Segenap Karyawan Balai Penelitian Sungei Putih Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1435 H

Category Archives: Ringkasan Jurnal

Jurnal Penelitian Karet Vol. 31, No. 2, Thn. 2013

KETAHANAN GENETIK BERBAGAI KLON KARET INTRODUKSI TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN

Genetic Resistance of the Introduced Rubber Clones to Leaf Fall Diseases

AIDI-DASLIN

Abstract

  Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides and Oidium heveae leaf fall diseases on diseases on rubber plant are major disease causing reduction estate productivity significantly. Many cases of the disease attack have been found widely in natural rubber producing countries such as Indonesia, Malaysia, Thailand, Sri Lanka, India and some other countries in Africa. Field and laboratory studies using leaf disc method were conducted to know the resistance level of some introduction clones to leaf fall diseases of rubber. The research was arranged in a completely randomized design with three replications and twenty treatments with of clones. The tested of introduced clones consisted of clones from Malaysia (PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 359, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937), Sri Lanka (RRIC 100, RRIC 102, RRIC 110), and India (RRII 105, RRII 176). The results showed that there were significant differences of clones resistance to pathogens of C. cassiicola, C. gloeosporioides and O. Heveae. The clone resistance level to C. gloeosporioides was classified as resistant (RRIC 100), moderately resistant (PB 254, PB 260, PB 312, PB 314, PB 340, PB 366, RRIM 911, RRIM 921, RRIC 102), moderate (PB 330, PB 350, PB 359, RRIM 901, RRIM 908, RRIC 110, RRII 105, RRII 176), and moderately susceptible (PB 217, RRIM 937). It was noted that no resistant clones to O. Heveae, while the moderately resistant clone were PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 350, PB 359, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 100, RRIC 110, RRII 105 RRII 176, the moderate clones were PB 330, PB 366, RRIM 901, RRIC 102 and the moderately susceptible clone was PB 340. The clones reistance level to C. cassiicola was classified as resistant were PB 260 and RRIC 100, moderately resistant (PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 102, RRIC 110, RRII 105, RRII 176) and moderate (PB 359, RRIM 911). The resistant clones could be used in rubber breeding program to produce high latex yielding rubber clones and resistant to leaf fall diseases.

Keywords : Hevea brasiliensis, clone resistance, Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae

 

Abstrak

   Penyakit gugur daun Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides dan Oidium heveae pada karet merupakan penyakit utama yang secara signifikan menurunkan produktivitas kebun. Serangan yang luas penyakit gugur daun tersebut banyak terjadi di berbagai negara penghasil karet alam seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Sri Langka, India dan beberapa negara lain di Afrika. Penelitian lapangan dan laboratorium dengan metode uji cakram dilakukan untuk mengetahui tingkat resistensi beberapa klon introduksi terhadap penyakit gugur daun karet, menggunakan rancangan acak lengkap, tiga ulangan dan 20 perlakuan (klon). Klon introduksi yang diuji terdiri dari klon asal Malaysia PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 359, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937, asal Sri Langka RRIC 100, RRIC 102, RRIC 110, dan asal  India RRII 105, RRII 176. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan resistensi klon yang diuji terhadap patogen dari C. cassiicola, C. gloeosporioides dan O. Heveae. Klon yang tergolong resisten terhadap C. gloeosporioides  adalah RRIC 100, moderat resisten PB 254, PB 260, PB 312, PB 314, PB 340, PB 366, RRIM 911, RRIM 921, RRIC 102, moderat PB 330, PB 350, PB 359, RRIM 901, RRIM 908, RRIC 110, RRII 105, RRII 176, dan moderat rentan PB 217, RRIM 937. Tidak ada klon yang diuji tergolong resisten terhadap  O. heveae, sedangkan yang tergolong moderat resisten adalah PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 350, PB 359, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 100, RRIC 110, RRII 105, RRII 176,  moderat PB 330, PB 366, RRIM 901, RRIC 102 dan moderat rentan PB 340. Klon yang tergolong resisten terhadap C. cassiicola adalah PB 260 dan RRIC 100, moderat resisten PB 217, PB 254, PB 312,  PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 102, RRIC 110, RRII 105, RRII 176 dan moderat PB 359, RRIM 911. Klon-klon yang resisten dapat dikembangkan dalam program pemuliaan karet untuk merakit klon unggul penghasil lateks tinggi dan tahan penyakit gugur daun.

Kata kunci : Hevea brasiliensis, resisten klon, Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae

 

PENILAIAN BEBERAPA SISTEM EVALUASI LAHAN YANG TELAH EKSISTING UNTUK TANAMAN KARET

The Assesment of Existing Land Evaluation Systems for Rubber Plantation

Priyo Adi Nugroho dan Istianto

Abstract

  For a successful agribusiness development one of the technical requirements is land suitability that needed prior evaluation before making any decision about rubber plantation. Some of these evaluation systems have been developed locally in Indonesia including Indonesian Rubber Research Institute by Pangudijatno in 1983 (GP), Subiyanto in 1987 (SG), Sugiyanto et al. in 1998 (SE) and Thomas in 2008 (TW). The current research compared these land evaluation systems based on secondary data obtained from Indonesian Rubber Research Institute (IRRI) in eight locations across the country, consist of five land evaluation systems four from IRRI and one developed by Indonesian Rubber Research Institute (IRRI) in eight locations across the country, consist of five land evaluation systems four from IRRI and one developed by Indonesian Soil and Agro Climate Research Institute in 1997 (PT). The correlation test result of PT vs. GP and PT vs. TW showed that moderate correlation with coefficient 0.27 and 0.44 respectively. Strong level correlation reported in PT vs. SG, PT vs. SE, GP vs. SE, GP vs. TW and SE vs. SG with coefficient correlation 0.54, 0.63, 0.63, 0.72 and 0.73 respectively. The correlation test in SG vs GP., TW vs. SG and TW vs. SE showed very strong correlation with coefficient 0.76, 0.77 and 0.82 in all. The significant test applied to correlation test among five land evaluation systems where GP vs. SG, SG vs. TW and SE vs. TW which display significant variance (P<5%).

