Harga karet di tingkat petani : 8.000,- s.d. 10.000,- Rp/kg basah

Category Archives: Ringkasan Jurnal

Jurnal Penelitian Karet Vol. 31, No. 1, Thn. 2013

KARAKTER FISIOLOGI, ANATOMI, PERTUMBUHAN DAN HASIL LATEKS  KLON IRR SERI 300

 Characters of Physiology, Anatomy, Growth and Latex Yield of IRR 300 Series

Sekar WOELAN, SAYURANDI dan Syarifah Aini PASARIBU

Abstract

Characters of physiology, bark anatomy, growth and latex yield are important parameters to select superior rubber clones. The objective of the research was to find out  charactercs of physiology, bark anatomy, growth and latex yield of IRR 300 series rubber clone. The research was conducted at Experimental Garden and Physiology Laboratory  of Sungei Putih Research Centre in 2011. The research used as many as 21 clones of IRR 300 series and three control clones (PB 260, RRIC 100, and BPM 24)  aged 12 years. The research result showed that latex physiology characters (sucrose content, inorganic phosphate content, tiol content, length of  tapping panel, plugging index, latex  flow rate, and yield index ) were  significantly different among tested  the clones. Also, anatomy characters (number of  latex vessels  and diameter of latex vessel),  growth characters (girth and bark thickness) and latex yield showed significant differences  among the tested clones. The correlation analysis result showed that plugging index, yield index, girth, bark thickness, number of latex vessels and diameter of latex vessel had significant correlation with latex yield, while length of tapping panel, latex inorganic flow rate, sucrose content, thiol content, inorganic phosphate content, and dry rubber content were not significantly correlated with latex yield.

Keywords : Hevea brasiliensis, IRR 300 series, correlation, latex physiology, bark anatomy, growth, latex yield

Abstrak

Karakter fisiologi, anatomi kulit, pertumbuhan dan produksi karet merupakan parameter penting di dalam seleksi klon karet unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter fisiologi lateks, anatomi, pertumbuhan dan produksi lateks klon IRR seri 300. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Fisiologi Balai Penelitian Sungei Putih pada tahun 2011. Klon yang diuji dalam penelitian ini yaitu sebanyak 21 klon IRR seri 300 dengan 3 klon pembanding (PB 260, RRIC 100, BPM 24) pada umur 12 tahun. Penelitian ini disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan.  Dari hasil penelitian menunjukkan  bahwa,  karakter fisiologi  lateks (kadar sukrosa, kadar fosfat anorganik, kadar tiol, panjang alur sadap, indeks penyumbatan, kecepatan aliran lateks, dan indeks produksi) memiliki perbedaan nyata diantara klon yang diuji. Demikian juga dengan karakter anatomi  (jumlah pembuluh lateks dan diameter pembuluh lateks), pertumbuhan (lilit batang, tebal kulit) dan produksi lateks menunjukkan  adanya perbedaan yang nyata. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa indeks penyumbatan, indeks produksi, lilit batang, tebal kulit, jumlah  pembuluh lateks, dan diameter pembuluh lateks mempunyai korelasi cukup nyata terhadap hasil lateks, sedangkan panjang alur sadap, kecepatan aliran lateks, kadar sukrosa, kadar tiol, kadar fosfat anorganik, dan kadar karet kering tidak berkorelasi nyata terhadap hasil lateks.

Kata kunci : Hevea brasiliensis, IRR seri 300, korelasi, fisiologi lateks, anatomi kulit,  pertumbuhan, produksi lateks

 

PENGARUH JUVENILITAS ENTRES TERHADAP KARAKTER TUNAS BIBIT OKULASI DINI TANAMAN KARET

 Effects of Budwood Juvenility on Shoot Caharacters of  Early Rubber Budding

 Lestari ADMOJO, Nur Eko PRASETYO, Elya AFIFAH, dan Hananto HADI

 Abstract

In general, performance of rubber clones are not always the same as their ortet despite their similar genetic constitution. This condition is due to the buds used in clone propagation does not show any juvenility type. Juvenility improvement of rubber materials could be made by using juvenile buds grafted on young stock plants. This research attempted to know the effect of juvenile buds on shoot characters of rubber early budding. The research was arranged in a complete randomized design with two types of buds (juvenile and mature types). Each treatment consisted of three replications, each replication used 10 plants. Two types of budwoods of clone IRR 112 (primary budwood as a source of juvenile type and quartet branch as a mature types) were used. The buds were then grafted on 2.5 month – old root stocks. Observation was made on shoot characters viz. shoot length on first and second whorl, shot angle, and fresh and dry weight ratio of shoot root. The results showed that all of shoot characters were significant different except for fresh and dry weight ratio of shoot root. Shoot of plants with first and second whorls of juvenile budding indicated longer compared with those of mature budding. Shoot angle of juvenile budding looked narrower than mature budding. The value of fresh and dry weight of shoot root of juvenile budding was heavier than that of mature budding. However, the ratio of fresh and dry weight of both treatments did not show any significant differences.

keywords: Hevea brasiliensis, juvenility, juvenile budding, budwood, shoot characters, rubber clone, early budding

