Segenap Karyawan Balai Penelitian Sungei Putih Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H. Semoga kita dapat memaknainya dengan iman, taqwa, dan sebaik-baiknya perbuatan.

Category Archives: Ringkasan Jurnal

Jurnal Penelitian Karet Vol 32, No. 1, Thn 2014

PENGUJIAN ADAPTASI BEBERAPA KLON KARET PADA MASA TANAMAN BELUM MENGHASILKAN

 Adaptation Test of Several Rubber Clones in Immature Period

 SAYURANDI, Irwan SUHENDRY, dan Syarifah Aini PASARIBU

 Abstract

The purpose of this study was to evaluate the performance of several rubber clones in adaptation test in immature period. A total of nine rubber clones, namely IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 119, IRR 230, PB 217, RRIM 921, RRII 105 and control clone PB 260 which were evaluated in this research. Adaptation test performed on two locations which have different agroecosystems, viz. Gunung Tua which is located in North Padang Lawas district which has a dry agroclimate location and Batang Toru which is located in South Tapanuli district which has a wet agroclimate location.The adaptation tests were conducted in 2005 and 2007 by using a randomized block design (RBD). Observations were done on girth size over 2, 3 and 4 years, while bark thickness and bark anatomy were observed at 4 years. The attack intensity of Oidium, Colletotrichum, and Corynespora leaf fall diseases at 3 years. The research results showed that clones IRR 104 and IRR 118 had growth vigorous in dry agroclimate,while clones IRR 5, IRR 112, PB 217 and RRIM 921 had vigorous growth in wet agroclimate. Based on bark thickness and bark anatomy characters, showed that clones IRR 5, PB 217, RRII 105, and RRIM 921 had highest bark thickness, while clones IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, and IRR 230 had good bark anatomy character. All clones were classified from moderately resistant to resistant to Oidium, Colletotrichum, and Corynespora leaf fall diseases.

 Keywords: Hevea brasiliensis, rubber clones, adaptation trial, growth, secondary characteristics

 Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja beberapa klon karet pada pengujian adaptasi selama masa tanaman belum menghasilkan. Sebanyak sembilan klon karet

yaitu IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 119, IRR 230, PB 217, RRIM 921, RRII 105 dan klon pembanding PB 260 diuji dalam penelitian ini. Pengujian adaptasi dilakukan pada dua daerah yang memiliki agroekosistem yang berbeda, yaitu Gunung Tua yang terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara memiliki iklim yang lebih kering dan Batang Toru terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki iklim yang lebih basah. Pengujian adaptasi dibangun pada tahun 2005 dan 2007 dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Pengamatan karakter pertumbuhan lilit batang dilakukan pada umur 2, 3 dan 4 tahun, sedangkan karakter tebal kulit dan anatomi kulit diamati pada umur 4 tahun. Intensitas serangan penyakit gugur daun Oidium,Colletotrichum, dan Corynespora diamati pada umur 3 tahun. Hasil pengujian menunjukkan bahwa klon IRR 104 dan IRR 118 memiliki pertumbuhan yang cukup jagur di daerah kering, sedangkan klon IRR 5, IRR 112, PB 217 dan RRIM 921 memiliki pertumbuhan paling jagur pada kondisi iklim lebih basah. Berdasarkan karakter tebal kulit dan anatomi kulit menunjukkan klon IRR 5, PB 217, RRII 105, dan RRIM 921 memiliki karakter tebal kulit paling tinggi, sedangkan klon IRR 5, IRR 104, IRR 112, IRR 118, dan IRR 230 memiliki karakter anatomi kulit yang cukup baik. Semua klon yang diuji tergolong agak resisten hingga resisten terhadap penyakit gugur daun Oidium, Colletotrichum, dan Corynespora.

 Kata kunci: Hevea brasiliensis, klon karet, pengujian adaptasi, pertumbuhan, karakteristik sekunder

  PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS AWAL TANAMAN KARET BERBATANG BAWAH BANYAK

Growth and Initial Productivity of Rubber Plants with Many Rootstocks

Nurhawaty SIAGIAN dan Tumpal H. S. SIREGAR

 Abstract

Since 2005 the use of rubber planting materials with many rootstocks in order to shorten the immaturity period has been developed at the farm level. The models have continued growing and the planting materials are sold by trader in Regencies of Muara Enim, West Tanjung Jabung, Sarolangun, Madina, Taput, and Provincies of Bengkulu, Aceh, Jambi, as well as West Sumatra (Damas Raya and South Solok). Rubber planting material with many rootstocks logically will increase girth growth of rubber due to its more feeder roots for the absorption of water and nutrients. Technical information about the growth and production of this rubber planting material type needs to be disseminated in order to avoid mistakes in the future. The propagation of the rubber planting materials and its growth during in polybag was reported by Siagian in 2006 and in 2010 followed by the report of plant growth up to the age of 4 years in the field. This further research was conducted to evaluate its effects on the plant growth, percentage of tappable trees at the age of 4.5 years and tree production at three years of tapping. The experiment was conducted in experimental field of Sungei Putih, arranged in a factorial completely block design with three replications. Each experimental unit used 50 plants. The first factor tested was the number of rootstocks being grafted i.e. two (S2), three (S3), four (S4) and the control without grafting or only one rootstock (S1). The second factor were clones used i.e. PB 260 (K1) and IRR 118 (K2). Thus there were eight treatment combinations. Two-whorl polybag plants were used as planting materials. Field planting was done in May 2006. Variables observed were dry rubber production (g/t/t), girth at 4.5 and 7.5 years old, percentage of tappable trees, bark thickness, number and diameter of latex vessels and nutrient leaf contents of N, P, K, Mg and Ca at the age of 7.5 years old. The results showed that the immaturity period of planting materials with many rootstocks (two, three or four) were almost equivalent to the immaturity period of the control plant i.e 4.5 years. The use of planting materials with many rootstocks (two, three or four) for the purpose of shorthening immaturity period had not proved the previous assumption. Observations during three years of tapping showed that the average dry rubber production per tree per tapping on the plants with two, three and four rootstocks were not higher compared with the control.

 Keywords: Hevea brasiliensis, rootstocks, immaturity period, growth, dryrubber yield

 Abstrak

Sejak tahun 2005 penggunaan bahan tanam karet berbatang bawah banyak dengan tujuan mempersingkat masa TBM telah berkembang di tingkat petani. Model pembibitan tersebut  terus  berkembang  dan  bibit diperjualbelikan oleh penangkar antara lain di Kabupaten Muara Enim, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Madina, Taput, Provinsi Bengkulu, Aceh, Jambi, Sumatera Barat (Damas Raya dan Solok Selatan). Bahan tanam karet berbatang bawah banyak secara logika akan mendorong pertumbuhan batang karet karena mempunyai banyak akar untuk penyerapan air dan hara. Informasi teknis tentang perkembangan pertumbuhan dan produksi bibit karet berbatang bawah ganda perlu disebarluaskan agar tidak terjadi kekeliruan dikemudian hari. Teknik perbanyakan tanaman berbatang bawah banyak dan pertumbuhannya selama di polibeg telah dilaporkan secara lengkap oleh Siagian pada tahun 2006 dan pada tahun 2010 dilaporkan pertumbuhan tanaman sampai dengan umur 4 tahun di lapangan. Penelitian lanjutan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan, persentase pohon matang sadap pada umur 4,5 tahun dan produksi 3 tahun sadap tanaman karet dilapangan. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih yang disusun menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Setiap unit percobaan menggunakan sebanyak 50 tanaman dan ulangan tiga kali. Faktor pertama yang diuji adalah  jumlah  batang bawah yang disambung/jumlah akar tunggang yaitu dua (S2), tiga (S3), empat (S4) dan kontrol tidak disambung atau hanya satu batang bawah/akar tunggang (S1). Faktor kedua adalah jenis klon yang diokulasikan yaitu klon PB 260 dan klon IRR 118. Dengan demikian terdapat sebanyak 8 kombinasi perlakun. Penanaman di lapangan menggunakan bahan tanam polibeg dua payung, dilakukan pada akhir bulan Mei tahun 2006. Peubah yang diamati adalah produksi karet kering (gram per pohon per sadap), lilit batang pada umur 4,5 tahun dan 7,5 tahun, persentase tanaman yang memenuhi kriteria matang sadap, tebal kulit, jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar hara N, P, K, Mg dan Ca daun pada umur 7,5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa TBM pada tanaman berbatang bawah dua, tiga dan empat hampir setara dengan masa TBM pada tanaman berbatang bawah satu (kontrol), yaitu 4,5 tahun. Penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak (dua, tiga, maupun empat) untuk tujuan mempersingkat masa TBM belum terbukti sebagaimana dianggap sebelumnya. Pengamatan selama 3 tahun sadap menunjukkan bahwa rataan produksi karet kering per pohon per sadap pada tanaman yang berbatang bawah dua, tiga dan empat tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (berbatang bawah satu).