Keywords: Hevea brasiliensis, existing land evaluation, correlation

Abstrak

  Keberhasilan pengembangan agri-bisnis karet ditentukan oleh persyaratan teknis yaitu kesesuaian lahan yang sangat dibutuhkan sebelum pengambilan keputusan. Beberapa sistem evaluasi lahan telah dikembangkan Pusat Penelitian Karet diantaranya oleh Pangudijatno tahun 1983 (GP), Sugiyanto tahun 1987 (SG), Sugiyanto et al. tahun 1998 (SE) dan Thomas Wijaya tahun 2008 (TW). Penelitian ini membandingkan beberapa sistem evaluasi lahan berdasarkan data sekunder dari Pusat Penelitian Karet pada delapan lokasi di seluruh Indonesia. Sistem yang dibandingkan terdiri dari lima sistem empat diantaranya yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Karet dan satu dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat yang dikembangkan pada tahun 1997 (PT). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa PT vs. GP dan PT vs. TW menunjukkan korelasi sedang dengan nilai koefisien 0,27 dan 0,44. Korelasi yang kuat terjadi pada PT vs. SG, PT vs. SE, GP vs. SE, GP vs. TW dan SE vs. SG dengan koefisien korelasi berturut-turut 0,54; 0,63; 0,63; 0,72 dan 0,73. Uji korelasi antara SG vs. GP, TW vs. SG dan TW vs. SE menunjukkan korelasi yang sangat kuat dengan nilai koefisien 0,76, 0,77 dan 0,82. Dari seluruh uji korelasi antar beberapa sistem tersebut hanya uji korelasi GP vs SG, SG vs TW dan SE vs TW yang menunjukkan hasil yang signifikan (P < 5%).

Kata kunci: Hevea brasiliensis, evaluasi lahan eksisting, korelasi

ALTERNATIF SISTEM SADAP KLON RRIC 100 MULAI BUKA SADAP

Alternative Tapping Systems for RRIC 100 Clone from the Opening

Eva Herlinawati dan Kuswanhadi

Abstract

  Etephon or gas  stimulant is commonly used in rubber cultivation especially in commercial estates. The use of stimulation should be associated with reduction of tapping intensity by shortening the cut length. The purpose of this study was to compare and evaluate the effects of various tapping systems on production and physiology characters in the opening. The experiment was carried out in the experimental field of Sembawa Research Station from March to December 2011. The experiment was arranged in a completely randomized block design with six treatments and eight replications. The experiment used RRIC 100 clone planted in 2004. The treatments were S/2 d3, S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y (m), S/2 d3 ET2.5% Ga1 24/y (2w), Sc20 U d3 ETG 12/y (m), Sc20 U d3 ETG 24/y (2w), and Sc20 U d3 ET2.5% Ba1 24/y(2w). The results showed that the tapping system of S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y (m) or Sc20 U d3 ETG 12/y(m) could increase production without negative effect on physiological characters. However, the application of gas stimulant on young trees should consider the risk of tapping panel dryness. Since the upward tapping tends to cause a thicker-bark cut and latex spillage over the groove, the tapper should be well trained.

Keywords: Tapping system, RRIC 100, opening, ethylene, ethephon, short tapping, tas stimulation

 Abstrak

  Stimulan etefon atau gas telah umum digunakan pada perkebunan, khususnya di perkebunan besar. Penggunaan stimulan harus dikombinasian dengan penurunan intensitas penyadapan melalui pengurangan panjang irisan sadap. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dan mengevaluasi pengaruh berbagai sistem sadap terhadap produksi dan parameter fisiologi sejak buka sadap. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa mulai Maret sampai Desember 2011. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan sistem sadap dan 8 ulangan, menggunakan klon RRIC 100 tahun tanam 2004. Perlakuan antara lain S/2 d3, S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y (m), S/2 d3 ET2.5% Ga1 24/y (2w), Sc20 U d3 ETG 12/y (m), Sc20 U d3 ETG 24/y (2w), dan Sc20 U d3 ET2.5% Ba1 24/y(2w). Hasil penelitian menunjukkan sistem sadap S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y(m) or Sc20 U d3 ETG 12/y(m) mampu meningkatkan produksi tanpa menimbulkan pengaruh negatif terhadap karakter fisiologi. Namun demikian penggunaan stimulan gas pada tanaman muda perlu pertimbangan risiko kering alur sadap. Penyadapan ke arah atas memiliki kecenderungan lebih tebal dalam konsumsi kulit dan tumpahnya lateks dari alur sadap, karena itu penyadap sebaiknya dilatih dengan baik.

Kata kunci: Sistem sadap, RRIC 100, bukan sadap, etilen, etefon, irisan pendek, stimulan gas

AKTIVITAS METABOLISME BEBERAPA KLON KARET PADA BERBAGAI

FREKUNSI SADAP DAN STIMULASI

Metabolic Activity of Several Rubber Clones at Different Tapping frequencies and Stimulation

Eva Herlinawati dan Kuswanhadi

Abstract

  Stimulation is an important part in the exploitation system of rubber trees to increase production. The emergence of many clones requires knowledge of the relationship between the production of latex and physological conditions to optimize stimulation, thus the exploitation systems applied are not over or under exploitation. The purpose of this study was to compare the metabolic activity of PB 260, RRIM 600and PB 217 clones at various tapping frequencies and stimulation. The experiment was carried out in the experimental field of Sembawa Research Centre from April 2010 until March 2012. The experimental design was a completely randomized block design with five tapping systems and three replications. The experiment used PB 260, RRIM 600, and PB 217 clones planted in 2004. The results showed that the quick starter clones with low sucrose content and high inorganic phosphorous such as PB 260, only required wounding to activate cell metabolism. Also, it did not need stimulation with high frequency to increase production. The function of stimulation in quick starter clones reduce the latex stimulation in quick starter clones reduce the latex stimulation in quick starter clones reduce the latex flow disturbance, whereas RRIM 600 and PB 217 clones required stimulation to activate cell metabolism. Optimum frequencies of stimulation for RRIM 600 and PB 217 clones were 12/y and 24/y, respectively.