 Abstrak

Secara umum, keturunan klonal dari tanaman karet belum tentu menunjukkan performa sesuai dengan ortetnya meskipun sifat genetisnya sama. Hal tersebut terjadi karena entres yang digunakan sebagai sumber batang atas pada perbanyakan klonal tidak lagi memperlihatkan tipe juvenil. Perbaikan juvenilitas bibit antara lain bisa diupayakan melalui penggunaan entres tipe juvenil yang diokulasikan pada batang bawah usia dini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh juvenilitas entres terhadap karakter tunas bibit okulasi dini. Penelitian disusun secara RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 2 perlakuan entres (tipe juvenil dan tipe dewasa). Setiap perlakuan terdiri atas 3 ulangan, dengan masing-masing ulangan menggunakan 10 tanaman. Jenis entres yang digunakan yaitu cabang primer usia muda sebagai sumber mata tunas tipe juvenil dan wiwilan cabang tersier sebagai sumber mata tunas tipe dewasa klon IRR 112. Entres selanjutnya diokulasikan pada batang bawah usia 2,5 bulan. Pengamatan dilakukan pada karakter tunas, yaitu panjang tunas payung I dan payung II, sudut tunas, bobot basah dan bobot kering tajuk-akar, dan rasionya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter tunas bibit okulasi dini dari kedua perlakuan menunjukkan beda nyata kecuali rasio bobot basah dan bobot kering tajuk-akar. Karakter tunas payung I dan payung II bibit asal mata tunas cabang primer (Juvenile Budding atau JB) nyata lebih panjang dari bibit asal mata tunas cabang wiwilan (Mature Budding atau MB). Sudut tunas bibit JB nyata lebih kecil dari bibit MB. Bobot basah dan bobot kering tajuk-akar bibit JB nyata lebih besar dibandingkan bibit MB. Adapun rasio bobot basah dan bobot kering tajuk akar kedua perlakuan tidak berbeda nyata.

Kata kunci: Hevea brasiliensis, juvenile budding, entres, okulasi dini, klon karet, karakter tunas

PENGGUNAAN LINDI HITAM SEBAGAI BAHAN PELUNAK DALAM KOMPON KARET ALAM

  Use of Black Liquor as Plasticizer in Natural Rubber Compounds

 Adi CIFRIADI

 Abstract

Physical properties and curing charachteristics of natural rubber compound containing black liquor and than FTIR Spectrometry analysis of black liquor were studied to evaluate its suitability as plasticizer. Aromatic oil was used as a reference plasticizer. The plasticizer of black liquor was made based on a type of basic material and the number of its solid content. The result of characterization on black liquor by FTIR spectrometry concluded that the functional groups attached to the molecule of black liquor and  the result of interpretation FTIR spectra of black liquor indicated consists of aromatic rings in structure, -OH, -C-O, and -C=O groups. Base on the curing characteristic, rubber compound containing black liquor processed as plasticizer with or without treatment of NH4OH and NaOH had optimum cure time (t90) and faster scorch time (ts2)  compared with the reference plasticizer (minarex). Physical properties of vulcanizate showed that vulcanizate containing black liquor processed as plasticizer without treatment of basic material and containing 60% of solid content has similar performance to vulcanizate containing reference plasticizer.

Key words : Black liquor, plasticizer, natural rubber compound, vulcanizate

 

Abstrak

Sifat fisika vulkanisat dan karakteristik kematangan kompon karet alam yang mengandung lindi hitam dan analisis spektrometri FTIR dari lindi hitam telah dikaji untuk mengevaluasi penggunaan lindi hitam sebagai bahan pelunak. Bahan pelunak jenis aromatik digunakan sebagai bahan pelunak kontrol. Bahan pelunak dari lindi hitam dibuat dengan perlakuan berdasarkan jenis bahan pembasa yang ditambahkan pada lindi hitam serta jumlah kadar padatannya. Hasil pengujian spektrometri FTIR dapat menyimpulkan gugus fungsi yang terikat pada struktur molekul lindi hitam dan hasil interpretasi spektra FTIR menunjukkan bahwa lindi hitam mengandung senyawa cincin aromatik pada struktur molekulnya dan mengandung gugus fungsi –OH, -C-O, serta –C=O. Berdasarkan hasil pengujian karakteristik kematangan kompon menunjukkan bahwa kompon karet yang mengandung bahan pelunak lindi hitam tanpa perlakuan ataupun dengan perlakukan penambahan bahan pembasa NH4OH dan NaOH memiliki waktu masak optimum (t90) dan waktu scorch (t2) yang lebih cepat dari pada kompon karet yang mengandung bahan pelunak kontrol (minarex).  Hasil pengujian sifat fisika vulkanisat menunjukkan bahwa vulkanisat yang mengandung lindi hitam tanpa perlakuan penambahan bahan pembasa dengan kadar padatan sebesar 60%  memiliki kinerja yang setara dengan vulkanisat yang mengandung bahan pelunak kontrol.