 Kata kunci : Hevea brasiliensis, batang bawah, masa TBM, pertumbuhan, hasil karet kering

 PENGARUH JENIS MATA ENTRES DAN KLON TERHADAP KEBERHASILAN OKULASI DAN PERTUMBUHAN TUNAS PADA OKULASI HIJAU DI POLIBEG

Effect of Bud Types and Clones on Budding Success and Shoot Growth of Green Budding in Polybag

 JUNAIDI, ATMININGSIH dan Nurhawaty SIAGIAN

Abstract

Currently, the propagation of rubber planting materials by direct grafting on young plants grown in the polybag has been developed widely, especially in big estates. The question often asked by planters about kind of suitable buds used for this technique. This research was aimed to determine the effect of different bud types on budding success percentage and shoot growth of green budding. The research was carried out at Experimental Garden of Sungei Putih Research Center based on Factorial Complete Randomized Design with two factors. The first factor was type of clones i.e PB 260 and IRR 118 clone and the second factor was bud types i.e. green leaf bud (GLB), brown leaf bud (BLB), green scale bud (GSB) and brown scale bud (BSB). The results showed that for green budding in polybag, the most appropriate type of bud was the green scale bud (GSB). Despite the high budding success percentage (90.5%), shoots that grew from GSB were relatively small compared with those of the other plants with the other types buds. Therefore maintenance after budding was essentially needed to enhance the growth of shoots. If the number of GSB was not enough, brown scale bud (BSB) and green leaf bud (GLB) could be used for polybag green budding, but it was not ecommended to use the brown leaf bud (BLB).

 Keywords : Hevea brasiliensis, green budding, bud types, budding success, shoots growth

  Abstrak

 Pada saat ini pengadaan bahan tanam karet dengan cara okulasi tanaman muda langsung di polibeg sedang berkembang terutama di perkebunan besar. Pertanyaan yang sering dilontarkan para pekebun adalah jenis mata okulasi apa yang cocok untuk digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis mata okulasi terhadap persentase keberhasilan dan pertumbuhan tunas hasil okulasi hijau di polibeg. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor yaitu jenis klon (PB 260 dan IRR 118) dan jenis mata okulasi yaitu mata daun hijau (MDH), mata daun coklat (MDC), mata sisik hijau (MSH) dan mata sisik coklat (MSC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk okulasi hijau dalam polibeg, jenis mata yang paling sesuai adalah mata sisik hijau (MSH). Meskipun persentase keberhasilannya tinggi (90,5%), tunas yang tumbuh dari MSH relatif lebih kecil dibandingkan dengan jenis mata entres lainnya sehingga pemeliharaan setelah okulasi tumbuh sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan tunas. Pada kondisi MSH tidak mencukupi, okulasi hijau di polibeg dapat dilakukan dengan menggunakan mata sisik coklat (MSC) dan mata daun hijau (MDH) namun tidak dianjurkan menggunakan mata daun coklat (MDC).

Kata kunci : Hevea brasiliensis, okulasi hijau, jenis mata okulasi, persentase keberhasilan okulasi , pertumbuhan tunas.

  POTENSI DAN KOMPATIBILITAS MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR (MVA) DENGAN BIBIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis MUELL Arg.) KLON PB 260

 Potential and Compatibility of Vescular Arbuscular Mycorrhizal (VAM) with PB 260 Rubber (Hevea brasiliensis MUELL Arg.) Clone

 Asmarlaili Sahar HANAFIAH, Afifuddin DALIMUNTHE, dan Nini RAHMAWATI

 Abstract

The research objective was to examine the potential and compatibility of Vesicular Arbuscular Mycorrhizal (VAM) with PB 260 rubber clone still has two leaf whorl, derived from Sungei Putih Research Center at the glass house. The research conducted using a randomized block design non factorial with three replications and eight treatments MVA. Two indigenous rubber isolates VAM and five isolates of VAM from FP USU Soil Biology Laboratory collection and without VAM (Control) were tested in this experiment. VAM spores inoculation in each treatment was carried out by providing as much as 20 spores per polybag around the rubber seedlings rooting. Observations were made after formation of the third whorl of leaves. Observed variables included the degree of root infection by mycorrhizal, P uptake and plant growth. The results showed  that Acaulospora sp 1 (large yellow) and Acaulospora sp 2 (small yellow) had a high adaptability to the rubber plant tested, demonstrated by the high degree of root infection respectively 55% and 48% which was significantly different from other treatments. Similarly for P uptake, plants inoculated with the two isolates had the highest P content, each was 34 mg P and 35 mg P respectively. Both of these isolates were collection of isolates owned by FP USU Laboratory collection. This research time was only 7 weeks, caused the treatment on several variable observed were not significant.

Keywords:VAM, Hevea brasiliensis, compatibility, degree of root infection, P uptake

 Abstrak

            Tujuan penelitian adalah untuk menguji potensi dan kompatibilitas Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) dengan bibit karet (Hevea brasiliensis MUELL Arg.) klon PB 260 yang masih mempunyai daun payung dua, berasal dari Balai Penelitian Sungei Putih di rumah kaca. Uji potensi dan kompatibilitas dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan tiga ulangan, dan delapan perlakuan MVA yaitu dua isolat MVA indigenous karet, lima isolat MVA koleksi laboratorium Biologi Tanah FP USU dan tanpa MVA (kontrol). Diinokulasikan spora MVA sesuai perlakuan dengan memberikan sebanyak 20 spora per polibeg disekitar perakaran bibit tanaman karet. Pengamatan dilakukan setelah terbentuk daun payung tiga. Variabel yang diamati meliputi derajat infeksi akar oleh mikoriza, serapan hara P, dan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari beberapa isolat yang diujikan ternyatata isolat Acaulospora sp 1 (kuning besar) dan  Acaulospora sp 2 (kuning kecil) mempunyai kemampuan beradaptasi yang tinggi dengan bibit tanaman karet yang diujikan, yaitu 55% dan 48% yang berbeda sangat nyata dari perlakuan lain. Untuk serapan unsur hara P, tanaman yang diinokulasi dengan kedua isolat ini mempunyai kandungan P yang tertinggi, masing-masing 34 mg P dan 35 mg P. Kedua isolat ini adalah isolat koleksi Laboratorium FP USU. Masa peneltian uji potensi ini hanya tujuh minggu menyebabkan perlakuan terhadap beberapa variable yagn diamati tidak berpengaruh nyata.