Keywords: Hevea brasiliensis, clone, tapping system, ethephon, production, physological conditions

 

Abstrak

  Stimulasi merupakan bagian penting dalam sistem eksploitasi tanamn karet untuk meningkatkan produksi. Munculnya banyak klon menuntut pengetahuan mengenai hubungan antara produksi lateks dengan kondisi fisiologis tanaman untuk mengoptimalkan penggunaan stimulan, sehingga sistem eksploitasi yang diterapkan tidak mengalami over atau under eksploitasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metabolisme klon PB 260, RRIM 600, dan PB 217 pada berbagai frekuensi sadap maupun stimulasi. Penelitian dilaksanakan Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa mulai April 2010 sampai Maret 2012 dengan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan sistem sadap dan 3 ulangan, menggunakan klon PB 260, RRIM 600, dan PB 217 tahun tanam 2004. Hasil penelitian menunjukkan klon berproduksi tinggi (quick starter) dengan kandungan sukrosa rendah dan fosfat anorganik tinggi sperti PB 260, hanya membutuhkan pelukaan (wounding) untuk mengaktifkan metabolisme sel lateks, tidak membutuhkan stimulan dengan frekuensi yang tinggi untuk meningkatkan produksi. Stimulasi pada klon berproduksi tinggi hanya berfungsi untuk mengurangi adanya hambatan aliran. Sementara klon RRIM 600 dan PB 217 membutuhkan stimulan untuk mengaktifkan metabolisme sel lateks. Frekuensi stimulasi optimal untuk RRIM 600 dan PB 217  masing-masing adalah 12/y dan 24/y.

Kata kunci: Hevea brasiliensis, klon, sistem sadap, etefon, produksi, kondisi fisiologis

 PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN

UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

Stimulation Application on Early Tapping to Enhance Production of IRR 39 Clone

Island Boerhendhy

Abstract

  One of the superior clones in the period of 2010-2014 which has been developed recently is IRR 39 clone. The clone belongs to the group of latex-timber clones with low initial production. An effort made to overcome that weakness is to apply stimulant treatment on early tapping. This article aimed was to provide information on the effect of stimulant application on the early tapping on the production of IRR 39 clone. This trial was conducted at Sembawa Experimental Garden using a randomized completely block design with five treatments and two replications. Application of stimulant since the early tapping had proven that all the treatments of stimulant could increase the production of IRR 39(g/t/t) as much as 164%-181% of the control. Yield (kg/ha/yr) of S/2 d4 + Ethrel  2% and S/2 d4+Ethrel 2,5% treatments were lower because the number of tapping days was less than the control. The increaed dry rubber yield (kg/ha/year) for 7 years’ ovservation was found in S/2 d3 + Ethrel 2,5% (136% towards the control) and S/2 d3+Ethrel 2% (123% towards the control). The treatment S/2 d3 + Ethrel 2,5% gave the highest result compared with the other treatments. It was noted that application of stimulant at the beginning of tapping on IRR 39 clone had no negative effects on the growth of girth and bark renewal, dry rubber content as well as tapping panel dryness.

Keywords: Hevea brasiliensis, stimulant, early tapping, yield, IRR 39 clone

Abstrak

  Salah satu klon unggul dalam periode 2010-2014 yang banyak dikembangkan saat ini adalah klon IRR 39. Klon IRR 39 tergolong ke dalam kelompok klon penghasil lateks kayu dengan produksi awal rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut adalah dengan memberikan perlakuan stimulan sejak awal penyadapan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang bagaimana pengaruh penggunaan stimulan sejak awal penyadapan untuk peningkatan produksi klon IRR 39.  Klon IRR 39 tergolong ke dalam kelompok klon penghasil lateks kayu dengan produksi awal rendah. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut adalah dengan memberikan perlakuan stimulan sejak awal penyadapan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang bagaimana pengaruh penggunaan stimulan sejak awal penyadapan untuk peningkatan produksi klon IRR 39. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan aplikasi stimulan dan dua ulangan. Pemberian stimulan sejak awal penyadapan terbukti dapat meningkatkan produksi (g/p/s) dari 164 181% terhadap kontrol. Perlakuan S/2 d4 + Ethrel 2% dan S/2 d4 + Ethrel 2,5 % menghasilkan produksi (kg/ha/th) lebih rendah karena jumah hari sadap yang lebih sedikit dibanding kontrol. Peningkatan produksi karet kering (kg/ha/th) selama 7 tahun pengamatan terdapat pada perlakuan S/2 d3 + Ethrel 2,5% (136% terhadap kontrol) dan S/2 d3 + Ethrel 2% (123% terhadap kontrol). Perlakuan S/2 d3 + Ethrel 2,5% memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Penggunaan stimulan sejak awal sadap ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan lilit batng, pertumbuhan kulit pulihan, kadar karet kering, dan kekeringan alur sadap klon IRR 39.

Kata kunci : Hevea brasiliensis, stimulan, awal penyadapan, hasil, klon IRR 39

 ISOLASI DAN KARAKTERISASI GEN SITRAT SINTASE BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DARI FILOSFER Hevea brasiliensis Muell. Arg.