Kata kunci : lindi hitam, bahan pelunak, kompon karet alam, vulkanisat

SIMULASI PENETAPAN KARAKTERISTIK PENGERINGAN SEMPROT LATEKS BERDASARKAN TEKNIK KOMPUTASI DINAMIKA FLUIDA

Simulation of Spray Drying Characteristic Determination of Latex Based on Computational Fluid Dynamic Technique

Afrizal VACHLEPI, Didin SUWARDINdan A. Zainal ABIDIN

 Abstract

 The purpose of this research was to study the characteristics of natural rubber latex drying process with a unit spray dryer using computational fluid dynamic (CFD) technique approach. The research activities included the determination of CFD model to describe the spray drying system, boundary condition of simulation, operation parameters, and drying simulation. The treatment variations of latex water content were 65%, 70%, 75%, and 80%. While the variations of drying air temperatures consisted of  140°C, 150°C, 160°C, 170°C, and 180°C. The research concluded that latex water content and drying air temperature affected the drying process depending on air-particle velocity, drying time, particle diameter, product water content, and temperature changes in the air-particles. CFD simulations predicted that the particle diameter of final product was around 130-135 micrometer with water contents of 0.32 – 0.58%. Temperatures of final product left drying chamber were around 37 – 54°C.

Keywords: latex, simulation, spray drying

 

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik proses pengeringan lateks karet alam dengan alat pengering semprot menggunakan pendekatan teknik komputasi dinamika fluida (computational fluid dynamic/CFD). Kegiatan penelitian ini meliputi penentuan model CFD untuk menggambarkan sistem pengeringan semprot, penentuan kondisi batas simulasi, penentuan parameter operasi, dan simulasi pengeringan. Variasi perlakuan berupa kadar air lateks terdiri atas 65%, 70%, 75%, dan 80%, sedangkan suhu udara pengering terdiri atas 140°C, 150°C, 160°C, 170°C, dan 180°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air lateks dan suhu udara pengering berpengaruh terhadap proses pengeringan yang dipengaruhi oleh kecepatan udara-partikel, waktu pengeringan, diameter partikel, kadar air produk, dan perubahan suhu udara-partikel. Simulasi CFD memprediksi diameter partikel produk akhir sekitar 130-135 micrometer dengan kadar air sekitar 0,32 – 0,58%. Suhu produk akhir yang keluar dari ruang pengering adalah sekitar 37 – 54°C.

Kata kunci: lateks, simulasi, pengeringan semprot

 

SIFAT DINAMIK MEKANIKAL VULKANISAT KARET ALAM-ORGANOCLAY

Dynamic Mechanical Properties of NR-OrganoclayVulcanizates

M. Irfan FATHURROHMAN, Bambang SOEGIJONO, Emil BUDIANTO, Koji YONEDA

Abstract

Dynamic and swelling properties of natural rubber (NR) vulcanizates filled organoclays with different of d-spacing were studied. Dynamic properties were determined by using Dynamic Mechanical Thermal Analyzer (DMTA). The results show that organoclay with higher d-spacing (15A) produced intercalation/exfoliation structure in NR matrix, so it increased dynamic mechanical and swelling properties. Storage modulus under Tg and upper Tg increased with increasing d-spacing of organoclay. Also, organoclay decreased tan δ dan tg of  Organoclay 15A in NR vulcanizates could decrease swelling value and coefficient of diffusion, sorptivity and permeability it also improved crosslink density of NR/organoclay 15A and elasticity vulcanizate.   

Keywords:  Natural rubber, dynamic mechanical properties,  organoclay

 

Abstrak

Sifat dinamik dan swelling vulkanisat karet alam (NR) yang mengandung bahan pengisi organoclay dengan basal spasi yang berbeda telah dipelajari. Vulkanisat NR/organoclay dibuat dengan menggunakan metode pelelehan kompon di dalam gilingan terbuka. Sifat dinamik diukur dengan menggunakan Dynamic Mechanical Thermal Analyzer (DMTA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan organoclay dengan basal spasi lebih besar (15A) menghasilkan struktur interkalasi/eksfoliasi di dalam matrik karet alam sehingga sifat dinamik mekanikal dan swelling menjadi lebih baik. Storage modulus di bawah Tg dan di atas Tg meningkat dengan peningkatan basal spasi organoclay. Adanya organoclayjuga menyebabkan penurunan tan δ dan Tg vulkanisat, terutama organoclay 15A. Organoclay 15A di dalam vulkanisat karet alam dapat menurunkan nilai swelling dan koefisien difusi, sorptivitas serta permeabilitas. Derajat ikatan silang dari NR/organoclay 15A sedikit lebih besar dan memperbaiki sifat elastis vulkanisat.

Kata kunci: Sifat dinamik mekanikal, karet alam, organoclay

 

KAJIAN KELEMBAGAAN DAN KEMITRAAN PEMASARAN KAYU KARET DI PROPINSI SUMATERA SELATAN

Study on Institutions and Partnership in Rubberwood Marketing in South Sumatra Province

Dwi Shinta AGUSTINA, Lina Fatayati SYARIFA, dan Cicilia NANCY

 Abstract

In South Sumatra,  several  partnership patterns between smallholders and rubber wood processing factories has been developed. This study aimed to analyze the institutional marketing of rubber wood, its constraints and efforts to optimize rubber wood processing factories. This study was conducted by survey method. The results showed that the source of rubber wood for industry was mostly derived from smallholders (74%) and the rest (26%) from big estates. As many as 68% of smallholders who had replanted their rubber plants sold the rubber wood to the processing factories either through suppliers  (73%) or directly to the factories (27%). The partnership patterns that had been conducted  by factories were to give capital support to rubber nursery operators to help smallholders who needed rubber planting materials and to help smallholders directly with rubber planting materials by calculating the price of rubber wood after wards. Road access from field to the factories and administrative system for selling rubber wood had been constraints on rubber wood marketing. Licences to sell wood from cultivated plants should be simplified. The infrastructure (roads) from  the rubber planting area to the rubber processing factories should be improved in order to keep the sustainability of rubber wood industry.

