaknya aplikasi (1 kali aplikasi dan 2 kali aplikasi) dan perlakuan dosis (1 tablet/liter air/tanaman dan 1 tablet/5 liter air/5 tanaman) dan kontrol (tanpa aplikasi). Parameter pengamatan yang diuji adalah persentase kesembuhan. Keefektifan dilakukan setiap bulan     setelah aplikasi pertama dengan parameter persentase kesembuhan. Hasil menunjukan bahwa biofungisida Endohevea pada dosis 1 tablet/5 tanaman efektif dalam mengendalikan JAP pada skala lapangan dengan persentase kesembuhan mencapai 79,0% yang signifikan berbeda dibandingkan kontrol.

 Kata kunci: Hevea brasiliensis, penyakit jamur akar putih, Trichoderma sp., biofungisida Endohevea

 

POTENSI KULTUR CAMPURAN BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PEMACU

PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KARET

The Potency of Mixed Culture of Endophytic Bacteria as Plant Growth Promoting for

Rubber Rootstock Growth

Umi HIDAYATI, Iswandi Anas CHANIAGO, Abdul MUNIF,

SISWANTO, dan Dwi Andreas SANTOSA

Abstract

            Endophytic bacteria was bacteria living in plant tissue, and they can be isolated through sterilization of tissue surface. Isolation of endophytic bacteria from rubber plant that are potentially involved in enhancing growth is important to be carried out. Mixed cultures of endophytic bacteria are expected to increase the plant growth and improve the quality of rubber rootstocks. The objective of this experiment was getting mixed cultures of endophytic bacteria as plant growth promoting for rubber rootstocks. Five endophytic bacteria from rubber trees that had been known their potency as plant growth promoting, namely Bacillus cereus KPD6, Pseudomonas aeurinosa K P A 32, Brachybacterium paraconglomeratum LPD74, unknown bacterium LPD76, and Providencia vermicola KPA38, were tested in their compatibility to obtain the compatible mixed cutures that could enhance the growth of PB 260 rootstocks. All of the selected endophytic bacteria were compatible each other. Application of mixed cultures to improve rubber rootstocks growth gave the best results 2 mixed cultures. The first mixed cultures contains 2 bacterias namely Brachybacterium paraconglomeratum LPD74 and Providencia vermicola KPA38. The second mixed cultures contains 3 bacterias, namely Bacillus cereus contains 3 bacterias, namely Bacillus cereus KPD6, Pseudomonas aeruginosa KPA32, and Brachybacterium paracongomeratum LPD74. Endophytic bacteria were able to enter to planlet originated from micro cutting was proven by Scannin Electron Microscopy.

 Keywords : Endophytic bacteria, mixed culture, plant growth promoting, rubber rootstock

 

Abstrak

            Bakteri endofit adalah bakteri yang hidup dalam jaringan tanaman, dapat diisolasi melalui sterilisasi permukaan jaringan tanaman. Isolasi bakteri endofit dari tanaman karet yang berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan sangat penting dilakukan. Pembuatan kultur campuran dari bakteri endofit diharapkan meningkatkan potensi dalam memacu pertumbuhan yang dapat meningkatkan kualitas bibit batang bawah tanaman karet. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan kultur campuran bakteri endofit sebagai pemacu pertumbuhan bibit tanaman karet. Lima bakteri endofit dari tanaman karet yang berpotensi sebagai pemacu pertumbuhan yaitu Bacillus cereus KPD6, Pseudomonas aeruginosa KPA 32, Brachybacterium paraconglomeratum LPD74, bacterium (bakteri tidak dikenal) LPD76, dan Providencia vermicola KPA38, diuji kompatibilitas untuk mendapatkan kultur campuran yang dapat meningkatkan pertumbuhan bibit batang bawah PB 260. Semua bakteri endofit terpilih kompatibel satu dengan yang lain. Aplikasi kultur campuran untuk meningkatkan pertumbuhan bibit batang bawah PB 260 memberikan hasil 2 kultur campuran terbaik. Kultur campuran 1 terdiri 2 spesies bakteri yaitu Brachybacterium paraconglomeratum LPD74 dan Providencia vermicola KPA38. Kultur campuran 2 terdiri 3 spesies bakteri yaitu Bacillus cereus KPD6, Pseudomonas aeruginosa KPA32, dan Brachybacterium paraconglomeratum LPD74. Bakteri endofit mampu masuk ke planlet bibit karet microcutting yang dibuktikan dengan Scanning Electron Microscopy.

 Kata kunci : Bakteri endofit, kultur campuran, pemacu pertumbuhan, bibit tanaman karet

 

PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI HILIR PENGOLAHAN KARET DI PROVINSI JAMBI

 Downstream Rubber Industry Development in Jambi Province

 Dompak MT NAPITUPULU, Zulkifli ALAMSYAH, dan ELWAMENDRI

Abstract

             Rubber trees have been grown at smallholder level for more than 100 years in Jambi. Natural rubber is also treated as a major commodity for its large constribution to the government earnings. Nevertheless, the impact on the farmer’s income seems insignificant. This research aimed to identify farmer perception in developing natural rubber based industry as well as identify strategic environmental factor affecting the downstream agroindustry development in Jambi. The research was undertaken in three natural rubber estates in the regencies of Muaro Jambi, Sarolangun, and Bungo. Data were collected by survey method and analysed with descriptive method. Strategy of downstream rubber industry was approached by SWOT, while feasibility to develop the industry was analyzed by cash flow. The results showed that 78.33% of respondent accepted the rubber industry development in their locations. In addition, it was identified that at least two strength, three weakness, three opportunities and two threatening factors could affect the natural rubber based agroindustry development in Jambi.

Keywords: Lateks, agroindustry, SWOT, strategy, financial analysis

 Abstrak

            Karet alam telah diusahakan pada tingkat perkebunan karet rakyat di Provinsi Jambi sejak lebih dari seratus tahun yang lalu. Kontribusinya yang cukup besar terhadap perekonomian daerah menyebabkan karet alam dianggap sebagai salah satu komoditas unggulan Provinsi Jambi. Namun kontribusinya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani produsen belum terlihat nyata. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi persepsi petani karet rakyat terhadap pengembangan industri berbahan baku karet secara lokal dan mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan strategis yang dapat mempengaruhi pengembangan industri hilir pengolahan karet alam di Provinsi Jambi. Penelitian ini dilakukan di tiga kabupaten sentra produksi karet alam di Provinsi Jambi yakni di Kabupaten Muaro Jambi, Bungo dan Sarolangun. Data dihimpun dengan metode survei dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Strategi pengembangan usaha didekati dengan metode analisis SWOT, sementara kelayakan pengembangan usaha dianalisis dengan menggunakan analisis arus dana (cash flow). Hasil analisis menunjukkan bahwa upaya pengembangan industri hilir berbahan baku karet alam direspons dengan sangat baik oleh petani karet rakyat. Pada umumnya (78,33%) responden setuju jika industri hilir pengolahan karet alam dikembangkan di lokasi penelitian. Hasil analisis lingkungan strategis menunjukkan terdapat dua faktor kekuatan, tiga faktor kelemahan, tiga faktor peluang dan dua faktor ancaman yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengembangan industri pengolahan lateks pekat di lokasi penelitian.