Kata kunci : MVA, karet alam, kompatibilitas, derajat infeksi, serapan P

EFEKTIVITAS BAKTERI ANTAGONIS (Pseudomonas sp.) UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT CABANG JAMUR UPAS (Corticium salmonicolor)

 The Effectiveness of Antagonistic Bacteria (Pseudomonas sp.) as Biological Control of Pink Disease (Corticium salmonicolor)

 Zaida FAIRUZAH, Cici Indriani DALIMUNTHE, dan AIDI-DASLIN

Abstract

 The pink disease on stems and branches of rubber are not as popular as on the leaves or root though the losses caused were higher mainly in the area with high humidity and rainfall. It is important to search for antagonistic microorganism that effectively and efficiently controls pink disease such as Pseudomonas sp bacteria. This research was conducted to affirm the effectiveness of it at field. The research was done by lubricating Pseudomonas sp. to the infected branch with varying degrees of attack. The treatment was applied four times with intervals of one week. The research design used was non factorial randomized block design with 7 treatments consisting of Pseudomonas sp. (without storage,one month storage, two months storage, and three months storage), two kinds of chemical fungicide (Triadimefon and Heksakonazol), and control (without application). Each treatments was repeated three times with 20 plants sampled at each unit. The observations were carried out every months after the fourth applications with observed parameter of recovery percentage. Data were analyzed using analysis of variance and continued with Duncan Test. Three months storage showed the best ability with recovery percentage 80,49%. This was not significantly different from chemically treated even significantly different with controls.

Keywords: Hevea brasiliensis, Pink disease (Corticium salmonicolor), biological control, antagonistic bacteria (Pseudomonas sp.)

Abstrak

Penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor) pada batang dan cabang tanaman karet tidak sepopuler serangan penyakit daun maupun akar meskipun demikian dampak kerugian yang disebabkan oleh kerusakan cabang dan batang cukup tinggi terutama di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi dan kelembaban tinggi. Untuk itu perlu ditemukan mikroorganisme antagonis efektif dan efisien untuk pengendalian penyakit cabang jamur upas seperti bakteri Pseudomonas sp. Oleh karena itu, perlu penegasan mengenai keefektifan dari Pseudomonas sp. tersebut dengan melakukan pengujian kembali. Pengujian dilakukan dengan  cara  mengoleskan Pseudomonas sp. pada cabang yang terserang jamur upas dengan berbagai tingkat serangan. Perlakuan dilakukan sebanyak empat kali dengan interval satu minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 7 perlakuan yang terdiri dari Pseudomonas sp (tanpa penyimpanan, satu bulan penyimpanan, dua bulan penyimpanan, dan tiga bulan penyimpanan), dua macam fungisida kimia (Triadimefon dan Heksakonazol), dan kontrol (tanpa aplikasi). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan 20 tanaman sampel pada setiap unitnya. Pengamatan dilaksanakan setiap bulan setelah aplikasi ke empat dengan parameter persentase kesembuhan penyakit. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pseudomonas sp. dengan penyimpanan selama tiga bulan memiliki kemampuan terbaik mengendalikan penyakit jamur upas di lapangan dengan persentase kesembuhan mencapai 80,49%. Hal ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida kimia tetapi berbeda nyata bila dibandingkan dengan kontrol.

Kata kunci: Karet alam, penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor),pengendalian biologi, bakteri antagonis (Pseudomonas sp.)

PENGARUH ORGANOBENTONIT DAN ASAM STEARAT TERHADAP KARAKTERISTIK PEMATANGAN DAN SIFAT MEKANIK VULKANISAT KARET ALAM

 Effect of Organobentonite and Stearic Acid on Curing Characteristic and Mechanical Properties of Natural Rubber Vulcanizates

 Arief RAMADHAN, Bambang SOEGIJONO, dan M. Irfan FATHURROHMAN

 Abstract

 Organobentonite has been successfully synthesized from natural bentonite with the addition of surfactant. Organobentonite is used as an alternative filler material in natural rubber compound. All compounds were made by using the method of melting compound in the open mill. The results showed that the maximum torque (Smax), max minimum torque (Smin), and torque difference min (Smax–Smin) of natural rubber filled with organobentonite (NR/OB) compound was higher than unfilled natural rubber (NR) and bentonite filled natural rubber (NR/B) compound, which indicated that the crosslink density between the molecules of rubber and sulfur was more created on NR/OB. The use of organobentonite and stearic acid on natural rubber compound accelerated the optimum cure time (t90) and scorch time (ts2) also mechanical properties on NR/OB vulcanizates were increased compared with the mechanical properties of NR and NR/B vulcanizates. Stearic acid use on organobentonite with exsitu method (NR/S-OB) improved the mechanical properties of natural rubber vulcanizates compared with insitu method (NR/OB) and had some better mechanical properties compared with carbon black filled natural rubber (NR/CB) vulcanizates.

 Keywords : Natural  rubber, bentonite, organobentonite, stearic acid, mechanical properties, filler

 Abstrak

 Organobentonit telah berhasil disintesis dari bentonit alam dengan penambahan surfaktan. Organobentonit ini digunakan sebagai alternatif bahan pengisi pada kompon karet alam. Seluruh kompon dibuat dengan menggunakan metode pelelehan kompon di dalam gilingan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa torsi maksimum (Smax), torsi minimum (Smin), dan perbedaan torsi (Smax -Smin) pada kompon karet alam dengan bahan pengisi organobentonit (NR/OB) lebih tinggi daripada kompon karet alam tanpa bahan pengisi (NR) dan kompon karet alam dengan bahan pengisi bentonit (NR/B), yang menunjukkan bahwa derajat ikatan silang antara molekul karet dengan bahan pemvulkanisasi (belerang) semakin banyak terbentuk pada NR/OB. Pemakaian organobentonit dan asam stearat pada kompon karet alam mempercepat waktu kematangan optimum (t90) dan waktu pematangan dini (ts2). Sifat mekanik pada vulkanisat NR/OB juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan sifat mekanik pada vulkanisat NR dan NR/B. Pemakaian asam stearat pada organobentonit secara eksitu (NR/SOB) lebih meningkatkan sifat mekanik vulkanisat karet alam dibandingkan secara insitu (NR/OB) dan memiliki beberapa karakteristik sifat mekanik vulkanisat karet alam yang lebih baik daripada vulkanisat karet alam yang berbahan pengisi carbon black (NR/CB).

Kata kunci: Karet alam, bentonit, organobentonit, asam stearat, sifat mekanik, bahan pengisi

 

PEMBUATAN BAHAN PELUNAK ALAMI UNTUK KOMPON KARET MELALUI REAKSI HIDROGENASI MINYAK JARAK CASTOR

 Preparation of Natural Plasticizer for Rubber Compound by Castor Oil Hydrogenation

 Santi PUSPITASARI dan Adi CIFRIADI

Abstract

 Plasticizer is a chemical substance added to rubber compounding to soften rubber in order to ease the mixing and shorten the compounding time. Modified castor oil has a chance to be developed as natural plasticizer to substitute petroleum-based plasticizer. This research studied the synthesis of natural plasticizer by hydrogenation of castor oil. The research was began with addition of various concentration of N2H4 55% and H2O2 42% to 300 ml castor oil at 25 and 40oC for 7 hours. At the end of the reaction, water was separated. Pure hydrogenated castor oil (HCO) was characterized. The best specification of HCO was then synthesize at higher capacity. The result showed that during the hydrogenation there were changes in temperature, color, fase, foam and gas. Charcterization of HCO indicated that optimum condition reached at concentration of N2H4 55% as 2 M, H2O2 42% as 0.6 M, and 40oC. Based on its iod number, the HCO belonged in the group of hydrogenated vegetable oil as plasticizer Type II.