Keywords: Hevea brasiliensis, rubberwood, institution, marketing, partnership

 Abstrak

Di Provinsi Sumatera Selatan berkembang beberapa pola kemitraan antara petani dengan pabrik pengolahan kayu karet. Penelitian bertujuan melihat pola kelembagaan pemasaran kayu karet di Provinsi Sumatera Selatan, kendala dan upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan kayu karet serta kemitraan yang terjadi antara pabrik kayu karet dengan petani. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa sumber kayu karet untuk industri saat ini sebagian besar (74%) berasal dari perkebunan rakyat dan 26% dari perkebunan besar. Sebanyak 68% petani yang meremajakan kebun karetnya sudah menjual kayu karet ke industri pengolahan kayu baik melalui supplier (73%) maupun menjual langsung ke pabrik (27%). Pola kemitraan yang sudah dilaksanakan oleh pabrik di antaranya memberikan bantuan modal kepada penangkar untuk diberikan kepada petani yang membutuhkan bibit karet, dan membantu petani yang membutuhkan bibit karet dengan memperhitungkan harga kayu. Akses jalan kebun serta sistem kelengkapan administrasi bagi penjualan kayu karet masih menjadi kendala dalam pemasaran kayu karet. Perlu penyederhanaan perizinan untuk pemasaran kayu yang berasal dari tanaman budidaya seperti karet serta perbaikan sarana jalan menuju kebun untuk menjaga keberlangsungan industri kayu karet.

Kata Kunci: Hevea brasiliensis, kayu karet, kelembagaan, pemasaran, kemitraan,

 

POTENSI KAYU HASIL PEREMAJAAN KARET RAKYAT UNTUK MEMASOK INDUSTRI KAYU KARET

Studi Kasus di Provinsi Sumatera Selatan

Potential  Rubberwood  of  Smallholders’ Replanting to Supply Timber Industry (Case Study in South Sumatera Province)

 Cicilia NANCY, Dwi Shinta AGUSTINA, dan Lina Fatayati SYARIFA

Abstract

Rubberwood As renewable product could be used to substitute natural forest wood. As the second largest natural rubber producing country after Thailand, Indonesia has not utilized the potential of rubberwood sources. The aim of this study was to determine the potential of rubberwood and its availability to supply timber industry in South Sumatra Province. The result of this study showed that potential of rubberwood in South Sumatra Province per year was about 1.7 million m3 or 1.1 million tonnes.  Actual production of eight rubberwood factories in South Sumatra showed that of rubberwood that had been processed was only 18% of the available rubberwood. When viewed from the source, around 74% of raw material came from smallholders. Some efforts should be made to maximize utilization of rubberwood from smallholder replanting area.

Keywords: rubberwood, replanting, smallholder

 

Abstrak

Kayu karet yang bersifat terbarukan (renewable) dapat dimanfaatkan untuk mensubstitusi kayu hutan alam. Sebagai negara produsen karet terbesar kedua setelah Thailand, Indonesia belum memanfaatkan potensi kayu karet yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi  kayu karet yang ada serta ketersediaannya untuk memasok industri kayu di Provinsi Sumatera Selatan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa setiap tahun di tingkat Provinsi Sumatera Selatan, potensi kayu karet mencapai 1,7  juta m3 atau 1,1 juta  ton. Produksi aktual kayu karet olahan yang dihasilkan oleh delapan pabrik kayu karet di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa potensi kayu  karet  yang dimanfaatkan hanya 18% dari potensi kayu karet yang ada. Dilihat dari asal bahan baku, sebanyak 74% bahan baku berasal dari perkebunan karet rakyat. Perlu upaya-upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan kayu hasil peremajaan karet petani.

Kata kunci: kayu karet, peremajaan, perkebunan rakyat

 

Jurnal Penelitian Karet Vol. 30, No. 2, Thn. 2012

EVALUASI PENGUJIAN LANJUTAN KLON KARET IRR SERI 120-140

Further Trial Evaluation of IRR 120-140 Series Rubber Clones

AIDI-DASLIN

Abstrak

Activities of breeding program and rubber selection have been conducted in phases, starting from progenies selection, promotion plot and preliminary trials, then followed by further and adaptation trials. In preliminary trials, some potential genotypes as latex yielding with good secondary characteristics were obtained. In order to get more information, 17 selected genotypes derived from preliminary trial and registered as clones IRR 120-140 were tested in further trial in Sungei Putih Experimental Garden. The trial was conducted 1997 and arranged in a randomized block design. Observation were made on the following parameters: dry rubber yield twice a month, girth size starting two years old, bark thickness and latex flow, attack intensity of Colletotrichum, Oidium, Corynespora leaf fall diseases and other characters. The results showed that clones IRR 132 and IRR 133 indicated best performance as latex yielders with good secondary characters. Average dry rubber yield (kg/ha/yr) over eight tapping years showed that clone IRR 132 (2,088 kg) and IRR 133 (2,006 kg) was 15-20%  higher than PB 260 (1,739 kg). Girth size at four years old ranged from 42.8 to 43.6 cm with increment before tapping 7.1 – 10.9 cm/yr and after tapping 3.0 – 3.8 cm/yr. Average virgin bark thickness was 6.5 – 6.7 mm, classified as resistant to Colletotrichum, Oidium, and Corynespora leaf fall diseased. Clones IRR 131 and IRR 140 were promising to develop as timber and latex yielders (wood volume total 0.99 – 1.03 m3/tree), dry rubber yield of both clones (kg/ha/yr) ranged from 1,610 to 1,638 kg.