Kata kunci: Lateks, agroindustri, SWOT, strategi, analisis finansial

 

STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KARET DI SUMATERA SELATAN

 Feasibility Study of Investment of Rubber Plantation Development in South Sumatra

Lina fatayati SYARIFA

Abstract

            Intersted in the present rubber price, many agribusiness companies have started to develop rubber plantations. This opportunity has been taken by state and private owned plantations. Socio economic feasibility study is needed before the opening of the rubber development project. The aim of this paper was to analyze investment feasibility of rubber plantation development in South Sumatra. This research used a case study method in South Sumatra by collecting primary data from the experimental garden of Sembawa Research Centre and secondary data with some assumptions. Feasibility analysis used indicators of Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (B/C ratio), and Payback Period. The analysis results showed that investment of rubber plantation development in  South Sumatra with an area of 3000 ha with land suitability of S3, rubber price of US $2.55 per kg, and discount factor of 11% were feasible with NPV of Rp. 209.4 billion; IRR 0f 16%; B/C ratio of 1.43; and payback period of 11 years 10 months. Similarly, in the conditions where the natural rubber price decreased by 5% up to us $2.4 per kg and production costs increased by 5%, the project was proved to be feasible to conduct.

Keywords: Feasibility, investment, rubber plantation, development

 Abstrak

            Dengan harga karet seperti saat ini, banyak pelaku agribisnis yang tertarik untuk mengembangkan perkebunan karet. Peluang ini dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan baik milik negara (BUMN) maupun swasta dengan mencari lahan untuk membangun atau memperluas perkebunan karet. Studi kelayakan sosial ekonomi merupakan salah satu studi yang perlu dilakukan sebelum proyek pembangunan perkebunan karet dilaksanakan oleh suatu perusahaan. Artikel ini ditujukan untuk menganalissi kelayakan investasi pembangunan perkebunan karet. Penelitian menggunakan studi kasus di Sumatera Selatan dengan mengumpulkan data primer dari Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa dan data sekunder dengan beberapa asumsi. Analisis kelayakan menggunakan indikator NPV, IRR, B/C ratio, dan Payback Period. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara finansial investasi pembangunan kebun karet di Sumatera Selatan dengan luas 3000 ha dengan kesesuaian lahan S3 dan harga US $ 2,55 per kg serta tingkat diskonto 11% layak untuk dilaksanakan dengan nilai Net Present Value (NPV) Rp. 209,4 milyar; IRR 16%; B/C ratio 1,43; dan Payback Period  11 tahun 10 bulan. Demikian juga pada kondisi yang kurang menguntungkan dimana harga karet alam turun hingga US $ 2,4 per kg dan kenaikan biaya produksi sebesar 5% dari kondisi normal yang direncanakan, proyek ini masih layak dilaksanakan.

 Kata kunci: Kelayakan, investasi, perkebunan karet, pengembangan

 

KERAGAAN SISTEM PREMI PENYADAP DI BEBERAPA PERUSAHAAN PERKEBUNAN KARET

 Performance of Tapping Premium System in Some Rubber Plantation Enterprises

 Iif Rahmat FAUZI, Lina Fatayati SYARIFA, Eva HERLINAWATI,

dan Nurhawaty SIAGIAN

Abstract

            Plant productivity in a rubber plantation enterprises are influenced by technical factors of cultivation and nontechnical factors such as tapping management. The main factors such as tapping management. The main factors of tapping management to support productivity is a premium system. Premium is a reward given by the company to employees or workers who have performed  a good job following the rules. This research was conducted in 2012 to find out the performance of premium system in some rubber plantation enterprises. The research used a survey method and interview. Research locations were selected purposively. The results indicated that in general, the type of tapping premiums consisted of regular tapping premiums for achievement, discipline and optimal yield resulted from good tapping, holiday tapping premiums for achievement, discipline and optimal yield resulted from good tapping, holiday tapping premiums and free tapping premiums. To encourage tapping with optimal yield in quality and quantity, premiums were also given to workers in harvesting activities. Of all types of premiums, important workers deserved premiums were chief foreman, tapping foreman, estate TAP controller, afdeling TAP controller, yield collectors, afdeling clerk, clerk assistant, yield collectors, and afdeling guard. A foreman and TAP controller had an important contribution in determining tapper class. Their task in several estates were under the control of afdeling. The premium value of foreman and TAP controller was arranged in such a way so that it was equal with the tapper’s premium. In such conditions, the implementation of the functions of tapper class in accordance with tapping quality was not representative. In addition to the supervision factor, incentive value set in premium system was considered unable to encourage the tapper to do the tapping norm. It was suggested that special and distinct premium system out of the afdeling structure between tapper class and supervisor should be established.

Keywords: Hevea brasiliensis, premiums system, rubber plantation, tapping, supervision

 Abstrak

            Produktivitas tanaman di perusahaan perkebunan karet selain dipengaruhi oleh faktor teknis budidaya juga dipengaruhi oleh faktor nonteknis seperti manajemen penyadapan. Faktor manajemen penyadapan yang paling berpengaruh dalam mendorong produktivitas adalah sistem premi. Premi merupakan salah satu penghargaan yang diberikan oleh perusahaan kepada pekerja yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sistem premi di beberapa perusahaan perkebunan karet. Penelitian dilakukan pada tahun 2012 dengan metode survei dan wawancara. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yaitu dengan memilih sentra perkebunan karet terbesar di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum jenis premi penyadap di perusahaan perkebunan karet meliputi premi sadap hari biasa (premi prestasi, premi kerajinan, dan premi khusus), premi sadap hari libur, dan premi sadap bebas. Untuk mendukung penyadapan memperoleh hasil yang optimal maka diberikan premi kepada pekerja lain yang berkaitan dengan operasional panen. Di antara jenis premi pekerja lain yang dianggap penting adalah premi mandor besar, mandor sadap, TAP kontrol induk, TAP kontrol afdeling, koordinator produksi, krani afdeling, pembantu krani, pekerja TPH, dan penjaga afdeling. Seorang mandor dan TAP kontrol memiliki kontribusi dalam menentukan kelas penyadap. Perannya pada beberapa kebun berada di bawah kendali afdeling. Nilai premi seorang mandor dan TAP kontrol diatur sedemikian rupa sehingga berbanding lurus dengan nilai premi penyadap. Pada kondisi tersebut penerapan fungsi kelas penyadap yang berkaitan langsung dengan kualitas penyadap menjadi tidak representatif. Selain faktor peran dari fungsi pengawasan, nilai insentif yang diatur dalam sistem premi dinilai belum mampu mendorong penyadap melakukan penyadapan sesuai norma. Diperlakukan sistem premi yang tegas terhadap perbedaan kelas penyadap dan peran pengawas yang berdiri sendiri di luar struktur afdeling sebagaimana yang  disampaikan dalam studi ini.