Isolation and Characterizaiton of Citrat Synthase Gene of Pseudomonas aeruginosa isolated from Hevea brasiliensis Phylosphere

Radite Tistama, Utut Widyastuti, Suharsono

Abstract

  Pseudomonas aeruginosa is a major of rhizosphere bacteria which has many useful characters for agriculture and environment. The bacteria secrete organic acid which help release phosphor and protect plant root from aluminium toxicity. Citrate is a major organic acid secreted by Pseudomonas in the soil. Citrate showed higher affinity to aluminium and provide higher phosphorus than that of the other organic acid. The organic acid is synthesized from a reaction between oxaloacetate and acetyl CoA, catalysed by citrate synthase in the Kreb cycle. The research was conducted to isolate and characterize citrate synthase (CS) of Pseudomonas aeruginosa which had been isolated from rubber tree leaf surface. Specific primer for CS gene was designed based on CS gene sequences of some bacteria which were kept in Genebank. The primer was used to amplify CS gene by using PCF machine. The CS gene was successfully isolated from phylosphere bacterium Pseudomonas aeruginosa. Pseudomonas aeruginosa CS gene (PaCS) consisted of 1287 bp and coded 428 amino acid. The PaCS had high similarity is amino acid and hidrophosity with the other bacteria CS gene and it might have similarity in enzyme activities.

Keywords: Citrate synthase, Pseudomonas aeruginosa, Hevea brasiliensis

Abstrak

  Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri utama di dalam rizosfer yang mempunyai sifat-sifat yang dapat dimanfaatkan di dalam pertanian dan lingkunga. Bakteri tersebut mensekresikan asam organik yang dapat melepaskan fosfor dan melindungi akar dari keracunan aluminium. Sitrat merupakan asam organik yang dominan disekresikan oleh Pseudomonas di dalam tanah. Sitrat menunjukkan afinitas terhadap aluminium dan menyediakan fosfor yang lebih tinggi dibandingkan asam organik lainnya. Asam organik ini disintesis dari sebua reaksi antara aksaloasetat dan asetil KoA, dikatalisis oleh sitrat sintase (CS) di dalam siklus Kreb. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi sitrat sitnase dari Pseudomonas aeruginosa yang telah diisolasi dari permukaan daun tanamn karet. Primer spesifik untuk gen CS didesain berdasarkan sekuen gen sitrat sintase beberapa bakteri yang disimpan di Genbank. Primer tersebut digunakan untuk mengamplifikasi gen CS dengan menggunakan mesin PCR. Gen CS telah berhasil diisolasi dari bakteri filosfere Pseudomonas aeruginosa. Gen CS Pseudomonas aeruginosa (PaCS) tersebut terdiri atas 1287 pb danmenyandikan 428 asam amino. PaCS mempunyai kesamaan asam amino yang tinggi dan hidrofobisitas dengan CS bakteri lainnya dan diduga mempunyai persamaan aktivitas enzim.

Kata kunci: Sitrat sintase, Pseudomonas aeruginosa, Hevea brasiliensis

 EVALUASI PENGOLAHAN DAN MUTU BAHAN OLAH KARET RAKYAT (BOKAR) DI TINGKAT PETANI KARET DI SUMATERA SELATAN

Evaluation of Processing and Quality of Raw Rubber Material at Smallholder’s Level in South Sumatra

Lina Fatayati Syarifa, Dwi Shinta Agustina, dan Cicilia Nancy

Abstract

  The study was conducted to evaluate the enforcement of government regulations to processing and quality of raw rubber material at smallholderl level. This study was conducted by survey method. Selection of location was made purposively by selecting the central areas of rubber. Data were collected by Focus Group Discussion (FGD) method involving village officers. The farmers were then interviewed and followed by visual observation of rubber quality at smallholder level. The survey results showed that the enforcement of the Regulation of Agriculture Minister and the Regulation of Trade Minister had not been done widely at smallholder level, because marketing agencies still accepted the low quality raw rubber material produced by farmers. The problems of rubber processing and marketing that caused the low quality of raw rubber material and the low of farmers’ income were still found in Musi Rawas and Lubuk Linggau Regencies. Serious attention was needed to solve the problems.

Keywords: Raw rubber material, quality, processing, smallholder

Abstrak

  Penelitian dilakukan untuk meng-evaluasi penerapan peraturan-peraturan pemerintah terhadap sistem pengolahan dan mutu bokar di tingkat petani. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan memilih sampel secara purposive, yaitu daerah-daerah yang merupakan sentra karet. Pengambilan data dilakukan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perangkat-perangkat desa dan diikuti wawancara dengan petani dan pengamatan visual terhadap mutu bokar yang dihasilkan petani. Hasil survei menunjukkan bahwa penerapan Permentan dan Permendag belum dilaksanakan sepenuhnya di tingkat petani. Hal ini dikarenakan peraturan dari lembaga pemasaran yang belum tegas untuk menolak bokar mutu rendah yang dihasilkan petani. Permasalahan pengolahan dan pemasaran karet yang menyebabkan rendahnya mutu bokar dan pendapatan petani masih banyak terjadi di Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuk Linggau yang masih memerlukan perhatian serius.

Kata kunci: Bokar, mutu, pengolahan, petani karet

PEMANFAATAN HASIL PIROLISIS LIMBAH BAN BEKAS SEBAGAI

BAHAN PELUNAK UNTUK PEMBUATAN BARANG JADI KARET

Utilization of Pyrolysis Product from Used Tyre Waste as Plasticizer for Rubber Goods Manufacturing

Asron F. Falaah, Adi Cifriadi dan Dadi R Maspanger

Abstract

  The  negative impact of increasing car tyre production is the abundance of used tyre waste. As an effort to utilize used tyre waste, a research on conversion of it into plasticizer for rubber goods by pyrolysis process had been carried out. Pyrolysis was done at a temperature of 400°C – 500°C for 2-3 hours, resulting in liquid pirolizates with value of specific gravity of 1,0139, kinematic viscosity at 210°F about 7.063 cst, pour point -6°C and flash point 156.5°C. Pyrolizate used to experiment by 5, 7, and 10 bsk as plasticizer on vulcanizate, it is compared to vulcanizate with commercial plasticizer as control. The result of physical properties test of vulcanizate with plasticizer 7 bsk it’s show hardness, tensile strength and elongation at break value that not significant different with vulcanizate using commercial plasticizer.