Keywords : Rubber, plasticizer, castor oil, hydrogenation

 

Abstrak

Bahan pelunak karet merupakan salah satu bahan kimia yang ditambahkan saat pembuatan kompon untuk melunakan karet sehingga memudahkan pencampuran dan mempersingkat waktu pengkomponan. Minyak jarak castor termodifikasi berpeluang dikembangkan sebagai bahan pelunak karet alami yang dapat mensubstitusi bahan pelunak berbasis minyak bumi. Pada penelitian ini dipelajari pembuatan bahan pelunak karet alami dari minyak jarak castor melalui reaksi hidrogenasi. Tahapan dalam penelitian mengikuti alur berikut : 300 ml minyak jarak castor ditambah dengan N2H4 55% dan H2O2 42% pada berbagai konsentrasi setelah tercapai suhu reaksi  (25oC dan 40 oC ) selama 7 jam. Pada akhir reaksi, air yang terbentuk dipisahkan dari minyak jarak castor terhidrogenasi. Minyak jarak castor terhidrogenasi bebas air kemudian dikarakterisasi. Minyak jarak castor terhidrogenasi dengan spesifikasi terbaik selanjutnya disintesis pada skala yang lebih besar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa selama reaksi terjadi perubahan suhu warna dan fasa, serta timbul buih dan gas. Karakterisasi minyak jarak castor  terhidrogenasi mengindikasikan bahwa kondisi optimal reaksi hidrogenasi diperoleh pada konsentrasi N2H4 55% sebesar 2M, H2O2 42% sebesar 0,6M, dan suhu reaksi 40oC. Berdasarkan nilai bilangan iod, minyak jarak castor terhidrogenasi tersebut termasuk dalam bahan pelunak dari golongan minyak nabati terhidrogenasi Tipe II.

 Kata kunci : Karet, bahan pelunak, minyak jarak castor, hidrogenasi


KARAKTERISASI MINYAK JARAK TERHIDROGENASI SEBAGAI BAHAN PELUNAK KARET ALAMI

 Characterization of Hydrogenated Castor Oil as Natural Plasticizer for Rubber Compound

 Santi PUSPITASARI dan Adi CIFRIADI

Abstract

 Hydrogenated castor oil (HCO) is expected as bio-based rubber plasticizer. Plasticizer must have good compatibility with rubber in order to achieve high mixing effectiveness. This research studied the performance and effect of HCO plasticizer in SIR 20 and EPDM 6250 rubber compound. HCO dosages were determined as 10 and 20 phr. The research was begun with rubber compounding, vulcanization and mechanical properties testing. The result showed that addition of HCO could reduce time and energy of compounding also weight loss procentage. Effect of hydrogenated castor oil on curing charactistic was highly marked in modulus decrease as a result of rubber molecule chain breakdown. Hydrogenated castor oil reduced hardness, tensile strength, and compression set but increase elongation of break and tear strength of SIR 20 and EPDM 6250 vulcanizate. Thus, hydrogenated castor oil can be used as bio-based rubber plasticizer especially on EPDM rubber compounding.

 Keywords : Castor oil, rubber plasticizer, SIR 20, EPDM

 Abstrak

 Minyak jarak castor terhidrogenasi diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan pelunak karet alami. Bahan pelunak harus memiliki kesesuaian yang baik dengan karet agar diperoleh efektifitas pencampuran yang tinggi. Percobaan ini akan mempelajari kinerja dan pengaruh minyak jarak castor terhidrogenasi sebagai bahan pelunak karet alami pada pembuatan kompon karet SIR 20 dan EPDM 6250 terhadap karakteristik vulkanisasi kompon dan sifat fisika vulkanisat karet. Dosis bahan pelunak ditetapkan 10 dan 20 bsk. Kinerja minyak jarak castor terhidrogenasi dibandingkan dengan bahan pelunak komersial golongan parafinik yaitu HVI 60 dan HVI 650. Tahapan dalam percobaan diawali dengan pembuatan kompon, kemudian vulkanisasi kompon dan pengujian sifat mekanik vulkanisat karet. Saat pembuatan kompon dilakukan pengamatan terhadap waktu dan konsumsi energi pengkomponan serta persentase kehilangan berat kompon. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan minyak jarak castor terhidrogenasi mampu menurunkan waktu dan energi pengkomponan serta persentase kehilangan berat kompon. Pengaruh minyak jarak castor terhidrogenasi pada karakteristik vulkanisasi sangat tampak pada penurunan modulus torsi sebagai akibat terputusnya rantai molekul karet. Penambahan minyak jarak castor terhidrogenasi juga menurunkan kekerasan, kekuatan tarik, dan pampatan tetap tetapi meningkatkan perpanjangan putus dan kekuatan sobek baik vulkanisat karet SIR 20 maupun EPDM 6250. Dengan demikian minyak jarak castor terhidrogenasi dapat digunakan sebagai bahan pelunak karet alami terutama dalam pembuatan kompon karet sintetik EPDM.

Kata kunci : Minyak jarak castor, bahan pelunak karet, SIR 20, EPDM

PENGARUH BERBAGAI JENIS PENGGUMPAL PADAT TERHADAP MUTU KOAGULUM DAN VULKANISAT KARET ALAM

 Effect of Various Type of Solid Coagulants on the Quality of Coagulum and Vulcanized Natural Rubber

 Hani HANDAYANI

Abstract

Quality of raw rubber material is low and varies because the unavailability of proper coagulant to farmer level. Use proper coagulant to produce good quality rubber is not fully carried out.This research studied the influence of various solid coagulants on quality of coagulum and vulcanized natural rubber. Coagulant was added to preserved latex (7 g/kg dry rubber). The coagulum was allowed for two weeks, then milled and dried at 100°C for   2-3 hours. Chemical properties of dry rubber was tested. Further, the rubber was made into ASTM 2A vulcanizate. The rubber compounds were tested its vulcanization characteristic and the vulcanizate were tested its mechanical properties. Formic acid was used as a comparison. The results showed that the use of organic acids and salts as solid coagulant has advantages and disadvantages of each. The combination of an acid with an inorganic salt is expected to give better results so as the quality of rubber will increases.

 Keywords : Natural rubber, coagulant, vulcanizate, rubber good

 Abstrak

Mutu bahan olah karet masih rendah dan bervariasi akibat tidak tersedianya koagulan yang baik sampai ke tingkat petani. Penggunaan koagulan yang tepat untuk menghasilkan bokar bermutu baik masih belum sepenuhnya dilakukan akibat belum tersedianya koagulan yang mudah didistribusikan, kompetitif dari segi harga, dan tidak merusak mutu karet. Penelitian ini mempelajari pengaruh berbagai jenis penggumpal padat terhadap mutu koagulum dan vulkanisat karet alam. Bahan penggumpal ditambahkan ke dalam lateks kebun berpengawet ammonia pada dosis 7g/kg karet. Lateks yang telah diberi perlakuan dibiarkan menggumpal selama dua minggu, selanjutnya karet digiling dan dikeringkan dalam oven pada suhu 100°C selama 2-3 jam. Karet kering diuji sifat kimianya (PRI, kadar kotoran, kadar abu, dan kadar zat menguap), setelah itu dibuat vulkanisat dengan resep kompon ASTM 2A. Kompon karet diuji karakteristik vulkanisasinya dengan rheometer, kemudian vulkanisat diuji sifat mekanik (kekuatan tarik, perpanjangan putus, modulus 300% dan kekerasan). Sebagai pembanding digunakan asam format. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan asam organik dan garam anorganik sebagai bahan penggumpal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kombinasi antara bahan asam dengan garam anorganik diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik sehingga mutu bahan olah karet akan meningkat.