Kata kunci : Hevea brasiliensi, sistem premi, perkebunan karet, penyadapan, pengawas

 

PEMEKATAN LATEKS KEBUN SECARA CEPAT DENGAN PROSES SENTRIFUGASI PUTARAN RENDAH

Rapid Concentration of Field Latex by Low Speed Centrifugation Process

Henry PRASTANTO, Asron F FALAAH, dan Dadi R MASPANGER

Abstract

             The objective of this research were to study the combination of creaming and centrifugation process, to increase the creaming rate by using low speed centrifuge machine. Concentrated latex is one kind of commercial product from rubber industry and still produced by big factories, in general it is prepared by high capital cost centrifugation machine, and it becomes a major obstacle for small scale industries to participate in concentrated latex industry. To produce concentrated latex from field latex can be carried out by high speed configuration, (9000-1500 rpm) and by creaming process. Creamed latex, concentrated latex, prepared by using creaming agents i.e. CMC and alginate, in batch tank for 1-2 weeks and this creaming process very slow rate, thereby requiring lot of time, causing concentrated latex production by creaming technique not popular at industries. In this study a simple sentrifuge machine had been designed and it was expected to be feasible for small medium scale industries, driven by electromotor 5 HP with a maximum speed of 5000 rpm and had a capacity of about 5-6 L field latex. To produce creamed latex quickly about 5 L per hour, CMC as a creaming agent was added to the field latex with doses of 0 to 0.2%. centrifugation time varied for 0 to 60 minutes at a speed of 5000 rpm. The results showed that the optimum conditions to obtain the Dry Rubber Content above 60% was obtained at a dosage of only 0.1% CMC with a time of centrifugation for 45 min.

 Keywords: Creamed latex, low speed sentrifugation, CMC, Dry Rubber Content

 Abstrak

            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kombinasi proses pendadihan dan sentrifugasi, untuk meningkatkan kecepatan pendadihan dengan menggunakan mesin sentrifugasi kecepatan rendah. Lateks pekat adalah salah satu jenis produk komersial dari  industri karet dan masih diproduksi oleh pabrik besar, umumnya dibuat dari mesin sentrifugasi yang biaya investasinya mahal. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi industri kecil untuk terjun dalam industri lateks pekat. Untuk memproduksi lateks pekat dari lateks kebun dapat dilakukan dengan proses sentrifugasi putaran tinggi (9000-15000 rpm) dan pendadihan. Lateks dadih adalah lateks pekat, dibuat dengan menggunakan bahan pendadih misalnya CMC dan alginat dalam tangki secara batch selama 1-2 minggu dan proses pendadihan ini kecepatan pemisahannya sangat lambat, sehingga membutuhkan waktu yang lama, akibatnya lateks pekat yang diproduksi dengan teknik pendadihan tidak populer di industri. Dalam penelitian ini sebuah mesin sentrifugasi didisain sederhana dan diharapkan layak digunakan oleh industri kecil menengah, digerakkan dengan motor 5 HP dengan kecepatan maksimums 5000 rpm dan mempunyai kapasitas sekitar 5-6 liter lateks kebun. Untuk memproduksi lateks dadi sekitar 5 liter lateks kebun per jam, bahan pendadih CMC ditambahkan ke lateks kebun dengan dosis 0 sampai 0,2%. Waktu senstrifugasi divariasikan selama 0 sampai 60 menit pada kecepatan 5000 rpm. Hasil penelitian menunjukkan, kondisi optimum untuk memperoleh kadar karet kering di atas 60% diperoleh pada dosis CMC hanya 0,1% dengan waktu sentrifugasi selama 45 menit.

Kata kunci: Lateks dadih, sentrifugasi putaran rendah, CMC, kadar karet kering

 

SINTESIS BAHAN BANTU OLAH KOMPON KARET SECARA REAKSI

VULKANISASI DARI PERPADUAN MINYAK NABATI

SEMI PENGERING DAN PENGERING

Synthesis of Rubber Compound Processing Aid by Vulcanization of

Semi Drying and Drying Vegetable Oils Mixture

Santi PUSPITASARI, Adi CIFRIADI, Eva Lilis NURGILIS, dan Zulhan ARIF

Abstract

            Brown factice is one of the most important rubber chemicals. It has ability to promote rubber compounding. Brown factice quality is affected by vegetable oil as raw material, sulphur concentration, and temperature of reaction. Vulcanization reaction between vegetable oil and sulphur in brown factice formation usually is run at 140-190°C. Vegetable oil must be have high iodine value (min 80-110 g iodine/100 g oil). This research studied the synthesis of brown factice from combinations of castor oil with drying oil other as semi drying oils at 80 : 20 ratio, 24 pho sulphur addition, and 150°C. The result showed that brown factice could be synthesized from combination of those vegetable oils composition at suitable reaction state. Based on the brown factice characterization, the reaction produced brown factice quality which equal to commercial brown factice level 3. The best vegetable oils combination were gained from coastor oil and palm oil mixture.

Keywords: Brown factice, rubber compound, vegetable oil

 Abstrak

            Faktis cokelat merupakan salah satu bahan kimia karet terpenting yang berfungsi sebagai bahan bantu olah kompon karet. Mutu faktis cokelat dipengaruhi oleh pemilihan jenis minyak nabati sebagai bahan baku utama, konsentrasi sulfur, dan suhu reaksi. Reaksi vulkanisasi antara minyak nabati dengan sulfur pada pembentukan faktis cokelat umumnya dilakukan pada suhu 140-190°C. Minyak nabati harus memiliki bilangan iod yang tinggi minimal 80-110 g iod/100 g minyak. Pada penelitian ini dipelajari peluang pembuatan faktis cokelat dari kombinasi minyak jarak kastor dengan minyak nabati lain golongan semi pengering (sawit, jarak pagar) dan pengering (kedelai, jagung, kanola) pada rasio minyak sebesar 80 : 20 dengan penambahan 24 bsm sulfur dan 150°C. Hasil percobaan menunjukkan bahwa faktis cokelat dapat disintesis dari kombinasi antar minyak nabati tersebut pada kondisi reaksi vulkanisasi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil karakterisasi diperoleh faktis cokelat dengan tingkatan mutu setara dengan faktis cokelat komersial kelas 3. Kombinasi minyak nabati yang menghasilkan faktis cokelat terbaik diperoleh dari campuran antara minyak jarak kastor dengan minyak sawit.

Kata kunci : Faktis cokelat, kompon karet, minyak nabati

KARAKTERISTIK MINYAK JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) EPOKSI MURNI

SEBAGAI PELUNAK VULKANISAT KARET NBR

 The Characteristic of Pur Epoxidized Jatropha Curcas (Jatropha curcas L.) Oil as

NBR Vulcanizat Plasticizer

Norma A. KINASIH dan Adi CIFRIADI

Abstract

             The utilizing of phtalat group plasticizer on NBR such as; dioctil phatalat (DOP), diisononil phatalat (DINP) and diisodecil phatalat (DIDP) has been controled because of their impact on environment contamination and health damage. One of the alternative substitute phtalat group plasticizer is epoxidized jatropha curcas oil. The side reactions was formed during epoxidation reaction, which could decrease the quality of epoxidized jatropha curcas oil. The purpose of the research is to investigate the influence of purification process on epoxidized jatropha curcas oil characteristics and the application on NBR vulcanizate. The utilization of pure epoxidized jatropha curcas oil on NBR vulcanizate will be compare with impure epoxidized jatropha curcas oil by impure epoxidized jatropha curcas oil and DOP, which were used in 5phr dosages respectively. The characterization of pure epoxidized jatropha curcas oil was analyzed by quantitative (oxirane number and % epoxidized) and qualitative (FTIR). Meanwhile the characterization  of NBR vulcanizate showed by a result of physical properties test. The yield of purification process was 82,94%. The characterization of pure epoxidized jatropha curcas oil showed that purification process reduced all of side reaction-products of epoxidation process. Pure epoxy jatropha curcas oil reduced The best ability on the reducing hardness of NBR rubber are the used of impure epoxidized jatropha curcas oil (A), followed by the pure epoxidized jatropha curcas oil (B) and DOP (C).