Keywords: Used tyre waste, pyrolysis, plasticizer

Abstrak

  Dampak negatif peningkatan produksi ban mobil adalah melimpahnya limbah dan bekas. Sebagai usaha untuk memanfatkan limbah ban bekas, telah dilakukan penelitian konversi limbah ban bekas menjadi bahan pelunak barang jadi karet dengan proses pirolisis. Pirolisis dilakukan pada suhu 400°C-500°C selama 2-3 jam, menghasilkan cairan pirolisat dengan nilai berat jenis spesifik 1,0139, viskositas kinematis pada 210°F sebesar 7,063 cst, titik tuang -6°C dan titik nyala 156,5°C. Pirolisat yang digunakan pada percobaan sebesar 5, 7, dan 10 bsk sebagai bahan pelunak pada vulkanisat, yang dibandingkan dengan vulkanisat dengan bahan pelunak komersial sebagai kontrol. Hasil uji sifat fisika vulkanisat dengan bahan pelunak 7 bsk menunjukkan nilai kekerasan, kuat tarik, dan perpanjangan putus yang tidak berbeda nyata dengan vulkanisat yang menggunakan bahan pelunak komersial. 

Kata kunci : Limbah ban bekas, pirolisis, bahan pelunak

 

STUDI KINETIKA VULKANISASI BELERANG PADA KOMPON KARET ALAM TANPA BAHAN PENGISI

Kinetics Study of Sulfur Vulcanization on Ulfilled Natural Rubber Compund

Abstract

  The three kinds of sulfur vulcanization systems, conentional, semi-efficient, and efficient vulcanization, are grouped based on ratio sulfur and accelerator used. There are several parameters influencing the vulcaniztion such as vulcanization temperature, scorch time, vulcanization rate, and optimum time of vulcanization. Vulcanization rate on sulfur vulcanization can be measured by rheometer. Data of rheometer can be used to calculate reaction rate constant and activation energy by using Arrheniuss equation. The research studied kinetics reaction of sulfur vulcanization on unfilled natural rubber compound for three of sulfur vulcanization system at temperature 145°C, 150°C, 160°C, and 180°C with observation at torque modulus value between 10% – 90% vulcanization process. Result in this research show that high rate constant reaction and low activation energy achieved by efficient vulcanization system.

Keyword: Natural rubber, sulfur vulcanization, compound

Abstrak

  Ketiga jenis sistem vulkanisasi belerang yaitu vulkanisasi konvensional, semi-efisien, dan efisien digolongkan berdasarkan perbandingan jumlah belerang dengan bahan pencepat yang digunakan. Beberapa parameter yang berpengaruh dalam vulkanisasi diantaranya temperatur vulkanisasi, waktu pra vulkanisasi, laju vulkanisasi, dan waktu optimum proses vulkanisasi. Untuk menentukan laju vulkanisasi pada sistem vulkanisasi belerang dapat diukur dengan menggunakan alat rheometer. Data hasil pengujian rheometer dapat digunakan untuk menghitung konstanta laju reaksi dan energi aktivasi berdasarkan persaman Arrhenius. Penelitian ini melakukan studi tentang kinetika reaksi vulkanisasi belerang pada kompon karet alam tanpa bahan pengisi untuk ketiga sistem vulkanisasi belerang pada suhu 145°C, 150°C, 160°C, dan 180°C dengan pengamatan nilai modulus torsi antara 10% – 90% proses vulkanisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstanta laju reaksi paling tinggi dan energi aktivasi terendah dicapai oleh sistem vulkanisasi efisien.

Kata kunci: Karet alam, vulkanisasi belerang, kompon.

 

 

Jurnal Penelitian Karet Vol. 31, No. 1, Thn. 2013

KARAKTER FISIOLOGI, ANATOMI, PERTUMBUHAN DAN HASIL LATEKS  KLON IRR SERI 300

 Characters of Physiology, Anatomy, Growth and Latex Yield of IRR 300 Series

Sekar WOELAN, SAYURANDI dan Syarifah Aini PASARIBU

Abstract

Characters of physiology, bark anatomy, growth and latex yield are important parameters to select superior rubber clones. The objective of the research was to find out  charactercs of physiology, bark anatomy, growth and latex yield of IRR 300 series rubber clone. The research was conducted at Experimental Garden and Physiology Laboratory  of Sungei Putih Research Centre in 2011. The research used as many as 21 clones of IRR 300 series and three control clones (PB 260, RRIC 100, and BPM 24)  aged 12 years. The research result showed that latex physiology characters (sucrose content, inorganic phosphate content, tiol content, length of  tapping panel, plugging index, latex  flow rate, and yield index ) were  significantly different among tested  the clones. Also, anatomy characters (number of  latex vessels  and diameter of latex vessel),  growth characters (girth and bark thickness) and latex yield showed significant differences  among the tested clones. The correlation analysis result showed that plugging index, yield index, girth, bark thickness, number of latex vessels and diameter of latex vessel had significant correlation with latex yield, while length of tapping panel, latex inorganic flow rate, sucrose content, thiol content, inorganic phosphate content, and dry rubber content were not significantly correlated with latex yield.