Kata kunci : Karet alam, bahan penggumpal,vulkanisat, barang jadi

 DEPOLIMERISASI KARET ALAM SECARA MEKANIS UNTUK BAHAN ADITIF ASPAL

Mechanically Depolimerization of Natural Rubber for Asphalt Additive Material

Henry PRASTANTO

 Abstract

 Natural rubber is a potential natural polymer for asphalt additive material to subtitute imported sinthetics polymer, but in high viscosity at dry form is difficult to mix with asphalt.This research was to study the effect of depolimerization of natural rubber to the mixing process, melting point and penetration rate of asphalt. The depolimerization process was carried out by using laboratory two roll-mill with diameter 14 cm and length 35 cm. Depolimerized natural rubber was added in to asphalt of 3%, 5% and 7% by weight of asphalt at 160°C then compared with unload asphalt as control, followed by testing of melting point and penetration rate of samples.The results showed that depolimerization for 24 minutes decreased molecular weight indicated by decreasing of Mooney viscosity, from 58,7 became 6,7 ML(1+4)100°C. Mechanically depolimerized natural rubber for 24 minutes with 3% concentration in asphalt decreased mixing time form 660 minutes to 50 minutes and melting point increased from 51°C became 56,5°C, while the penetration rate decreased from 55 dmm became 40 dmm.

Keywords: Mechanically depolimerization, dry rubber, asphalt, melting point, penetration

 Abstrak

 Karet alam yang merupakan polimer alami berpotensi digunakan sebagai bahan aditif aspal pengganti polimer sintetis impor, namun viskositas yang tinggi pada karet alam fasa padatan tergolong sulit untuk dicampurkan ke dalam aspal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh depolimerisasi karet alam terhadap proses pencampuran, titik lembek dan penetrasi aspal. Proses depolimerisasi dilakukan dengan menggunakan open mill skala laboratorium dengan diameter 14 cm dan panjang 35 cm. Karet terdepolimerisasi yang ditambahkan ke dalam aspal sebanyak 3%, 5%, dan 7% dengan sampel kontrol adalah aspal murni, dilanjutkan dengan pengujian titik lembek dan penetrasi sampel. Hasil penelitian menunjukkan proses depolimerisasi secara mekanis selama 24 menit dapat menurunkan berat molekul karet alam yang ditandai dengan penurunan viskositas Mooney karet dari 58 , 7 men jadi 6,7ML(1+4)100°C). Karet alam terdepolimerisasi secara mekanis selama 24 menit dengan konsentrasi karet dalam aspal 3% dapat menurunkan waktu pencampuran dari 660 menit menjadi 50 menit dan titik lembek aspal  modifikasi yang dihasilkan bertambah dari 51°C menjadi 56,5°C, sedangkan penetrasi aspal polimer yang dihasilkan turun dari 55 dmm menjadi 40 dmm.

 Kata kunci: Depolimerisasi mekanis, karet mentah padat, aspal, titik lembek, penetrasi

 

Jurnal Penelitian Karet Vol. 31, No. 2, Thn. 2013

KETAHANAN GENETIK BERBAGAI KLON KARET INTRODUKSI TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN

Genetic Resistance of the Introduced Rubber Clones to Leaf Fall Diseases

AIDI-DASLIN

Abstract

  Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides and Oidium heveae leaf fall diseases on diseases on rubber plant are major disease causing reduction estate productivity significantly. Many cases of the disease attack have been found widely in natural rubber producing countries such as Indonesia, Malaysia, Thailand, Sri Lanka, India and some other countries in Africa. Field and laboratory studies using leaf disc method were conducted to know the resistance level of some introduction clones to leaf fall diseases of rubber. The research was arranged in a completely randomized design with three replications and twenty treatments with of clones. The tested of introduced clones consisted of clones from Malaysia (PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 359, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937), Sri Lanka (RRIC 100, RRIC 102, RRIC 110), and India (RRII 105, RRII 176). The results showed that there were significant differences of clones resistance to pathogens of C. cassiicola, C. gloeosporioides and O. Heveae. The clone resistance level to C. gloeosporioides was classified as resistant (RRIC 100), moderately resistant (PB 254, PB 260, PB 312, PB 314, PB 340, PB 366, RRIM 911, RRIM 921, RRIC 102), moderate (PB 330, PB 350, PB 359, RRIM 901, RRIM 908, RRIC 110, RRII 105, RRII 176), and moderately susceptible (PB 217, RRIM 937). It was noted that no resistant clones to O. Heveae, while the moderately resistant clone were PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 350, PB 359, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 100, RRIC 110, RRII 105 RRII 176, the moderate clones were PB 330, PB 366, RRIM 901, RRIC 102 and the moderately susceptible clone was PB 340. The clones reistance level to C. cassiicola was classified as resistant were PB 260 and RRIC 100, moderately resistant (PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 102, RRIC 110, RRII 105, RRII 176) and moderate (PB 359, RRIM 911). The resistant clones could be used in rubber breeding program to produce high latex yielding rubber clones and resistant to leaf fall diseases.

Keywords : Hevea brasiliensis, clone resistance, Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae

 

Abstrak

   Penyakit gugur daun Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides dan Oidium heveae pada karet merupakan penyakit utama yang secara signifikan menurunkan produktivitas kebun. Serangan yang luas penyakit gugur daun tersebut banyak terjadi di berbagai negara penghasil karet alam seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Sri Langka, India dan beberapa negara lain di Afrika. Penelitian lapangan dan laboratorium dengan metode uji cakram dilakukan untuk mengetahui tingkat resistensi beberapa klon introduksi terhadap penyakit gugur daun karet, menggunakan rancangan acak lengkap, tiga ulangan dan 20 perlakuan (klon). Klon introduksi yang diuji terdiri dari klon asal Malaysia PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 359, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937, asal Sri Langka RRIC 100, RRIC 102, RRIC 110, dan asal  India RRII 105, RRII 176. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan resistensi klon yang diuji terhadap patogen dari C. cassiicola, C. gloeosporioides dan O. Heveae. Klon yang tergolong resisten terhadap C. gloeosporioides  adalah RRIC 100, moderat resisten PB 254, PB 260, PB 312, PB 314, PB 340, PB 366, RRIM 911, RRIM 921, RRIC 102, moderat PB 330, PB 350, PB 359, RRIM 901, RRIM 908, RRIC 110, RRII 105, RRII 176, dan moderat rentan PB 217, RRIM 937. Tidak ada klon yang diuji tergolong resisten terhadap  O. heveae, sedangkan yang tergolong moderat resisten adalah PB 260, PB 217, PB 254, PB 312, PB 314, PB 350, PB 359, RRIM 908, RRIM 911, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 100, RRIC 110, RRII 105, RRII 176,  moderat PB 330, PB 366, RRIM 901, RRIC 102 dan moderat rentan PB 340. Klon yang tergolong resisten terhadap C. cassiicola adalah PB 260 dan RRIC 100, moderat resisten PB 217, PB 254, PB 312,  PB 314, PB 330, PB 340, PB 350, PB 366, RRIM 901, RRIM 908, RRIM 921, RRIM 937, RRIC 102, RRIC 110, RRII 105, RRII 176 dan moderat PB 359, RRIM 911. Klon-klon yang resisten dapat dikembangkan dalam program pemuliaan karet untuk merakit klon unggul penghasil lateks tinggi dan tahan penyakit gugur daun.