Keywords: Plasticizer, epoxidized jatropha curcas oi,l DOP, NBR


Abstrak

            Penggunaan bahan pelunak kelompok phtalat pada karet NBR seperti dioktil ftalat (DOP), diisononil ftalat (DINP) dan diisodekil ftalat (DIDP) mulai dibatasi, karena merusak lingkungan dan kesehatan. Saah satu bahan pelunak alternatif yang digunakan adalah minyak jarak pagar epoksi. Selama berlangsungnya reaksi epoksidasi, terbentuk reaksi samping yang dapat menurunkan kualitas minyak jarak pagar epoksi. Pemurnian perlu dilakukan untuk menjaga kualitas kandungan oksiran minyak jarak pagar. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemurnian terhadap kualitas minyak jarak pagar epoksi dan penggunannya sebagai pelunak pada vulkanisat karet NBR. Kemampuan minyak jarak pagar epoksi murni sebagai pelunak karet NBR diuji dengan membandingkan kinerjanya dengan minyak jarak pagar epoksi sebelum pemurnian dan DOP menggunakan dosis yang sama, yaitu 5 bsk. Karakteristik minyak jarak pagar epoksi sebelum dan setelah pemurnian dianlisa secara kuantitatif (nilai oksiran dan % terepoksidasi) dan kualitatif (FTIR). Karakterisasi vulkanisat karet NBR ditunjukkan melalui hasil pengujian sifat fisiknya. Rendemen minyak hasil perlakuan pemurnian sebesar 82,94%. Hasil karakteristik minyak jarak pagar epoksi menunjukkan bahwa perlakuan pemurnian mampu menurunkan hasil samping reaksi epoksidasi. Kemampuan yang lebih baik dalam menurunkan kekerasan karet NBR secara berturut-turut dimulai dari minyak jarak pagar sebelum pemurnian (A), diikuti minyak jarak pagar setelah pemurnian (B) dan DOP (C).

Kata kunci: Pelunak, minyak jarak pagar epoksi, DOP, NBR

 

Jurnal Penelitian Karet Vol. 32, No. 1, Thn 2014

PENGUJIAN ADAPTASI BEBERAPA KLON KARET PADA MASA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN

 Adaptation Test of Several Rubber Clones in Immature Period

 SAYURANDI, Irwan SUHENDRY, dan Syarifah Aini PASARIBU

 Abstract

The purpose of this study was to evaluate the performance of several rubber clones in adaptation test in immature period. A total of nine rubber clones, namely IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 119, IRR 230, PB 217, RRIM 921, RRII 105 and control clone PB 260 which were evaluated in this research. Adaptation test performed on two locations which have different agroecosystems, viz. Gunung Tua which is located in North Padang Lawas district which has a dry agroclimate location and Batang Toru which is located in South Tapanuli district which has a wet agroclimate location.The adaptation tests were conducted in 2005 and 2007 by using a randomized block design (RBD). Observations were done on girth size over 2, 3 and 4 years, while bark thickness and bark anatomy were observed at 4 years. The attack intensity of Oidium, Colletotrichum, and Corynespora leaf fall diseases at 3 years. The research results showed that clones IRR 104 and IRR 118 had growth vigorous in dry agroclimate,while clones IRR 5, IRR 112, PB 217 and RRIM 921 had vigorous growth in wet agroclimate. Based on bark thickness and bark anatomy characters, showed that clones IRR 5, PB 217, RRII 105, and RRIM 921 had highest bark thickness, while clones IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, and IRR 230 had good bark anatomy character. All clones were classified from moderately resistant to resistant to Oidium, Colletotrichum, and Corynespora leaf fall diseases.

 Keywords: Hevea brasiliensis, rubber clones, adaptation trial, growth, secondary characteristics

 Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja beberapa klon karet pada pengujian adaptasi selama masa tanaman belum menghasilkan. Sebanyak sembilan klon karet

yaitu IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 119, IRR 230, PB 217, RRIM 921, RRII 105 dan klon pembanding PB 260 diuji dalam penelitian ini. Pengujian adaptasi dilakukan pada dua daerah yang memiliki agroekosistem yang berbeda, yaitu Gunung Tua yang terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara memiliki iklim yang lebih kering dan Batang Toru terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki iklim yang lebih basah. Pengujian adaptasi dibangun pada tahun 2005 dan 2007 dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Pengamatan karakter pertumbuhan lilit batang dilakukan pada umur 2, 3 dan 4 tahun, sedangkan karakter tebal kulit dan anatomi kulit diamati pada umur 4 tahun. Intensitas serangan penyakit gugur daun Oidium,Colletotrichum, dan Corynespora diamati pada umur 3 tahun. Hasil pengujian menunjukkan bahwa klon IRR 104 dan IRR 118 memiliki pertumbuhan yang cukup jagur di daerah kering, sedangkan klon IRR 5, IRR 112, PB 217 dan RRIM 921 memiliki pertumbuhan paling jagur pada kondisi iklim lebih basah. Berdasarkan karakter tebal kulit dan anatomi kulit menunjukkan klon IRR 5, PB 217, RRII 105, dan RRIM 921 memiliki karakter tebal kulit paling tinggi, sedangkan klon IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, dan IRR 230 memiliki karakter anatomi kulit yang cukup baik. Semua klon yang diuji tergolong agak resisten hingga resisten terhadap penyakit gugur daun Oidium, Colletotrichum, dan Corynespora.

 Kata kunci: Hevea brasiliensis, klon karet, pengujian adaptasi, pertumbuhan, karakteristik sekunder

  PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS AWAL TANAMAN KARET BERBATANG BAWAH BANYAK

Growth and Initial Productivity of Rubber Plants with Many Rootstocks

Nurhawaty SIAGIAN dan Tumpal H. S. SIREGAR

 Abstract

Since 2005 the use of rubber planting materials with many rootstocks in order to shorten the immaturity period has been developed at the farm level. The models have continued growing and the planting materials are sold by trader in Regencies of Muara Enim, West Tanjung Jabung, Sarolangun, Madina, Taput, and Provincies of Bengkulu, Aceh, Jambi, as well as West Sumatra (Damas Raya and South Solok). Rubber planting material with many rootstocks logically will increase girth growth of rubber due to its more feeder roots for the absorption of water and nutrients. Technical information about the growth and production of this rubber planting material type needs to be disseminated in order to avoid mistakes in the future. The propagation of the rubber planting materials and its growth during in polybag was reported by Siagian in 2006 and in 2010 followed by the report of plant growth up to the age of 4 years in the field. This further research was conducted to evaluate its effects on the plant growth, percentage of tappable trees at the age of 4.5 years and tree production at three years of tapping. The experiment was conducted in experimental field of Sungei Putih, arranged in a factorial completely block design with three replications. Each experimental unit used 50 plants. The first factor tested was the number of rootstocks being grafted i.e. two (S2), three (S3), four (S4) and the control without grafting or only one rootstock (S1). The second factor were clones used i.e. PB 260 (K1) and IRR 118 (K2). Thus there were eight treatment combinations. Two-whorl polybag plants were used as planting materials. Field planting was done in May 2006. Variables observed were dry rubber production (g/t/t), girth at 4.5 and 7.5 years old, percentage of tappable trees, bark thickness, number and diameter of latex vessels and nutrient leaf contents of N, P, K, Mg and Ca at the age of 7.5 years old. The results showed that the immaturity period of planting materials with many rootstocks (two, three or four) were almost equivalent to the immaturity period of the control plant i.e 4.5 years. The use of planting materials with many rootstocks (two, three or four) for the purpose of shorthening immaturity period had not proved the previous assumption. Observations during three years of tapping showed that the average dry rubber production per tree per tapping on the plants with two, three and four rootstocks were not higher compared with the control.

 Keywords: Hevea brasiliensis, rootstocks, immaturity period, growth, dryrubber yield

 Abstrak

Sejak tahun 2005 penggunaan bahan tanam karet berbatang bawah banyak dengan tujuan mempersingkat masa TBM telah berkembang di tingkat petani. Model pembibitan tersebut  terus  berkembang  dan  bibit diperjualbelikan oleh penangkar antara lain di Kabupaten Muara Enim, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Madina, Taput, Provinsi Bengkulu, Aceh, Jambi, Sumatera Barat (Damas Raya dan Solok Selatan). Bahan tanam karet berbatang bawah banyak secara logika akan mendorong pertumbuhan batang karet karena mempunyai banyak akar untuk penyerapan air dan hara. Informasi teknis tentang perkembangan pertumbuhan dan produksi bibit karet berbatang bawah ganda perlu disebarluaskan agar tidak terjadi kekeliruan dikemudian hari. Teknik perbanyakan tanaman berbatang bawah banyak dan pertumbuhannya selama di polibeg telah dilaporkan secara lengkap oleh Siagian pada tahun 2006 dan pada tahun 2010 dilaporkan pertumbuhan tanaman sampai dengan umur 4 tahun di lapangan. Penelitian lanjutan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan, persentase pohon matang sadap pada umur 4,5 tahun dan produksi 3 tahun sadap tanaman karet dilapangan. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih yang disusun menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Setiap unit percobaan menggunakan sebanyak 50 tanaman dan ulangan tiga kali. Faktor pertama yang diuji adalah  jumlah  batang bawah yang disambung/jumlah akar tunggang yaitu dua (S2), tiga (S3), empat (S4) dan kontrol tidak disambung atau hanya satu batang bawah/akar tunggang (S1). Faktor kedua adalah jenis klon yang diokulasikan yaitu klon PB 260 dan klon IRR 118. Dengan demikian terdapat sebanyak 8 kombinasi perlakun. Penanaman di lapangan menggunakan bahan tanam polibeg dua payung, dilakukan pada akhir bulan Mei tahun 2006. Peubah yang diamati adalah produksi karet kering (gram per pohon per sadap), lilit batang pada umur 4,5 tahun dan 7,5 tahun, persentase tanaman yang memenuhi kriteria matang sadap, tebal kulit, jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar hara N, P, K, Mg dan Ca daun pada umur 7,5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa TBM pada tanaman berbatang bawah dua, tiga dan empat hampir setara dengan masa TBM pada tanaman berbatang bawah satu (kontrol), yaitu 4,5 tahun. Penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak (dua, tiga, maupun empat) untuk tujuan mempersingkat masa TBM belum terbukti sebagaimana dianggap sebelumnya. Pengamatan selama 3 tahun sadap menunjukkan bahwa rataan produksi karet kering per pohon per sadap pada tanaman yang berbatang bawah dua, tiga dan empat tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (berbatang bawah satu).

 Kata kunci : Hevea brasiliensis, batang bawah, masa TBM, pertumbuhan, hasil karet kering

 PENGARUH JENIS MATA ENTRES DAN KLON TERHADAP KEBERHASILAN OKULASI DAN PERTUMBUHAN TUNAS PADA OKULASI HIJAU DI POLIBEG

Effect of Bud Types and Clones on Budding Success and Shoot Growth of Green Budding in Polybag

 JUNAIDI, ATMININGSIH dan Nurhawaty SIAGIAN

Abstract

Currently, the propagation of rubber planting materials by direct grafting on young plants grown in the polybag has been developed widely, especially in big estates. The question often asked by planters about kind of suitable buds used for this technique. This research was aimed to determine the effect of different bud types on budding success percentage and shoot growth of green budding. The research was carried out at Experimental Garden of Sungei Putih Research Center based on Factorial Complete Randomized Design with two factors. The first factor was type of clones i.e PB 260 and IRR 118 clone and the second factor was bud types i.e. green leaf bud (GLB), brown leaf bud (BLB), green scale bud (GSB) and brown scale bud (BSB). The results showed that for green budding in polybag, the most appropriate type of bud was the green scale bud (GSB). Despite the high budding success percentage (90.5%), shoots that grew from GSB were relatively small compared with those of the other plants with the other types buds. Therefore maintenance after budding was essentially needed to enhance the growth of shoots. If the number of GSB was not enough, brown scale bud (BSB) and green leaf bud (GLB) could be used for polybag green budding, but it was not ecommended to use the brown leaf bud (BLB).

 Keywords : Hevea brasiliensis, green budding, bud types, budding success, shoots growth

  Abstrak

 Pada saat ini pengadaan bahan tanam karet dengan cara okulasi tanaman muda langsung di polibeg sedang berkembang terutama di perkebunan besar. Pertanyaan yang sering dilontarkan para pekebun adalah jenis mata okulasi apa yang cocok untuk digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis mata okulasi terhadap persentase keberhasilan dan pertumbuhan tunas hasil okulasi hijau di polibeg. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor yaitu jenis klon (PB 260 dan IRR 118) dan jenis mata okulasi yaitu mata daun hijau (MDH), mata daun coklat (MDC), mata sisik hijau (MSH) dan mata sisik coklat (MSC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk okulasi hijau dalam polibeg, jenis mata yang paling sesuai adalah mata sisik hijau (MSH). Meskipun persentase keberhasilannya tinggi (90,5%), tunas yang tumbuh dari MSH relatif lebih kecil dibandingkan dengan jenis mata entres lainnya sehingga pemeliharaan setelah okulasi tumbuh sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan tunas. Pada kondisi MSH tidak mencukupi, okulasi hijau di polibeg dapat dilakukan dengan menggunakan mata sisik coklat (MSC) dan mata daun hijau (MDH) namun tidak dianjurkan menggunakan mata daun coklat (MDC).

Kata kunci : Hevea brasiliensis, okulasi hijau, jenis mata okulasi, persentase keberhasilan okulasi , pertumbuhan tunas.