Keywords : Hevea brasiliensis, IRR 300 series, correlation, latex physiology, bark anatomy, growth, latex yield

Abstrak

Karakter fisiologi, anatomi kulit, pertumbuhan dan produksi karet merupakan parameter penting di dalam seleksi klon karet unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter fisiologi lateks, anatomi, pertumbuhan dan produksi lateks klon IRR seri 300. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Fisiologi Balai Penelitian Sungei Putih pada tahun 2011. Klon yang diuji dalam penelitian ini yaitu sebanyak 21 klon IRR seri 300 dengan 3 klon pembanding (PB 260, RRIC 100, BPM 24) pada umur 12 tahun. Penelitian ini disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan.  Dari hasil penelitian menunjukkan  bahwa,  karakter fisiologi  lateks (kadar sukrosa, kadar fosfat anorganik, kadar tiol, panjang alur sadap, indeks penyumbatan, kecepatan aliran lateks, dan indeks produksi) memiliki perbedaan nyata diantara klon yang diuji. Demikian juga dengan karakter anatomi  (jumlah pembuluh lateks dan diameter pembuluh lateks), pertumbuhan (lilit batang, tebal kulit) dan produksi lateks menunjukkan  adanya perbedaan yang nyata. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa indeks penyumbatan, indeks produksi, lilit batang, tebal kulit, jumlah  pembuluh lateks, dan diameter pembuluh lateks mempunyai korelasi cukup nyata terhadap hasil lateks, sedangkan panjang alur sadap, kecepatan aliran lateks, kadar sukrosa, kadar tiol, kadar fosfat anorganik, dan kadar karet kering tidak berkorelasi nyata terhadap hasil lateks.

Kata kunci : Hevea brasiliensis, IRR seri 300, korelasi, fisiologi lateks, anatomi kulit,  pertumbuhan, produksi lateks

 

PENGARUH JUVENILITAS ENTRES TERHADAP KARAKTER TUNAS BIBIT OKULASI DINI TANAMAN KARET

 Effects of Budwood Juvenility on Shoot Caharacters of  Early Rubber Budding

 Lestari ADMOJO, Nur Eko PRASETYO, Elya AFIFAH, dan Hananto HADI

 Abstract

In general, performance of rubber clones are not always the same as their ortet despite their similar genetic constitution. This condition is due to the buds used in clone propagation does not show any juvenility type. Juvenility improvement of rubber materials could be made by using juvenile buds grafted on young stock plants. This research attempted to know the effect of juvenile buds on shoot characters of rubber early budding. The research was arranged in a complete randomized design with two types of buds (juvenile and mature types). Each treatment consisted of three replications, each replication used 10 plants. Two types of budwoods of clone IRR 112 (primary budwood as a source of juvenile type and quartet branch as a mature types) were used. The buds were then grafted on 2.5 month – old root stocks. Observation was made on shoot characters viz. shoot length on first and second whorl, shot angle, and fresh and dry weight ratio of shoot root. The results showed that all of shoot characters were significant different except for fresh and dry weight ratio of shoot root. Shoot of plants with first and second whorls of juvenile budding indicated longer compared with those of mature budding. Shoot angle of juvenile budding looked narrower than mature budding. The value of fresh and dry weight of shoot root of juvenile budding was heavier than that of mature budding. However, the ratio of fresh and dry weight of both treatments did not show any significant differences.

keywords: Hevea brasiliensis, juvenility, juvenile budding, budwood, shoot characters, rubber clone, early budding

 Abstrak

Secara umum, keturunan klonal dari tanaman karet belum tentu menunjukkan performa sesuai dengan ortetnya meskipun sifat genetisnya sama. Hal tersebut terjadi karena entres yang digunakan sebagai sumber batang atas pada perbanyakan klonal tidak lagi memperlihatkan tipe juvenil. Perbaikan juvenilitas bibit antara lain bisa diupayakan melalui penggunaan entres tipe juvenil yang diokulasikan pada batang bawah usia dini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh juvenilitas entres terhadap karakter tunas bibit okulasi dini. Penelitian disusun secara RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 2 perlakuan entres (tipe juvenil dan tipe dewasa). Setiap perlakuan terdiri atas 3 ulangan, dengan masing-masing ulangan menggunakan 10 tanaman. Jenis entres yang digunakan yaitu cabang primer usia muda sebagai sumber mata tunas tipe juvenil dan wiwilan cabang tersier sebagai sumber mata tunas tipe dewasa klon IRR 112. Entres selanjutnya diokulasikan pada batang bawah usia 2,5 bulan. Pengamatan dilakukan pada karakter tunas, yaitu panjang tunas payung I dan payung II, sudut tunas, bobot basah dan bobot kering tajuk-akar, dan rasionya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter tunas bibit okulasi dini dari kedua perlakuan menunjukkan beda nyata kecuali rasio bobot basah dan bobot kering tajuk-akar. Karakter tunas payung I dan payung II bibit asal mata tunas cabang primer (Juvenile Budding atau JB) nyata lebih panjang dari bibit asal mata tunas cabang wiwilan (Mature Budding atau MB). Sudut tunas bibit JB nyata lebih kecil dari bibit MB. Bobot basah dan bobot kering tajuk-akar bibit JB nyata lebih besar dibandingkan bibit MB. Adapun rasio bobot basah dan bobot kering tajuk akar kedua perlakuan tidak berbeda nyata.

Kata kunci: Hevea brasiliensis, juvenile budding, entres, okulasi dini, klon karet, karakter tunas

PENGGUNAAN LINDI HITAM SEBAGAI BAHAN PELUNAK DALAM KOMPON KARET ALAM

  Use of Black Liquor as Plasticizer in Natural Rubber Compounds

 Adi CIFRIADI

 Abstract

Physical properties and curing charachteristics of natural rubber compound containing black liquor and than FTIR Spectrometry analysis of black liquor were studied to evaluate its suitability as plasticizer. Aromatic oil was used as a reference plasticizer. The plasticizer of black liquor was made based on a type of basic material and the number of its solid content. The result of characterization on black liquor by FTIR spectrometry concluded that the functional groups attached to the molecule of black liquor and  the result of interpretation FTIR spectra of black liquor indicated consists of aromatic rings in structure, -OH, -C-O, and -C=O groups. Base on the curing characteristic, rubber compound containing black liquor processed as plasticizer with or without treatment of NH4OH and NaOH had optimum cure time (t90) and faster scorch time (ts2)  compared with the reference plasticizer (minarex). Physical properties of vulcanizate showed that vulcanizate containing black liquor processed as plasticizer without treatment of basic material and containing 60% of solid content has similar performance to vulcanizate containing reference plasticizer.