Kata kunci : Hevea brasiliensis, resisten klon, Corynespora cassiicola, Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae

 

PENILAIAN BEBERAPA SISTEM EVALUASI LAHAN YANG TELAH EKSISTING UNTUK TANAMAN KARET

The Assesment of Existing Land Evaluation Systems for Rubber Plantation

Priyo Adi Nugroho dan Istianto

Abstract

  For a successful agribusiness development one of the technical requirements is land suitability that needed prior evaluation before making any decision about rubber plantation. Some of these evaluation systems have been developed locally in Indonesia including Indonesian Rubber Research Institute by Pangudijatno in 1983 (GP), Subiyanto in 1987 (SG), Sugiyanto et al. in 1998 (SE) and Thomas in 2008 (TW). The current research compared these land evaluation systems based on secondary data obtained from Indonesian Rubber Research Institute (IRRI) in eight locations across the country, consist of five land evaluation systems four from IRRI and one developed by Indonesian Rubber Research Institute (IRRI) in eight locations across the country, consist of five land evaluation systems four from IRRI and one developed by Indonesian Soil and Agro Climate Research Institute in 1997 (PT). The correlation test result of PT vs. GP and PT vs. TW showed that moderate correlation with coefficient 0.27 and 0.44 respectively. Strong level correlation reported in PT vs. SG, PT vs. SE, GP vs. SE, GP vs. TW and SE vs. SG with coefficient correlation 0.54, 0.63, 0.63, 0.72 and 0.73 respectively. The correlation test in SG vs GP., TW vs. SG and TW vs. SE showed very strong correlation with coefficient 0.76, 0.77 and 0.82 in all. The significant test applied to correlation test among five land evaluation systems where GP vs. SG, SG vs. TW and SE vs. TW which display significant variance (P<5%).

Keywords: Hevea brasiliensis, existing land evaluation, correlation

Abstrak

  Keberhasilan pengembangan agri-bisnis karet ditentukan oleh persyaratan teknis yaitu kesesuaian lahan yang sangat dibutuhkan sebelum pengambilan keputusan. Beberapa sistem evaluasi lahan telah dikembangkan Pusat Penelitian Karet diantaranya oleh Pangudijatno tahun 1983 (GP), Sugiyanto tahun 1987 (SG), Sugiyanto et al. tahun 1998 (SE) dan Thomas Wijaya tahun 2008 (TW). Penelitian ini membandingkan beberapa sistem evaluasi lahan berdasarkan data sekunder dari Pusat Penelitian Karet pada delapan lokasi di seluruh Indonesia. Sistem yang dibandingkan terdiri dari lima sistem empat diantaranya yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Karet dan satu dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat yang dikembangkan pada tahun 1997 (PT). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa PT vs. GP dan PT vs. TW menunjukkan korelasi sedang dengan nilai koefisien 0,27 dan 0,44. Korelasi yang kuat terjadi pada PT vs. SG, PT vs. SE, GP vs. SE, GP vs. TW dan SE vs. SG dengan koefisien korelasi berturut-turut 0,54; 0,63; 0,63; 0,72 dan 0,73. Uji korelasi antara SG vs. GP, TW vs. SG dan TW vs. SE menunjukkan korelasi yang sangat kuat dengan nilai koefisien 0,76, 0,77 dan 0,82. Dari seluruh uji korelasi antar beberapa sistem tersebut hanya uji korelasi GP vs SG, SG vs TW dan SE vs TW yang menunjukkan hasil yang signifikan (P < 5%).

Kata kunci: Hevea brasiliensis, evaluasi lahan eksisting, korelasi

ALTERNATIF SISTEM SADAP KLON RRIC 100 MULAI BUKA SADAP

Alternative Tapping Systems for RRIC 100 Clone from the Opening

Eva Herlinawati dan Kuswanhadi

Abstract

  Etephon or gas  stimulant is commonly used in rubber cultivation especially in commercial estates. The use of stimulation should be associated with reduction of tapping intensity by shortening the cut length. The purpose of this study was to compare and evaluate the effects of various tapping systems on production and physiology characters in the opening. The experiment was carried out in the experimental field of Sembawa Research Station from March to December 2011. The experiment was arranged in a completely randomized block design with six treatments and eight replications. The experiment used RRIC 100 clone planted in 2004. The treatments were S/2 d3, S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y (m), S/2 d3 ET2.5% Ga1 24/y (2w), Sc20 U d3 ETG 12/y (m), Sc20 U d3 ETG 24/y (2w), and Sc20 U d3 ET2.5% Ba1 24/y(2w). The results showed that the tapping system of S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y (m) or Sc20 U d3 ETG 12/y(m) could increase production without negative effect on physiological characters. However, the application of gas stimulant on young trees should consider the risk of tapping panel dryness. Since the upward tapping tends to cause a thicker-bark cut and latex spillage over the groove, the tapper should be well trained.

Keywords: Tapping system, RRIC 100, opening, ethylene, ethephon, short tapping, tas stimulation

 Abstrak

  Stimulan etefon atau gas telah umum digunakan pada perkebunan, khususnya di perkebunan besar. Penggunaan stimulan harus dikombinasian dengan penurunan intensitas penyadapan melalui pengurangan panjang irisan sadap. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dan mengevaluasi pengaruh berbagai sistem sadap terhadap produksi dan parameter fisiologi sejak buka sadap. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa mulai Maret sampai Desember 2011. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan sistem sadap dan 8 ulangan, menggunakan klon RRIC 100 tahun tanam 2004. Perlakuan antara lain S/2 d3, S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y (m), S/2 d3 ET2.5% Ga1 24/y (2w), Sc20 U d3 ETG 12/y (m), Sc20 U d3 ETG 24/y (2w), dan Sc20 U d3 ET2.5% Ba1 24/y(2w). Hasil penelitian menunjukkan sistem sadap S/2 d3 ET2.5% Ga1 12/y(m) or Sc20 U d3 ETG 12/y(m) mampu meningkatkan produksi tanpa menimbulkan pengaruh negatif terhadap karakter fisiologi. Namun demikian penggunaan stimulan gas pada tanaman muda perlu pertimbangan risiko kering alur sadap. Penyadapan ke arah atas memiliki kecenderungan lebih tebal dalam konsumsi kulit dan tumpahnya lateks dari alur sadap, karena itu penyadap sebaiknya dilatih dengan baik.

Kata kunci: Sistem sadap, RRIC 100, bukan sadap, etilen, etefon, irisan pendek, stimulan gas

AKTIVITAS METABOLISME BEBERAPA KLON KARET PADA BERBAGAI

FREKUNSI SADAP DAN STIMULASI

Metabolic Activity of Several Rubber Clones at Different Tapping frequencies and Stimulation

Eva Herlinawati dan Kuswanhadi

Abstract

  Stimulation is an important part in the exploitation system of rubber trees to increase production. The emergence of many clones requires knowledge of the relationship between the production of latex and physological conditions to optimize stimulation, thus the exploitation systems applied are not over or under exploitation. The purpose of this study was to compare the metabolic activity of PB 260, RRIM 600and PB 217 clones at various tapping frequencies and stimulation. The experiment was carried out in the experimental field of Sembawa Research Centre from April 2010 until March 2012. The experimental design was a completely randomized block design with five tapping systems and three replications. The experiment used PB 260, RRIM 600, and PB 217 clones planted in 2004. The results showed that the quick starter clones with low sucrose content and high inorganic phosphorous such as PB 260, only required wounding to activate cell metabolism. Also, it did not need stimulation with high frequency to increase production. The function of stimulation in quick starter clones reduce the latex stimulation in quick starter clones reduce the latex stimulation in quick starter clones reduce the latex flow disturbance, whereas RRIM 600 and PB 217 clones required stimulation to activate cell metabolism. Optimum frequencies of stimulation for RRIM 600 and PB 217 clones were 12/y and 24/y, respectively.