  POTENSI DAN KOMPATIBILITAS MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR (MVA) DENGAN BIBIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis MUELL Arg.) KLON PB 260

 Potential and Compatibility of Vescular Arbuscular Mycorrhizal (VAM) with PB 260 Rubber (Hevea brasiliensis MUELL Arg.) Clone

 Asmarlaili Sahar HANAFIAH, Afifuddin DALIMUNTHE, dan Nini RAHMAWATI

 Abstract

The research objective was to examine the potential and compatibility of Vesicular Arbuscular Mycorrhizal (VAM) with PB 260 rubber clone still has two leaf whorl, derived from Sungei Putih Research Center at the glass house. The research conducted using a randomized block design non factorial with three replications and eight treatments MVA. Two indigenous rubber isolates VAM and five isolates of VAM from FP USU Soil Biology Laboratory collection and without VAM (Control) were tested in this experiment. VAM spores inoculation in each treatment was carried out by providing as much as 20 spores per polybag around the rubber seedlings rooting. Observations were made after formation of the third whorl of leaves. Observed variables included the degree of root infection by mycorrhizal, P uptake and plant growth. The results showed  that Acaulospora sp 1 (large yellow) and Acaulospora sp 2 (small yellow) had a high adaptability to the rubber plant tested, demonstrated by the high degree of root infection respectively 55% and 48% which was significantly different from other treatments. Similarly for P uptake, plants inoculated with the two isolates had the highest P content, each was 34 mg P and 35 mg P respectively. Both of these isolates were collection of isolates owned by FP USU Laboratory collection. This research time was only 7 weeks, caused the treatment on several variable observed were not significant.

Keywords:VAM, Hevea brasiliensis, compatibility, degree of root infection, P uptake

 Abstrak

            Tujuan penelitian adalah untuk menguji potensi dan kompatibilitas Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) dengan bibit karet (Hevea brasiliensis MUELL Arg.) klon PB 260 yang masih mempunyai daun payung dua, berasal dari Balai Penelitian Sungei Putih di rumah kaca. Uji potensi dan kompatibilitas dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan tiga ulangan, dan delapan perlakuan MVA yaitu dua isolat MVA indigenous karet, lima isolat MVA koleksi laboratorium Biologi Tanah FP USU dan tanpa MVA (kontrol). Diinokulasikan spora MVA sesuai perlakuan dengan memberikan sebanyak 20 spora per polibeg disekitar perakaran bibit tanaman karet. Pengamatan dilakukan setelah terbentuk daun payung tiga. Variabel yang diamati meliputi derajat infeksi akar oleh mikoriza, serapan hara P, dan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari beberapa isolat yang diujikan ternyatata isolat Acaulospora sp 1 (kuning besar) dan  Acaulospora sp 2 (kuning kecil) mempunyai kemampuan beradaptasi yang tinggi dengan bibit tanaman karet yang diujikan, yaitu 55% dan 48% yang berbeda sangat nyata dari perlakuan lain. Untuk serapan unsur hara P, tanaman yang diinokulasi dengan kedua isolat ini mempunyai kandungan P yang tertinggi, masing-masing 34 mg P dan 35 mg P. Kedua isolat ini adalah isolat koleksi Laboratorium FP USU. Masa peneltian uji potensi ini hanya tujuh minggu menyebabkan perlakuan terhadap beberapa variable yagn diamati tidak berpengaruh nyata.

Kata kunci : MVA, karet alam, kompatibilitas, derajat infeksi, serapan P

EFEKTIVITAS BAKTERI ANTAGONIS (Pseudomonas sp.) UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT CABANG JAMUR UPAS (Corticium salmonicolor)

 The Effectiveness of Antagonistic Bacteria (Pseudomonas sp.) as Biological Control of Pink Disease (Corticium salmonicolor)

 Zaida FAIRUZAH, Cici Indriani DALIMUNTHE, dan AIDI-DASLIN

Abstract

 The pink disease on stems and branches of rubber are not as popular as on the leaves or root though the losses caused were higher mainly in the area with high humidity and rainfall. It is important to search for antagonistic microorganism that effectively and efficiently controls pink disease such as Pseudomonas sp bacteria. This research was conducted to affirm the effectiveness of it at field. The research was done by lubricating Pseudomonas sp. to the infected branch with varying degrees of attack. The treatment was applied four times with intervals of one week. The research design used was non factorial randomized block design with 7 treatments consisting of Pseudomonas sp. (without storage,one month storage, two months storage, and three months storage), two kinds of chemical fungicide (Triadimefon and Heksakonazol), and control (without application). Each treatments was repeated three times with 20 plants sampled at each unit. The observations were carried out every months after the fourth applications with observed parameter of recovery percentage. Data were analyzed using analysis of variance and continued with Duncan Test. Three months storage showed the best ability with recovery percentage 80,49%. This was not significantly different from chemically treated even significantly different with controls.

Keywords: Hevea brasiliensis, Pink disease (Corticium salmonicolor), biological control, antagonistic bacteria (Pseudomonas sp.)

Abstrak

Penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor) pada batang dan cabang tanaman karet tidak sepopuler serangan penyakit daun maupun akar meskipun demikian dampak kerugian yang disebabkan oleh kerusakan cabang dan batang cukup tinggi terutama di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi dan kelembaban tinggi. Untuk itu perlu ditemukan mikroorganisme antagonis efektif dan efisien untuk pengendalian penyakit cabang jamur upas seperti bakteri Pseudomonas sp. Oleh karena itu, perlu penegasan mengenai keefektifan dari Pseudomonas sp. tersebut dengan melakukan pengujian kembali. Pengujian dilakukan dengan  cara  mengoleskan Pseudomonas sp. pada cabang yang terserang jamur upas dengan berbagai tingkat serangan. Perlakuan dilakukan sebanyak empat kali dengan interval satu minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 7 perlakuan yang terdiri dari Pseudomonas sp (tanpa penyimpanan, satu bulan penyimpanan, dua bulan penyimpanan, dan tiga bulan penyimpanan), dua macam fungisida kimia (Triadimefon dan Heksakonazol), dan kontrol (tanpa aplikasi). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan 20 tanaman sampel pada setiap unitnya. Pengamatan dilaksanakan setiap bulan setelah aplikasi ke empat dengan parameter persentase kesembuhan penyakit. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pseudomonas sp. dengan penyimpanan selama tiga bulan memiliki kemampuan terbaik mengendalikan penyakit jamur upas di lapangan dengan persentase kesembuhan mencapai 80,49%. Hal ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida kimia tetapi berbeda nyata bila dibandingkan dengan kontrol.

Kata kunci: Karet alam, penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor),pengendalian biologi, bakteri antagonis (Pseudomonas sp.)