Key words : Black liquor, plasticizer, natural rubber compound, vulcanizate

 

Abstrak

Sifat fisika vulkanisat dan karakteristik kematangan kompon karet alam yang mengandung lindi hitam dan analisis spektrometri FTIR dari lindi hitam telah dikaji untuk mengevaluasi penggunaan lindi hitam sebagai bahan pelunak. Bahan pelunak jenis aromatik digunakan sebagai bahan pelunak kontrol. Bahan pelunak dari lindi hitam dibuat dengan perlakuan berdasarkan jenis bahan pembasa yang ditambahkan pada lindi hitam serta jumlah kadar padatannya. Hasil pengujian spektrometri FTIR dapat menyimpulkan gugus fungsi yang terikat pada struktur molekul lindi hitam dan hasil interpretasi spektra FTIR menunjukkan bahwa lindi hitam mengandung senyawa cincin aromatik pada struktur molekulnya dan mengandung gugus fungsi –OH, -C-O, serta –C=O. Berdasarkan hasil pengujian karakteristik kematangan kompon menunjukkan bahwa kompon karet yang mengandung bahan pelunak lindi hitam tanpa perlakuan ataupun dengan perlakukan penambahan bahan pembasa NH4OH dan NaOH memiliki waktu masak optimum (t90) dan waktu scorch (t2) yang lebih cepat dari pada kompon karet yang mengandung bahan pelunak kontrol (minarex).  Hasil pengujian sifat fisika vulkanisat menunjukkan bahwa vulkanisat yang mengandung lindi hitam tanpa perlakuan penambahan bahan pembasa dengan kadar padatan sebesar 60%  memiliki kinerja yang setara dengan vulkanisat yang mengandung bahan pelunak kontrol.

Kata kunci : lindi hitam, bahan pelunak, kompon karet alam, vulkanisat

SIMULASI PENETAPAN KARAKTERISTIK PENGERINGAN SEMPROT LATEKS BERDASARKAN TEKNIK KOMPUTASI DINAMIKA FLUIDA

Simulation of Spray Drying Characteristic Determination of Latex Based on Computational Fluid Dynamic Technique

Afrizal VACHLEPI, Didin SUWARDINdan A. Zainal ABIDIN

 Abstract

 The purpose of this research was to study the characteristics of natural rubber latex drying process with a unit spray dryer using computational fluid dynamic (CFD) technique approach. The research activities included the determination of CFD model to describe the spray drying system, boundary condition of simulation, operation parameters, and drying simulation. The treatment variations of latex water content were 65%, 70%, 75%, and 80%. While the variations of drying air temperatures consisted of  140°C, 150°C, 160°C, 170°C, and 180°C. The research concluded that latex water content and drying air temperature affected the drying process depending on air-particle velocity, drying time, particle diameter, product water content, and temperature changes in the air-particles. CFD simulations predicted that the particle diameter of final product was around 130-135 micrometer with water contents of 0.32 – 0.58%. Temperatures of final product left drying chamber were around 37 – 54°C.

Keywords: latex, simulation, spray drying

 

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik proses pengeringan lateks karet alam dengan alat pengering semprot menggunakan pendekatan teknik komputasi dinamika fluida (computational fluid dynamic/CFD). Kegiatan penelitian ini meliputi penentuan model CFD untuk menggambarkan sistem pengeringan semprot, penentuan kondisi batas simulasi, penentuan parameter operasi, dan simulasi pengeringan. Variasi perlakuan berupa kadar air lateks terdiri atas 65%, 70%, 75%, dan 80%, sedangkan suhu udara pengering terdiri atas 140°C, 150°C, 160°C, 170°C, dan 180°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air lateks dan suhu udara pengering berpengaruh terhadap proses pengeringan yang dipengaruhi oleh kecepatan udara-partikel, waktu pengeringan, diameter partikel, kadar air produk, dan perubahan suhu udara-partikel. Simulasi CFD memprediksi diameter partikel produk akhir sekitar 130-135 micrometer dengan kadar air sekitar 0,32 – 0,58%. Suhu produk akhir yang keluar dari ruang pengering adalah sekitar 37 – 54°C.

Kata kunci: lateks, simulasi, pengeringan semprot

 

SIFAT DINAMIK MEKANIKAL VULKANISAT KARET ALAM-ORGANOCLAY

Dynamic Mechanical Properties of NR-OrganoclayVulcanizates

M. Irfan FATHURROHMAN, Bambang SOEGIJONO, Emil BUDIANTO, Koji YONEDA

Abstract

Dynamic and swelling properties of natural rubber (NR) vulcanizates filled organoclays with different of d-spacing were studied. Dynamic properties were determined by using Dynamic Mechanical Thermal Analyzer (DMTA). The results show that organoclay with higher d-spacing (15A) produced intercalation/exfoliation structure in NR matrix, so it increased dynamic mechanical and swelling properties. Storage modulus under Tg and upper Tg increased with increasing d-spacing of organoclay. Also, organoclay decreased tan δ dan tg of  Organoclay 15A in NR vulcanizates could decrease swelling value and coefficient of diffusion, sorptivity and permeability it also improved crosslink density of NR/organoclay 15A and elasticity vulcanizate.   