Keywords: Hevea brasiliensis, clone, tapping system, ethephon, production, physological conditions

 

Abstrak

  Stimulasi merupakan bagian penting dalam sistem eksploitasi tanamn karet untuk meningkatkan produksi. Munculnya banyak klon menuntut pengetahuan mengenai hubungan antara produksi lateks dengan kondisi fisiologis tanaman untuk mengoptimalkan penggunaan stimulan, sehingga sistem eksploitasi yang diterapkan tidak mengalami over atau under eksploitasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metabolisme klon PB 260, RRIM 600, dan PB 217 pada berbagai frekuensi sadap maupun stimulasi. Penelitian dilaksanakan Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa mulai April 2010 sampai Maret 2012 dengan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan sistem sadap dan 3 ulangan, menggunakan klon PB 260, RRIM 600, dan PB 217 tahun tanam 2004. Hasil penelitian menunjukkan klon berproduksi tinggi (quick starter) dengan kandungan sukrosa rendah dan fosfat anorganik tinggi sperti PB 260, hanya membutuhkan pelukaan (wounding) untuk mengaktifkan metabolisme sel lateks, tidak membutuhkan stimulan dengan frekuensi yang tinggi untuk meningkatkan produksi. Stimulasi pada klon berproduksi tinggi hanya berfungsi untuk mengurangi adanya hambatan aliran. Sementara klon RRIM 600 dan PB 217 membutuhkan stimulan untuk mengaktifkan metabolisme sel lateks. Frekuensi stimulasi optimal untuk RRIM 600 dan PB 217  masing-masing adalah 12/y dan 24/y.

Kata kunci: Hevea brasiliensis, klon, sistem sadap, etefon, produksi, kondisi fisiologis

 PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN

UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

Stimulation Application on Early Tapping to Enhance Production of IRR 39 Clone

Island Boerhendhy

Abstract

  One of the superior clones in the period of 2010-2014 which has been developed recently is IRR 39 clone. The clone belongs to the group of latex-timber clones with low initial production. An effort made to overcome that weakness is to apply stimulant treatment on early tapping. This article aimed was to provide information on the effect of stimulant application on the early tapping on the production of IRR 39 clone. This trial was conducted at Sembawa Experimental Garden using a randomized completely block design with five treatments and two replications. Application of stimulant since the early tapping had proven that all the treatments of stimulant could increase the production of IRR 39(g/t/t) as much as 164%-181% of the control. Yield (kg/ha/yr) of S/2 d4 + Ethrel  2% and S/2 d4+Ethrel 2,5% treatments were lower because the number of tapping days was less than the control. The increaed dry rubber yield (kg/ha/year) for 7 years’ ovservation was found in S/2 d3 + Ethrel 2,5% (136% towards the control) and S/2 d3+Ethrel 2% (123% towards the control). The treatment S/2 d3 + Ethrel 2,5% gave the highest result compared with the other treatments. It was noted that application of stimulant at the beginning of tapping on IRR 39 clone had no negative effects on the growth of girth and bark renewal, dry rubber content as well as tapping panel dryness.

Keywords: Hevea brasiliensis, stimulant, early tapping, yield, IRR 39 clone

Abstrak

  Salah satu klon unggul dalam periode 2010-2014 yang banyak dikembangkan saat ini adalah klon IRR 39. Klon IRR 39 tergolong ke dalam kelompok klon penghasil lateks kayu dengan produksi awal rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut adalah dengan memberikan perlakuan stimulan sejak awal penyadapan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang bagaimana pengaruh penggunaan stimulan sejak awal penyadapan untuk peningkatan produksi klon IRR 39.  Klon IRR 39 tergolong ke dalam kelompok klon penghasil lateks kayu dengan produksi awal rendah. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut adalah dengan memberikan perlakuan stimulan sejak awal penyadapan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang bagaimana pengaruh penggunaan stimulan sejak awal penyadapan untuk peningkatan produksi klon IRR 39. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan aplikasi stimulan dan dua ulangan. Pemberian stimulan sejak awal penyadapan terbukti dapat meningkatkan produksi (g/p/s) dari 164 181% terhadap kontrol. Perlakuan S/2 d4 + Ethrel 2% dan S/2 d4 + Ethrel 2,5 % menghasilkan produksi (kg/ha/th) lebih rendah karena jumah hari sadap yang lebih sedikit dibanding kontrol. Peningkatan produksi karet kering (kg/ha/th) selama 7 tahun pengamatan terdapat pada perlakuan S/2 d3 + Ethrel 2,5% (136% terhadap kontrol) dan S/2 d3 + Ethrel 2% (123% terhadap kontrol). Perlakuan S/2 d3 + Ethrel 2,5% memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Penggunaan stimulan sejak awal sadap ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan lilit batng, pertumbuhan kulit pulihan, kadar karet kering, dan kekeringan alur sadap klon IRR 39.

Kata kunci : Hevea brasiliensis, stimulan, awal penyadapan, hasil, klon IRR 39

 ISOLASI DAN KARAKTERISASI GEN SITRAT SINTASE BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DARI FILOSFER Hevea brasiliensis Muell. Arg.

Isolation and Characterizaiton of Citrat Synthase Gene of Pseudomonas aeruginosa isolated from Hevea brasiliensis Phylosphere

Radite Tistama, Utut Widyastuti, Suharsono

Abstract

  Pseudomonas aeruginosa is a major of rhizosphere bacteria which has many useful characters for agriculture and environment. The bacteria secrete organic acid which help release phosphor and protect plant root from aluminium toxicity. Citrate is a major organic acid secreted by Pseudomonas in the soil. Citrate showed higher affinity to aluminium and provide higher phosphorus than that of the other organic acid. The organic acid is synthesized from a reaction between oxaloacetate and acetyl CoA, catalysed by citrate synthase in the Kreb cycle. The research was conducted to isolate and characterize citrate synthase (CS) of Pseudomonas aeruginosa which had been isolated from rubber tree leaf surface. Specific primer for CS gene was designed based on CS gene sequences of some bacteria which were kept in Genebank. The primer was used to amplify CS gene by using PCF machine. The CS gene was successfully isolated from phylosphere bacterium Pseudomonas aeruginosa. Pseudomonas aeruginosa CS gene (PaCS) consisted of 1287 bp and coded 428 amino acid. The PaCS had high similarity is amino acid and hidrophosity with the other bacteria CS gene and it might have similarity in enzyme activities.

Keywords: Citrate synthase, Pseudomonas aeruginosa, Hevea brasiliensis

Abstrak

  Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri utama di dalam rizosfer yang mempunyai sifat-sifat yang dapat dimanfaatkan di dalam pertanian dan lingkunga. Bakteri tersebut mensekresikan asam organik yang dapat melepaskan fosfor dan melindungi akar dari keracunan aluminium. Sitrat merupakan asam organik yang dominan disekresikan oleh Pseudomonas di dalam tanah. Sitrat menunjukkan afinitas terhadap aluminium dan menyediakan fosfor yang lebih tinggi dibandingkan asam organik lainnya. Asam organik ini disintesis dari sebua reaksi antara aksaloasetat dan asetil KoA, dikatalisis oleh sitrat sintase (CS) di dalam siklus Kreb. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi sitrat sitnase dari Pseudomonas aeruginosa yang telah diisolasi dari permukaan daun tanamn karet. Primer spesifik untuk gen CS didesain berdasarkan sekuen gen sitrat sintase beberapa bakteri yang disimpan di Genbank. Primer tersebut digunakan untuk mengamplifikasi gen CS dengan menggunakan mesin PCR. Gen CS telah berhasil diisolasi dari bakteri filosfere Pseudomonas aeruginosa. Gen CS Pseudomonas aeruginosa (PaCS) tersebut terdiri atas 1287 pb danmenyandikan 428 asam amino. PaCS mempunyai kesamaan asam amino yang tinggi dan hidrofobisitas dengan CS bakteri lainnya dan diduga mempunyai persamaan aktivitas enzim.