PENGARUH ORGANOBENTONIT DAN ASAM STEARAT TERHADAP KARAKTERISTIK PEMATANGAN DAN SIFAT MEKANIK VULKANISAT KARET ALAM

 Effect of Organobentonite and Stearic Acid on Curing Characteristic and Mechanical Properties of Natural Rubber Vulcanizates

 Arief RAMADHAN, Bambang SOEGIJONO, dan M. Irfan FATHURROHMAN

 Abstract

 Organobentonite has been successfully synthesized from natural bentonite with the addition of surfactant. Organobentonite is used as an alternative filler material in natural rubber compound. All compounds were made by using the method of melting compound in the open mill. The results showed that the maximum torque (Smax), max minimum torque (Smin), and torque difference min (Smax–Smin) of natural rubber filled with organobentonite (NR/OB) compound was higher than unfilled natural rubber (NR) and bentonite filled natural rubber (NR/B) compound, which indicated that the crosslink density between the molecules of rubber and sulfur was more created on NR/OB. The use of organobentonite and stearic acid on natural rubber compound accelerated the optimum cure time (t90) and scorch time (ts2) also mechanical properties on NR/OB vulcanizates were increased compared with the mechanical properties of NR and NR/B vulcanizates. Stearic acid use on organobentonite with exsitu method (NR/S-OB) improved the mechanical properties of natural rubber vulcanizates compared with insitu method (NR/OB) and had some better mechanical properties compared with carbon black filled natural rubber (NR/CB) vulcanizates.

 Keywords : Natural  rubber, bentonite, organobentonite, stearic acid, mechanical properties, filler

 Abstrak

 Organobentonit telah berhasil disintesis dari bentonit alam dengan penambahan surfaktan. Organobentonit ini digunakan sebagai alternatif bahan pengisi pada kompon karet alam. Seluruh kompon dibuat dengan menggunakan metode pelelehan kompon di dalam gilingan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa torsi maksimum (Smax), torsi minimum (Smin), dan perbedaan torsi (Smax -Smin) pada kompon karet alam dengan bahan pengisi organobentonit (NR/OB) lebih tinggi daripada kompon karet alam tanpa bahan pengisi (NR) dan kompon karet alam dengan bahan pengisi bentonit (NR/B), yang menunjukkan bahwa derajat ikatan silang antara molekul karet dengan bahan pemvulkanisasi (belerang) semakin banyak terbentuk pada NR/OB. Pemakaian organobentonit dan asam stearat pada kompon karet alam mempercepat waktu kematangan optimum (t90) dan waktu pematangan dini (ts2). Sifat mekanik pada vulkanisat NR/OB juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan sifat mekanik pada vulkanisat NR dan NR/B. Pemakaian asam stearat pada organobentonit secara eksitu (NR/SOB) lebih meningkatkan sifat mekanik vulkanisat karet alam dibandingkan secara insitu (NR/OB) dan memiliki beberapa karakteristik sifat mekanik vulkanisat karet alam yang lebih baik daripada vulkanisat karet alam yang berbahan pengisi carbon black (NR/CB).

Kata kunci: Karet alam, bentonit, organobentonit, asam stearat, sifat mekanik, bahan pengisi

 

PEMBUATAN BAHAN PELUNAK ALAMI UNTUK KOMPON KARET MELALUI REAKSI HIDROGENASI MINYAK JARAK CASTOR

 Preparation of Natural Plasticizer for Rubber Compound by Castor Oil Hydrogenation

 Santi PUSPITASARI dan Adi CIFRIADI

Abstract

 Plasticizer is a chemical substance added to rubber compounding to soften rubber in order to ease the mixing and shorten the compounding time. Modified castor oil has a chance to be developed as natural plasticizer to substitute petroleum-based plasticizer. This research studied the synthesis of natural plasticizer by hydrogenation of castor oil. The research was began with addition of various concentration of N2H4 55% and H2O2 42% to 300 ml castor oil at 25 and 40oC for 7 hours. At the end of the reaction, water was separated. Pure hydrogenated castor oil (HCO) was characterized. The best specification of HCO was then synthesize at higher capacity. The result showed that during the hydrogenation there were changes in temperature, color, fase, foam and gas. Charcterization of HCO indicated that optimum condition reached at concentration of N2H4 55% as 2 M, H2O2 42% as 0.6 M, and 40oC. Based on its iod number, the HCO belonged in the group of hydrogenated vegetable oil as plasticizer Type II.

Keywords : Rubber, plasticizer, castor oil, hydrogenation

 

Abstrak

Bahan pelunak karet merupakan salah satu bahan kimia yang ditambahkan saat pembuatan kompon untuk melunakan karet sehingga memudahkan pencampuran dan mempersingkat waktu pengkomponan. Minyak jarak castor termodifikasi berpeluang dikembangkan sebagai bahan pelunak karet alami yang dapat mensubstitusi bahan pelunak berbasis minyak bumi. Pada penelitian ini dipelajari pembuatan bahan pelunak karet alami dari minyak jarak castor melalui reaksi hidrogenasi. Tahapan dalam penelitian mengikuti alur berikut : 300 ml minyak jarak castor ditambah dengan N2H4 55% dan H2O2 42% pada berbagai konsentrasi setelah tercapai suhu reaksi  (25oC dan 40 oC ) selama 7 jam. Pada akhir reaksi, air yang terbentuk dipisahkan dari minyak jarak castor terhidrogenasi. Minyak jarak castor terhidrogenasi bebas air kemudian dikarakterisasi. Minyak jarak castor terhidrogenasi dengan spesifikasi terbaik selanjutnya disintesis pada skala yang lebih besar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa selama reaksi terjadi perubahan suhu warna dan fasa, serta timbul buih dan gas. Karakterisasi minyak jarak castor  terhidrogenasi mengindikasikan bahwa kondisi optimal reaksi hidrogenasi diperoleh pada konsentrasi N2H4 55% sebesar 2M, H2O2 42% sebesar 0,6M, dan suhu reaksi 40oC. Berdasarkan nilai bilangan iod, minyak jarak castor terhidrogenasi tersebut termasuk dalam bahan pelunak dari golongan minyak nabati terhidrogenasi Tipe II.

 Kata kunci : Karet, bahan pelunak, minyak jarak castor, hidrogenasi


KARAKTERISASI MINYAK JARAK TERHIDROGENASI SEBAGAI BAHAN PELUNAK KARET ALAMI

 Characterization of Hydrogenated Castor Oil as Natural Plasticizer for Rubber Compound

 Santi PUSPITASARI dan Adi CIFRIADI

Abstract

 Hydrogenated castor oil (HCO) is expected as bio-based rubber plasticizer. Plasticizer must have good compatibility with rubber in order to achieve high mixing effectiveness. This research studied the performance and effect of HCO plasticizer in SIR 20 and EPDM 6250 rubber compound. HCO dosages were determined as 10 and 20 phr. The research was begun with rubber compounding, vulcanization and mechanical properties testing. The result showed that addition of HCO could reduce time and energy of compounding also weight loss procentage. Effect of hydrogenated castor oil on curing charactistic was highly marked in modulus decrease as a result of rubber molecule chain breakdown. Hydrogenated castor oil reduced hardness, tensile strength, and compression set but increase elongation of break and tear strength of SIR 20 and EPDM 6250 vulcanizate. Thus, hydrogenated castor oil can be used as bio-based rubber plasticizer especially on EPDM rubber compounding.