Keywords:  Natural rubber, dynamic mechanical properties,  organoclay

 

Abstrak

Sifat dinamik dan swelling vulkanisat karet alam (NR) yang mengandung bahan pengisi organoclay dengan basal spasi yang berbeda telah dipelajari. Vulkanisat NR/organoclay dibuat dengan menggunakan metode pelelehan kompon di dalam gilingan terbuka. Sifat dinamik diukur dengan menggunakan Dynamic Mechanical Thermal Analyzer (DMTA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan organoclay dengan basal spasi lebih besar (15A) menghasilkan struktur interkalasi/eksfoliasi di dalam matrik karet alam sehingga sifat dinamik mekanikal dan swelling menjadi lebih baik. Storage modulus di bawah Tg dan di atas Tg meningkat dengan peningkatan basal spasi organoclay. Adanya organoclayjuga menyebabkan penurunan tan δ dan Tg vulkanisat, terutama organoclay 15A. Organoclay 15A di dalam vulkanisat karet alam dapat menurunkan nilai swelling dan koefisien difusi, sorptivitas serta permeabilitas. Derajat ikatan silang dari NR/organoclay 15A sedikit lebih besar dan memperbaiki sifat elastis vulkanisat.

Kata kunci: Sifat dinamik mekanikal, karet alam, organoclay

 

KAJIAN KELEMBAGAAN DAN KEMITRAAN PEMASARAN KAYU KARET DI PROPINSI SUMATERA SELATAN

Study on Institutions and Partnership in Rubberwood Marketing in South Sumatra Province

Dwi Shinta AGUSTINA, Lina Fatayati SYARIFA, dan Cicilia NANCY

 Abstract

In South Sumatra,  several  partnership patterns between smallholders and rubber wood processing factories has been developed. This study aimed to analyze the institutional marketing of rubber wood, its constraints and efforts to optimize rubber wood processing factories. This study was conducted by survey method. The results showed that the source of rubber wood for industry was mostly derived from smallholders (74%) and the rest (26%) from big estates. As many as 68% of smallholders who had replanted their rubber plants sold the rubber wood to the processing factories either through suppliers  (73%) or directly to the factories (27%). The partnership patterns that had been conducted  by factories were to give capital support to rubber nursery operators to help smallholders who needed rubber planting materials and to help smallholders directly with rubber planting materials by calculating the price of rubber wood after wards. Road access from field to the factories and administrative system for selling rubber wood had been constraints on rubber wood marketing. Licences to sell wood from cultivated plants should be simplified. The infrastructure (roads) from  the rubber planting area to the rubber processing factories should be improved in order to keep the sustainability of rubber wood industry.

Keywords: Hevea brasiliensis, rubberwood, institution, marketing, partnership

 Abstrak

Di Provinsi Sumatera Selatan berkembang beberapa pola kemitraan antara petani dengan pabrik pengolahan kayu karet. Penelitian bertujuan melihat pola kelembagaan pemasaran kayu karet di Provinsi Sumatera Selatan, kendala dan upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan kayu karet serta kemitraan yang terjadi antara pabrik kayu karet dengan petani. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa sumber kayu karet untuk industri saat ini sebagian besar (74%) berasal dari perkebunan rakyat dan 26% dari perkebunan besar. Sebanyak 68% petani yang meremajakan kebun karetnya sudah menjual kayu karet ke industri pengolahan kayu baik melalui supplier (73%) maupun menjual langsung ke pabrik (27%). Pola kemitraan yang sudah dilaksanakan oleh pabrik di antaranya memberikan bantuan modal kepada penangkar untuk diberikan kepada petani yang membutuhkan bibit karet, dan membantu petani yang membutuhkan bibit karet dengan memperhitungkan harga kayu. Akses jalan kebun serta sistem kelengkapan administrasi bagi penjualan kayu karet masih menjadi kendala dalam pemasaran kayu karet. Perlu penyederhanaan perizinan untuk pemasaran kayu yang berasal dari tanaman budidaya seperti karet serta perbaikan sarana jalan menuju kebun untuk menjaga keberlangsungan industri kayu karet.

Kata Kunci: Hevea brasiliensis, kayu karet, kelembagaan, pemasaran, kemitraan,

 

POTENSI KAYU HASIL PEREMAJAAN KARET RAKYAT UNTUK MEMASOK INDUSTRI KAYU KARET

Studi Kasus di Provinsi Sumatera Selatan

Potential  Rubberwood  of  Smallholders’ Replanting to Supply Timber Industry (Case Study in South Sumatera Province)

 Cicilia NANCY, Dwi Shinta AGUSTINA, dan Lina Fatayati SYARIFA

Abstract

Rubberwood As renewable product could be used to substitute natural forest wood. As the second largest natural rubber producing country after Thailand, Indonesia has not utilized the potential of rubberwood sources. The aim of this study was to determine the potential of rubberwood and its availability to supply timber industry in South Sumatra Province. The result of this study showed that potential of rubberwood in South Sumatra Province per year was about 1.7 million m3 or 1.1 million tonnes.  Actual production of eight rubberwood factories in South Sumatra showed that of rubberwood that had been processed was only 18% of the available rubberwood. When viewed from the source, around 74% of raw material came from smallholders. Some efforts should be made to maximize utilization of rubberwood from smallholder replanting area.

Keywords: rubberwood, replanting, smallholder

 

Abstrak

Kayu karet yang bersifat terbarukan (renewable) dapat dimanfaatkan untuk mensubstitusi kayu hutan alam. Sebagai negara produsen karet terbesar kedua setelah Thailand, Indonesia belum memanfaatkan potensi kayu karet yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi  kayu karet yang ada serta ketersediaannya untuk memasok industri kayu di Provinsi Sumatera Selatan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa setiap tahun di tingkat Provinsi Sumatera Selatan, potensi kayu karet mencapai 1,7  juta m3 atau 1,1 juta  ton. Produksi aktual kayu karet olahan yang dihasilkan oleh delapan pabrik kayu karet di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa potensi kayu  karet  yang dimanfaatkan hanya 18% dari potensi kayu karet yang ada. Dilihat dari asal bahan baku, sebanyak 74% bahan baku berasal dari perkebunan karet rakyat. Perlu upaya-upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan kayu hasil peremajaan karet petani.

Kata kunci: kayu karet, peremajaan, perkebunan rakyat