Keywords : Hevea brasiliensis, further trial, clones of IRR 120-140 series

Abstrak

Program pemuliaan dan seleksi tanaman karet dilakukan secara bertahap dari mulai seleksi progeni, uji plot promosi dan pendahuluan serta uji lanjutan dan adaptasi. Dari hasil uji pendahuluan telah dihasilkan beberapa genotipe yang potensial sebagai penghasil lateks serta memiliki sifat-sifat sekunder penting yang baik. Untuk mendapatkan informasi yang lebih luas, sebanyak 17 genotipe terpilih dari uji pendahuluan yang diregistrasi menjadi klon IRR seri 120 – 140 diuji pada tahan lanjutan di lokasi kebun percobaan Sungei Putih. Percobaan dibangun pada tahun 1997, menggunakan rancangan acak kelompok. Pengamatan dilakukan terhadap parameter berikut : produksi karet kering dua kali sebulan, lilit batang mulai umur dua tahun, tebal kulit murni dan jaringan pembuluh lateks pada umur lima tahun, fisiologi aliran lateks, intensitas serangan penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora serta karakter sekunder lainnya. Dari hasil evaluasi, IRR 132 dan IRR 133 merupakan klon yang memiliki penampilan terbaik sebagai klon penghasil lateks dan memiliki sifat sekunder yang baik. Rata-rata produksi karet kering (kg/ha/th) selama delapan tahun penyadapan menunjukkan bahwa klon IRR 132 (2.088 kg) dan IRR 133 (2.006 kg), 15-20% lebih tinggi daripada PB 260 (1.739 kg). Ukuran lilit batang pada umur empat tahun berkisar 42,8-43,6 cm dengan rata-rata pertambahan sebelum penyadapan 7,1 – 10,9 cm/th dan setelah penyadapan 3,0 – 3,8 cm/th. Rata-rata tebal kulit murni berkisar 6,5-6,7 mm, tergolong resisten terhadap penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora. Klon IRR 131 dan IRR 140 sesuai dikembangkan sebagai penghasil lateks dan kayu (volume kayu total 0,99-1,03 m3/ph), dengan produksi karet kering kg/ha/th berkisar 1.610-1.638 kg.

Kata kunci: Hevea brasiliensis, pengujian lanjutan, klon IRR seri 120-140

OPTIMASI PRODUKSI KLON IRR SERI 200 DENGAN MENGGUNAKAN BEBERAPA SISTEM SADAP DI PENGUJIAN PLOT PROMOSI

Optimizing Yield IRR 200 Series using Some Tapping Systems in Plot Promotion Trial

Sekar Woelan, Junaidi dan Syarifah Aini Pasaribu

Abstract

A research was conducted  to find out yield potency of  IRR 200 series clones using some tapping systems. Beside optimizing yield, the results of this research could also be used for clone classification. The research was conducted in Promising Plot Trial at Sungei Putih Research Center, Deli Serdang, North Sumatra, from 2004 to 2011. The research location was at an elevation of around 54 m with ultisol soil type. Material used in this research was 1 % best genotypes of IRR 200 series (PP/03/96) planted in 1995. There were 21 clones of IRR 200 series were tested. The control clones were BPM  24, PB 217 and PB 260. The tapping systems used were S/2 d2 and S/2 d3.ET2.5% Ga1 18/y(2w) (Apr-Dec) from 2004 to 2008, then continued with double cut S/2 d3+S/4Ud3.ET2.5% Ba1(1.5) 18/y(2w) (Apr-Dec) from 2009 to 2011. The results of observation indicated that nince clones of IRR 200 eries  (IRR 200, IRR 202, IRR 207, IRR 209, IRR 210, IRR 215, IRR 218, IRR 209) had more vigorous growth compared with control clones viz. average girth : 73.6 cm and girth increment 2.14 cm/yr. Consequently, these clones could be tapping in about 3.5 years a number of eight clones showed higher yield potency at S/2 d2 and S/3 d3.ET2.5% Ga1 18/y(2w) (Apr – Dec), viz. IRR 202, IRR 205, IRR 207, IRR 208, IRR 213, IRR 214 and IRR 220. These eight clones showed potency as superior new clones. Classification of IRR 200 series based on clone tipology showed that IRR 202, IRR 208, IRR 210, and IRR 220 as quick starter due to their high metabolism and less response to stimulant, while IRR 213 and IRR 214 as slow stater due to their low metabolism and response to stimulant. Further research until one cycle was suggested to find out comprehensive data and complete clone characters with analysis of latex diagnosis.