 Keywords : Castor oil, rubber plasticizer, SIR 20, EPDM

 Abstrak

 Minyak jarak castor terhidrogenasi diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan pelunak karet alami. Bahan pelunak harus memiliki kesesuaian yang baik dengan karet agar diperoleh efektifitas pencampuran yang tinggi. Percobaan ini akan mempelajari kinerja dan pengaruh minyak jarak castor terhidrogenasi sebagai bahan pelunak karet alami pada pembuatan kompon karet SIR 20 dan EPDM 6250 terhadap karakteristik vulkanisasi kompon dan sifat fisika vulkanisat karet. Dosis bahan pelunak ditetapkan 10 dan 20 bsk. Kinerja minyak jarak castor terhidrogenasi dibandingkan dengan bahan pelunak komersial golongan parafinik yaitu HVI 60 dan HVI 650. Tahapan dalam percobaan diawali dengan pembuatan kompon, kemudian vulkanisasi kompon dan pengujian sifat mekanik vulkanisat karet. Saat pembuatan kompon dilakukan pengamatan terhadap waktu dan konsumsi energi pengkomponan serta persentase kehilangan berat kompon. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan minyak jarak castor terhidrogenasi mampu menurunkan waktu dan energi pengkomponan serta persentase kehilangan berat kompon. Pengaruh minyak jarak castor terhidrogenasi pada karakteristik vulkanisasi sangat tampak pada penurunan modulus torsi sebagai akibat terputusnya rantai molekul karet. Penambahan minyak jarak castor terhidrogenasi juga menurunkan kekerasan, kekuatan tarik, dan pampatan tetap tetapi meningkatkan perpanjangan putus dan kekuatan sobek baik vulkanisat karet SIR 20 maupun EPDM 6250. Dengan demikian minyak jarak castor terhidrogenasi dapat digunakan sebagai bahan pelunak karet alami terutama dalam pembuatan kompon karet sintetik EPDM.

Kata kunci : Minyak jarak castor, bahan pelunak karet, SIR 20, EPDM

PENGARUH BERBAGAI JENIS PENGGUMPAL PADAT TERHADAP MUTU KOAGULUM DAN VULKANISAT KARET ALAM

 Effect of Various Type of Solid Coagulants on the Quality of Coagulum and Vulcanized Natural Rubber

 Hani HANDAYANI

Abstract

Quality of raw rubber material is low and varies because the unavailability of proper coagulant to farmer level. Use proper coagulant to produce good quality rubber is not fully carried out.This research studied the influence of various solid coagulants on quality of coagulum and vulcanized natural rubber. Coagulant was added to preserved latex (7 g/kg dry rubber). The coagulum was allowed for two weeks, then milled and dried at 100°C for   2-3 hours. Chemical properties of dry rubber was tested. Further, the rubber was made into ASTM 2A vulcanizate. The rubber compounds were tested its vulcanization characteristic and the vulcanizate were tested its mechanical properties. Formic acid was used as a comparison. The results showed that the use of organic acids and salts as solid coagulant has advantages and disadvantages of each. The combination of an acid with an inorganic salt is expected to give better results so as the quality of rubber will increases.

 Keywords : Natural rubber, coagulant, vulcanizate, rubber good

 Abstrak

Mutu bahan olah karet masih rendah dan bervariasi akibat tidak tersedianya koagulan yang baik sampai ke tingkat petani. Penggunaan koagulan yang tepat untuk menghasilkan bokar bermutu baik masih belum sepenuhnya dilakukan akibat belum tersedianya koagulan yang mudah didistribusikan, kompetitif dari segi harga, dan tidak merusak mutu karet. Penelitian ini mempelajari pengaruh berbagai jenis penggumpal padat terhadap mutu koagulum dan vulkanisat karet alam. Bahan penggumpal ditambahkan ke dalam lateks kebun berpengawet ammonia pada dosis 7g/kg karet. Lateks yang telah diberi perlakuan dibiarkan menggumpal selama dua minggu, selanjutnya karet digiling dan dikeringkan dalam oven pada suhu 100°C selama 2-3 jam. Karet kering diuji sifat kimianya (PRI, kadar kotoran, kadar abu, dan kadar zat menguap), setelah itu dibuat vulkanisat dengan resep kompon ASTM 2A. Kompon karet diuji karakteristik vulkanisasinya dengan rheometer, kemudian vulkanisat diuji sifat mekanik (kekuatan tarik, perpanjangan putus, modulus 300% dan kekerasan). Sebagai pembanding digunakan asam format. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan asam organik dan garam anorganik sebagai bahan penggumpal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kombinasi antara bahan asam dengan garam anorganik diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik sehingga mutu bahan olah karet akan meningkat.

Kata kunci : Karet alam, bahan penggumpal,vulkanisat, barang jadi

 DEPOLIMERISASI KARET ALAM SECARA MEKANIS UNTUK BAHAN ADITIF ASPAL

Mechanically Depolimerization of Natural Rubber for Asphalt Additive Material

Henry PRASTANTO

 Abstract

 Natural rubber is a potential natural polymer for asphalt additive material to subtitute imported sinthetics polymer, but in high viscosity at dry form is difficult to mix with asphalt.This research was to study the effect of depolimerization of natural rubber to the mixing process, melting point and penetration rate of asphalt. The depolimerization process was carried out by using laboratory two roll-mill with diameter 14 cm and length 35 cm. Depolimerized natural rubber was added in to asphalt of 3%, 5% and 7% by weight of asphalt at 160°C then compared with unload asphalt as control, followed by testing of melting point and penetration rate of samples.The results showed that depolimerization for 24 minutes decreased molecular weight indicated by decreasing of Mooney viscosity, from 58,7 became 6,7 ML(1+4)100°C. Mechanically depolimerized natural rubber for 24 minutes with 3% concentration in asphalt decreased mixing time form 660 minutes to 50 minutes and melting point increased from 51°C became 56,5°C, while the penetration rate decreased from 55 dmm became 40 dmm.

Keywords: Mechanically depolimerization, dry rubber, asphalt, melting point, penetration

 Abstrak

 Karet alam yang merupakan polimer alami berpotensi digunakan sebagai bahan aditif aspal pengganti polimer sintetis impor, namun viskositas yang tinggi pada karet alam fasa padatan tergolong sulit untuk dicampurkan ke dalam aspal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh depolimerisasi karet alam terhadap proses pencampuran, titik lembek dan penetrasi aspal. Proses depolimerisasi dilakukan dengan menggunakan open mill skala laboratorium dengan diameter 14 cm dan panjang 35 cm. Karet terdepolimerisasi yang ditambahkan ke dalam aspal sebanyak 3%, 5%, dan 7% dengan sampel kontrol adalah aspal murni, dilanjutkan dengan pengujian titik lembek dan penetrasi sampel. Hasil penelitian menunjukkan proses depolimerisasi secara mekanis selama 24 menit dapat menurunkan berat molekul karet alam yang ditandai dengan penurunan viskositas Mooney karet dari 58 , 7 men jadi 6,7ML(1+4)100°C). Karet alam terdepolimerisasi secara mekanis selama 24 menit dengan konsentrasi karet dalam aspal 3% dapat menurunkan waktu pencampuran dari 660 menit menjadi 50 menit dan titik lembek aspal  modifikasi yang dihasilkan bertambah dari 51°C menjadi 56,5°C, sedangkan penetrasi aspal polimer yang dihasilkan turun dari 55 dmm menjadi 40 dmm.

 Kata kunci: Depolimerisasi mekanis, karet mentah padat, aspal, titik lembek, penetrasi