Kata kunci: Sitrat sintase, Pseudomonas aeruginosa, Hevea brasiliensis

 EVALUASI PENGOLAHAN DAN MUTU BAHAN OLAH KARET RAKYAT (BOKAR) DI TINGKAT PETANI KARET DI SUMATERA SELATAN

Evaluation of Processing and Quality of Raw Rubber Material at Smallholder’s Level in South Sumatra

Lina Fatayati Syarifa, Dwi Shinta Agustina, dan Cicilia Nancy

Abstract

  The study was conducted to evaluate the enforcement of government regulations to processing and quality of raw rubber material at smallholderl level. This study was conducted by survey method. Selection of location was made purposively by selecting the central areas of rubber. Data were collected by Focus Group Discussion (FGD) method involving village officers. The farmers were then interviewed and followed by visual observation of rubber quality at smallholder level. The survey results showed that the enforcement of the Regulation of Agriculture Minister and the Regulation of Trade Minister had not been done widely at smallholder level, because marketing agencies still accepted the low quality raw rubber material produced by farmers. The problems of rubber processing and marketing that caused the low quality of raw rubber material and the low of farmers’ income were still found in Musi Rawas and Lubuk Linggau Regencies. Serious attention was needed to solve the problems.

Keywords: Raw rubber material, quality, processing, smallholder

Abstrak

  Penelitian dilakukan untuk meng-evaluasi penerapan peraturan-peraturan pemerintah terhadap sistem pengolahan dan mutu bokar di tingkat petani. Penelitian dilakukan dengan metode survei dengan memilih sampel secara purposive, yaitu daerah-daerah yang merupakan sentra karet. Pengambilan data dilakukan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perangkat-perangkat desa dan diikuti wawancara dengan petani dan pengamatan visual terhadap mutu bokar yang dihasilkan petani. Hasil survei menunjukkan bahwa penerapan Permentan dan Permendag belum dilaksanakan sepenuhnya di tingkat petani. Hal ini dikarenakan peraturan dari lembaga pemasaran yang belum tegas untuk menolak bokar mutu rendah yang dihasilkan petani. Permasalahan pengolahan dan pemasaran karet yang menyebabkan rendahnya mutu bokar dan pendapatan petani masih banyak terjadi di Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuk Linggau yang masih memerlukan perhatian serius.

Kata kunci: Bokar, mutu, pengolahan, petani karet

PEMANFAATAN HASIL PIROLISIS LIMBAH BAN BEKAS SEBAGAI

BAHAN PELUNAK UNTUK PEMBUATAN BARANG JADI KARET

Utilization of Pyrolysis Product from Used Tyre Waste as Plasticizer for Rubber Goods Manufacturing

Asron F. Falaah, Adi Cifriadi dan Dadi R Maspanger

Abstract

  The  negative impact of increasing car tyre production is the abundance of used tyre waste. As an effort to utilize used tyre waste, a research on conversion of it into plasticizer for rubber goods by pyrolysis process had been carried out. Pyrolysis was done at a temperature of 400°C – 500°C for 2-3 hours, resulting in liquid pirolizates with value of specific gravity of 1,0139, kinematic viscosity at 210°F about 7.063 cst, pour point -6°C and flash point 156.5°C. Pyrolizate used to experiment by 5, 7, and 10 bsk as plasticizer on vulcanizate, it is compared to vulcanizate with commercial plasticizer as control. The result of physical properties test of vulcanizate with plasticizer 7 bsk it’s show hardness, tensile strength and elongation at break value that not significant different with vulcanizate using commercial plasticizer.

Keywords: Used tyre waste, pyrolysis, plasticizer

Abstrak

  Dampak negatif peningkatan produksi ban mobil adalah melimpahnya limbah dan bekas. Sebagai usaha untuk memanfatkan limbah ban bekas, telah dilakukan penelitian konversi limbah ban bekas menjadi bahan pelunak barang jadi karet dengan proses pirolisis. Pirolisis dilakukan pada suhu 400°C-500°C selama 2-3 jam, menghasilkan cairan pirolisat dengan nilai berat jenis spesifik 1,0139, viskositas kinematis pada 210°F sebesar 7,063 cst, titik tuang -6°C dan titik nyala 156,5°C. Pirolisat yang digunakan pada percobaan sebesar 5, 7, dan 10 bsk sebagai bahan pelunak pada vulkanisat, yang dibandingkan dengan vulkanisat dengan bahan pelunak komersial sebagai kontrol. Hasil uji sifat fisika vulkanisat dengan bahan pelunak 7 bsk menunjukkan nilai kekerasan, kuat tarik, dan perpanjangan putus yang tidak berbeda nyata dengan vulkanisat yang menggunakan bahan pelunak komersial. 

Kata kunci : Limbah ban bekas, pirolisis, bahan pelunak

 

STUDI KINETIKA VULKANISASI BELERANG PADA KOMPON KARET ALAM TANPA BAHAN PENGISI

Kinetics Study of Sulfur Vulcanization on Ulfilled Natural Rubber Compund

Abstract

  The three kinds of sulfur vulcanization systems, conentional, semi-efficient, and efficient vulcanization, are grouped based on ratio sulfur and accelerator used. There are several parameters influencing the vulcaniztion such as vulcanization temperature, scorch time, vulcanization rate, and optimum time of vulcanization. Vulcanization rate on sulfur vulcanization can be measured by rheometer. Data of rheometer can be used to calculate reaction rate constant and activation energy by using Arrheniuss equation. The research studied kinetics reaction of sulfur vulcanization on unfilled natural rubber compound for three of sulfur vulcanization system at temperature 145°C, 150°C, 160°C, and 180°C with observation at torque modulus value between 10% – 90% vulcanization process. Result in this research show that high rate constant reaction and low activation energy achieved by efficient vulcanization system.

Keyword: Natural rubber, sulfur vulcanization, compound

Abstrak

  Ketiga jenis sistem vulkanisasi belerang yaitu vulkanisasi konvensional, semi-efisien, dan efisien digolongkan berdasarkan perbandingan jumlah belerang dengan bahan pencepat yang digunakan. Beberapa parameter yang berpengaruh dalam vulkanisasi diantaranya temperatur vulkanisasi, waktu pra vulkanisasi, laju vulkanisasi, dan waktu optimum proses vulkanisasi. Untuk menentukan laju vulkanisasi pada sistem vulkanisasi belerang dapat diukur dengan menggunakan alat rheometer. Data hasil pengujian rheometer dapat digunakan untuk menghitung konstanta laju reaksi dan energi aktivasi berdasarkan persaman Arrhenius. Penelitian ini melakukan studi tentang kinetika reaksi vulkanisasi belerang pada kompon karet alam tanpa bahan pengisi untuk ketiga sistem vulkanisasi belerang pada suhu 145°C, 150°C, 160°C, dan 180°C dengan pengamatan nilai modulus torsi antara 10% – 90% proses vulkanisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstanta laju reaksi paling tinggi dan energi aktivasi terendah dicapai oleh sistem vulkanisasi efisien.

Kata kunci: Karet alam, vulkanisasi belerang, kompon.