Keywords : Hevea brasiliensis, IRR 200 series clones, yield potency, quick starter, slow starter

Abstrak

Suatu pengujian dilakukan untuk mengetahui potensi produksi masing-msing klon IRR seri 200 melalui penerapan beberapa sistem sadap. Di samping untuk mengoptimalkan produksi, hasil pengujian ini juga berguna sebagai salah satu pertimbangan dalam pengelompokan klon nantinya. Pengujian dilaksanakan pada areal pengujian plot promosi di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, Deli Serdang-Sumatera Utara mulai tahun 2004 sampai tahun 2011. Lokasi pengujian berada pada ketinggian sekitar 54 m di atas permukaan laut (dpl) dengan jenis tanah Ultisol. Material yang digunakan dalam pengujian ini adalah 1% genotipe erbaik dari klon IRR seri 200 (PP/03/96) tahun tanam 1995. Sejumlah 21 klon IRR seri 200 diuji dan 3 klon pembanding masing-masing BPM 24, PB 217 dan PB 260. Sistem yang diuji cobakan adalah S/2 d2 dan S/2 d3.ET2.5% Ga1 18/y(2w) (Apr-Des) pada tahun 2004 – 2008 dan dilanjutkan dengan sistem sadap ganda S/2 d3+S/4U d3. ET2.5% Ba1(1.5) 18/y(2w) (Apr – Des) pada tahun 2009-2011. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat sembilan klon IRR seri 200 (IRR 200, IRR 202, IRR 207, IRR 209, IRR 210, IRR 215, IRR 218, IRR 219) yang memiliki pertumbuhan lilit batang lebih jagur dari ketiga klon pembanding sehingga potensial dapat disadap pada umur sekitar 3,5 tahun dengan rata-rata lilit batang sebesar 73,6 cm dan rata-rata laju pertambahan lilit batang sebesar 2,14 cm/tahun. Hasil pengamatan terhadap produktivitas tanaman menunjukkan terdapat delapan klon yang memiliki potensi produksi tinggi pada sistem sadap S/2 d2 dan S/3 d3.ET2.5%Ga1 18/y(2w) (Apr-Des) yaitu IRR 202, IRR 205, IRR 207, IRR 208, IRR 213, IRR 214 dan IRR 220. Kedelapan klon tersebut berpotensi sebagai klon unggul baru. Pengelompokan klon IRR seri 200 berdasarkan tipologi klon menunjukkan bahwa klon IRR 202, IRR 208, IRR 210, dan IRR 220 cenderung sebagai klon quick starter karena memiliki metabolisme tinggi dan kurang responsif terhadap pemberian stimulan, sedangkan IRR 213 dan IRR 214 cenderung sebagai klon slow starter karena memiliki metabolisme rendah dan lebih responsif terhadap pemberian stimulan. Disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan sampai satu siklus tanaman (20 tahun sadap) dan dilengkapi dengan data analisis diagnosis lateks.

Kata kunci: Hevea brasiliensis, IRR seri 200, potensi produksi, quick starter, slow starter

ANALISIS KERAGAMAN GENETIK ISOLAT Corynespora cassiicola  (Berk & Curt) WEI. DI INDONESIA MENGGUNAKAN MARKER ISSR (INTER SIMPLE SEQUENCE REPEAT)

Genetic Variability Analysis of CoryneSPORA cassiicola (Berk & Curt) Wei. Isolates in Indonesia using ISSR (Inter Simple Sequence Repeat) Markers

Misbakhul Munir, Heru Suryaningtyas, dan Kuswanhadi

Abstract

Corynespora Leaf Fall Disease caused by Corynespora cassiicola (Berk & Curt) Wei is one of most important diseases in rubber plantation. It is noted that Hevea clones have become more susceptible to the disease and the susceptibility to the pathogen varies in different geographic regions. The problem may occur because of the evolution of pathogen that can generate new races with more virulent nature. Thus, the information on the inherent variability of the pathogen is really needed. A research was done to find out the genetic diversity, and infection severity of Corynespora isolates. The material used in this research was material used in this research was Corynespora cassiicola isolates from Lampung, Bengkulu, South Sumatera, Jambi, North Sumatera, West Kalimantan, and Central Java. The procedurs of this research were isolates preparation, the DNA extraction performed using modified CTAB method PCR  analysis, using ISSR and data analyis made using UPGMA in NTSYS computer program. The results of genetic diversity analisis on isolates of Corynespora cassiicola obtained from seven rubber central areas in Indonesia by using ISSR markers produced four groups (4 races) of C. cassiicola, group A (Race 1) the isolates from Bengkulu; group A (Race 1) the isolates from Bengkulu; group B (Race 2) covering isolates from Lampung and North Sumatera; group C (Race 3) covering isolates from West Kalimantan; South Sumatera and Jambi; and group D (Race 4) the isolates from Central Java. The detached leaf assay’s results showed that Corynespora isolates residing in the same group based on the results of genetic analysis also had the same infection (pathogenicity) on rubber leaves. Isolates from Central Java (CJT) showed the highest average rate of  infection (pathogenicity) compared with the other isolates. The lowest infections rate of the seven isolates was found in clones RRIM 712 and IRR 5, whereas the highest one was in BPM  24 and PR 255 clones.


Keywords : Hevea brasiliensis, genetic variability analysis, Corynespora cassiicola, ISSR

Abstrak

Penyakit Gugur Daun Corynespora  yang disebabkan oleh patogen Corynespora cassiicola (Berk & Curt) Wei., merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet (Hevea brasiliensis). Klon-klon karet yang semula bersifat moderat terhadap serangan jamur ini, setelah beberapa tahun menjadi rentan dan terserang hebat. Hal tersebut diduga karena evolusi patogen menghasilkan ras baru yang lebih merusak. Oleh karena itu, informasi yang berkaitan dengan variabilitas patogen sangat diperlukan. Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui keragaman genetik, kekerabatan dan tingkat infeksi isolate C. cassiicola. Bahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah isolat Corynespora cassiicola dari tujuh daerah sentra perkebunan karet Indoneia yaitu Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Jawa Tengah. Prosedur kerja dalam penelitian ini meliputi penyiapan kultur isolat, ekstraksi DNA Corynespora cassiicola menggunakan metode modifikasi CTAB,  analisis PCR dengan analisis data menggunakan UPGMA dalam program NTSYS, dan uji kelayuan daun menggunakan metode Nghia. Hasil analisis keragaman genetik isolat Corynespora cassiicola asal tujuh wilayah sentra karet di Indonesia menggunakan marker ISSR menghasilkan empat kelompok (4 ras) C. cassiicola, kelompok A (Ras 1) yaitu isolat asal Bengkulu, kelompok B (Ras 2) meliputi isolat asal Lampung dan Sumatera Utara, kelompok C (Ras 3) meliputi isolat asal Kalimantan Barat, Sumatera Selatan dan Jambi, dan kelompok D (Ras 4) yaitu isolat asal Jawa Tengah. Hasil uji kelayuan daun menunjukkan bahwa isolat-isolat Corynespora yang berada pada kelompok yang sama berdasarkan hasil analisis genetik, juga mempunyai tingkat infeksi (patogenitas) yang sama terhadap beberapa daun karet yang diuji. Isolat asal Jawa tengah (CJT) mempunyai rata-rata tingkat infeksi (patogenitas) tertinggi dibanding isolat yang lainnya. Tingkat infeksi terendah dari tujuh isolat adalah pada klon RRIM 712 dan IRR 5, sedangkan tertinggi terdapat pada klon BPM 24 dan PR 255.

 Kata kunci :         Hevea brasiliensis, analisis keragaman genetik, Cory-nespora cassiicola, ISSR

PENGARUH PENGGUNAAN STIMULAN GAS TERHADAP PRODUKSI DAN KARAKTER FISIOLOGI KLON BPM 24


Effect of Gas Stimulation on Production and Phyisology Characters of BPM 24 Clone

Eva Herlinawati dan Kuswanhadi

Abstract


Ethepon or ethylene gas stimulation has been widely used by rubber plantation to increase production of latex. The mechanism of stimulant with ethephon active ingredient in rubber plant is by decomposing the stimulatnt into ethylene, hydrochloric acid, and phosphoric acid. Ethephon stimulation has an indirect effect, viz. production increase for less than 50%. Whereas, gas stimulant can be directly absorbed by the tree with large quantities and result in higher production compared with ethephon. The aim of this experiment was to study the effect of frequency of gas stimulant on production, physiology characters, vegetative growth, and sensitivity to panel dryness. The right and optimum frequency of stimulant will increase productivity without negative effect on latex cell methabolism. The experiment was carried out at Sembawa Research Station from October 2010 until September 2011. The experiment was arranged in a randomized complete-block design with five treatments and four replications, using BPM 24 clones 13 years old planted in 1997. The tapping of trees have been done since 2002 with tapping system S/2 d3 ET2.5% 10/y (m). The treatments were S/4 U d3 6d/7 ETG 40/y (w), S/4 U d3 6d/7 ETG 20/y (2w), S/4 U d3 6d/7 ETG 10/y (m), S/4 U d3 6d/7 ET2.5% 40/y (w), and S/4 U d3 6d/7 ET2.5% 20/y (2w). The result showed that optimum frequency of gas stimulant could increase production about 66.1% – 76.2% when compared with ethephon S/4 U d3 6d/7 ET2.5% 20/y (2w). Based on the observation of the production, physiological condition and plant health, gas filling into the applicator was every two weeks and the panel was changed every three months to avoid decline in production due to “exhaustion” of panel tapping.

Keywords: Hevea brasiliensis, latex tapping system, gas stimulation, production, physiological condition, ethylene, ethephon

Abstrak

 Penggunaan stimulan seperti etefon atau gas etilen telah banyak diterapkan terutama pada perkebunan karet untuk meningkatkan produksi lateks. Mekanisme kerja stimulan yang berbahan aktif etefon dalam tanaman karet yakni terdekomposisi menjadi etilen, asam hidroklorit, dan asam fosfat. Stimulan dengan bahan aktif etefon berpengaruh tidak langsung, peningkatan produksi hanya mencapai kurang dari 50%. Sementara itu stimulan dengan bahan aktif berupa gas etilen diabsorbi langsung oleh batang tanaman karet dengan jumlah yang lebih banyak dan memberikan produksi yang lebih tinggi dibanding etefon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi sistem stimulan gas terhadap produksi, karakter fisiologi, pertumbuhan vegetatif, dan kepekaan terhadap kering alur sadap. Frekuensi stimulan yang tepat dan optimum akan memberikan produksi tinggi, tanpa menimbulkan efek negatif terhadap metabolisme sel lateks. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa mulai Oktober 2010 sampai September 2011. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan sistem sadap  dan empat ulangan, menggunakan klon BPM 24 tahun tanam 1997 berumur 13 tahun. Penyadapan telah dilakukan sejak 2002 dengan sistem sadap S/2 d3 ET2,5% 10/y(m). Perlakuan antara lain S/4 U d3 6d/7 ETG 40/y (w), S/4 U d3 6d/7 ETG 20/y (2w), S/4 U d3 6d/7 ETG 10/y (m), S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 40/y (w), dan S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 20/y (2w). Hasil penelitian menunjukkan dengan frekuensi stimulan gas yang tepat diharapkan produksi tanaman karet dapat ditingkatkan tanpa menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan tanaman. Stimulan gas dapat meningkatkan produksi sebesar 66,1-76,2% dibanding stimulan etefon S/4 U d3 6d/7 ET2,5% 20/y (2w). Berdasarkan hasil pengamatan terhadap produksi, kondisi fisiologis, dan kesehatan tanaman, pengisian gas ke dalam aplikator dilakukan setiap 2 minggu dan panel dipindahkan setiap 3 bulan untuk menghindari menurunnya produksi akibat “kelelahan” panel sadap.

 

Kata kunci :         Hevea brasiliensis, lateks,  sistem sadap, stimulan gas, produksi, kondisi fisiologis, etilen, etefon

 

PENGUJIAN MUTU KRITEX SP SEBAGAI PENGGUMPAL LATEKS

 Quality Test of Kritex SP as a Latex Coagulant

 Mauritz SIMANJUNTAK, BACHTIAR, dan Arief RACHMAWAN

 Abstract

Most of field latex for raw rubber is coagulated before further processing. Recommended latex coagulant is formic acid. Because of relatively expensive and difficult to obtain, most farmers rarely use formic acid as latex coagulant. They prefer to choose unrecommended coagulant such as TSP and SP fertilizer or other materials. This has resulted in decreasing rubber quality. The objective of this experiment was to conduct a quality test of Kritex SP, a new latex coagulant containing inorganic acid, compared with formic acid as the control. The experiment was conducted at laboratory scale to test the quality of crepe coagulated using Kritex SP, and at factory scale for Ribbed Smoked Sheet processing test. The parameters observed were time of coagulation, quality of dried rubber and physical properties of vulcanizate of crepe and RSS. The results showed that coagulation time of latex coagulated with 2.50% Kritex SP at 25 minutes was significantly different compared with 7.50% Kritex SP at 18 minutes, but it was not significantly different from 5% Kritex SP and the control at 22.33 minutes. Kritex SP’s coagulum is softer and smoother compared with that coagulated with formic acid. Technical specification and physical properties of crepe coagulated using Kritex SP were not significantly different compared with those of control. The optimal concentration of Kritex SP for RSS processing (2.35 ml/liter) was higher than that of formic acid for RSS processing of 1.90 ml/liter. The size of sheet coagulated using Kritex SP was longer and thiner than the control. All technical specifications and physical properties of RSS coagulated with Kritex SP were not significantly different compared with the control, except the PRI which was lower (83.50%) than  the control (86%).

 Keywords : Kritex SP, latex coagulant, inorganic acid

Abstrak

Hampir seluruh lateks kebun untuk produk karet ekspor harus digumpalkan sebelum diproses lanjut. Bahan penggumpal lateks yang selama ini dianjurkan adalah asam format. Dengan alasan harga yang relatif mahal dan ketersediaan yang sulit diperoleh, sebagian besar petani karet jarang menggunakan asam format dan lebih memilih menggunakan penggumpal yang tidak dianjurkan seperti pupuk SP dan TSP. Ini berakibat menurunkan kualitas karet. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian terhadap kualitas Kritex SP (penggumpal alternatif berbahan aktif asam anorganik) dalam menggumpalkan lateks dan membandingkannya dengan asam format sebagai kontrol. Percobaan dilakukan pada skala laboratorium untuk mengetahui mutu krep, dan pada skala pabrik untuk mengetahui pengolahan RSS menggunakan penggumpal Kritex SP. Parameter yang diamati meliputi waktu koagulasi, spesifikasi teknis, dan sifat fisika vulkanisat krep maupun RSS. Hasil percobaan menunjukkan bahwa lama penggumpalan lateks kebun dengan larutan 2,50% Kritex SP (25 menit) berbeda nyata dengan lama penggumpalan larutan 7,50% Kritex SP (18 menit), tetapi tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan lama penggumpalan larutan 5% Kritex SP (20,33 menit) dan larutan kontrol (22,33 menit). Koagulum yang dihasilkan dengan penggumpal Kritex SP bersifat lebih lembut dan lunak dibandingkan koagulum dari asam format. Spesifikasi teknis dan sifat fisika vulkanisat krep dari Kritex SP tidak berbeda nyata dengan krep dari asam format. Dosis Kritex SP yang diperlukan dalam pengolahan RSS (2,35 ml/liter lateks) lebih tinggi dibanding-kan dosis asam format (1,90 ml/liter lateks). Lembaran sit basah hasil penggumpalan Kritex SP berukuran lebih panjang, lebih tipis dan kurang lebar dibandingkan sit asam format. Spesifikasi teknis dan sifat fisika vulkanisat RSS dari Kritex SP tidak berbeda nyata dengan asam format, kecuali parameter PRI yang lebih rendah (83,50%) dibandingkan kontrol (86%).

 Kata kunci: Kritex SP, penggumpal lateks, asam anorganik