Ringkasan Jurnal Tahun 2009 (2)

Written by admin on November 4, 2011. Posted in Ringkasan Jurnal

ISOLASI GEN PENYANDI ACC SYNTHASE PADA KARET KLON PB 260 DENGAN METODE RACE-PCR

Isolation of Gene Encoding of ACC Synthase in

H. Brasiliensis Muell. Arg. Clone PB 260 by RACE-PCR Method

KUSWANHADI, SUMARMADJI dan Pascal MONTORO

Summary

Ethylene synthesis in plant tissues is catalyzed by two main enzymes called ACC synthase and ACC oxydase.  The expression of these enzymes is regulated tightly by biotic and abiotic factors, plant development, wounding and hormonal treatment.  By isolation of the genes encoding for those enzymes, their regulation mechanism will be elucidated.  The objective of this research was to isolate genes encoding of ACC synthase in H. brasiliensis Muell. Arg. Total RNA was isolated from leaf and bark treated with 2.5 % of ethephon.  PCR with the matrix of cDNA synthesized from total RNA by using degenerated primers had amplyfied successfully many fragments with the size of 300 – 1000 bp.  Then by RACE-PCR method the other fragments of 5′ and 3′- end regions could be amplified and a full-length of gene sequence could  be constructed.  This gene called HbACS1 consisting  of 1932 bp, encoded ACC synthase enzyme of 480 amino acids (1440 bp).  Analysis on peptide sequence of HbACS1 revealed seven boxes characterised as active ACC synthase enzyme.  The genomic clone of HbACS1 was also isolated.  It consisted of 2928 bp, with 4 exons and 3 introns with the splicing site of GT/AG.  The research should be continued to study the effect of biotic and abiotic factor on the expression of HbACS1 gene in order to reveal how those gene regulated.

 

Keywords : H. brasiliensis, PCR, RACE-PCR, gene, cDNA, ACC synthase

 

Ringkasan

 

Sintesis etilen dalam jaringan tanaman dikatalisis oleh dua enzim utama yaitu ACC synthase dan ACC oksidase.  Kedua enzim tersebut diatur ekspresinya oleh berbagai faktor lingkungan biotik maupun abiotik, faktor perkembangan tanaman, maupun pelukaan dan perlakuan hormonal.  Mekanisme regulasinya diharapkan dapat diketahui setelah gen penyandinya dapat diisolasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi gen penyandi ACC synthase pada H. brasiliensis.  RNA total diekstraksi dari jaringan kulit dan daun dari tanaman yang telah distimulasi dengan etefon 2,5%.  Reaksi PCR dilakukan dengan matrik cDNA yang disintesis dari RNA total dengan menggunakan primer degeneratif berhasil mengamplifikasi berbagai fragmen parsial berukuran 300-1000 bp.  Dengan menggunakan metode RACE-PCR sebuah sekuens lengkap (full-length) gen HbACS1 yang terdiri atas 1932 bp dapat dikontruksi.  Gen tersebut menyandi enzim ACC synthase yang terdiri atas 1440 bp atau 480 asam amino.  Analisis sekuens peptida dari HbACS1 telah berhasil mengidentifikasi adanya tujuh boks yang mencirikan enzim ACC synthase yang aktif.  Struktur genomik HbACS1 juga telah diketahui, terdiri atas 2928 bp, dan mempunyai empat  ekson dan tiga intron dengan situs pemotongan (splicing site) GT/AG.  Faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi ekspresi gen HbACS1 perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui mekanisme regulasi dari ekspresi gen tersebut.

 

Kata kunci : H. brasiliensis, PCR, RACE-PCR, gen, cDNA, ACC synthase

 

KETAHANAN GENETIK KLON KARET  IRR SERI 400

TERHADAP PENYAKIT  GUGUR DAUN CORYNESPORA

 

Genetic Resistance of IRR 400 Series Clone

to Corynespora Leaf Fall Disease

 

Sekar WOELAN, SAYURANDI, dan Syarifah Aini PASARIBU

 

Summary

 

The objective of this research was to know and study the genetic resistance of IRR 400 series clone to Corynespora leaf fall disease. A test of genetic resistance of 25 clones IRR 400 series to three  Corynespora cassiicola isolated was done at Protection Laboratory, Sungei Putih Research Centre. The three isolates of C. cassiicola were derived from Langkat, Riau, and Deli Serdang isolates.  The research design used Random Completed Design (RCD) with two replications and each replication consisted of 10 leaf disks. The observation was made on virulence intensity from the first day up to the seventh day by calculating  spot area appeared on leaf disk which had been inoculated. The virulence grouped in five classes with score 0 – 4. The affectivity of selection could be explained by heritability value and genetic parameter viz. coefficient of genetic variability, coefficient of phenotype variability, and expected genetic gain. The research result showed that genetic resistance level of IRR 400 series clone to Corynespora leaf fall disease was more significant. IRR 407, IRR 416, IRR 421, and 422 clones were resistant to C. cassiicola, while IRR 400 and IRR 405 were susceptible. The heritability value (h2) was higher (0.639) which meant that the genetic factor was more dominant than environment factor. Based on genetic parameter value, it was found that coefficient of genetic variability = 23.516%, coefficient of phenotype variability = 29.410%, and expected genetic gain = 38.775%. These values showed that environment factor to resistance character of IRR 400 series clone to Corynespora leaf fall disease was moderate. Selection of one particular environment with character own heritability and expected higher genetic gain, might  support environment appearance of genetic factor that could improve selection progress.

 

Keywords            :               Hevea brasiliensis, Corynespora leaf fall disease, genetic resistance, heritability, genetic parameter

 

 

Ringkasan

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari ketahanan genetik klon karet IRR seri 400 terhadap penyakit gugur daun Corynespora. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Balai Penelitian Sungei Putih dengan uji ketahanan genetik 25 klon karet IRR seri 400 terhadap tiga isolat Corynespora cassiicola. Tiga isolat C. cassiicola yang digunakan berasal dari isolat Langkat, isolat Riau, dan isolat Deli Serdang. Penelitian ini disusun dengan menggunakan rancangan acak lengkap  (RAL) dengan dua  ulangan dan masing  masing  ulangan terdiri atas 10 cakram daun. Pengamatan dilakukan terhadap intensitas serangan dari hari pertama sampai hari ke tujuh dengan cara melihat luas bercak yang timbul pada cakram daun yang telah diinokulasi secara visual. Tingkat serangan dikelompokkan dalam lima kelas, dengan skor 0 – 4. Efektivitas seleksi dinyatakan dengan nilai heritabilitas dan parameter genetik yaitu koefisien keragaman genetik (KKG), koefisien keragaman fenotipe (KKF) dan harapan kemajuan genetik (HKG). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh  tingkat ketahanan genetik klon karet IRR seri 400 terhadap penyakit gugur daun Corynespora sangat berbeda nyata. Klon IRR 407, IRR 416, IRR 421, dan 422 tergolong resisten terhadap C. cassiicola,  sedangkan klon IRR 400 dan IRR 405 tergolong rentan. Nilai heritabilitas (h2) yaitu 0,639, tergolong tinggi yang mencerminkan faktor genetik lebih dominan dibanding faktor lingkungan. Berdasarkan nilai parameter genetik diperoleh nilai KKG sebesar 23,516%, nilai KKF sebesar 29,410%, dan nilai HKG sebesar 38,775%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengaruh faktor lingkungan terhadap sifat ketahanan klon IRR seri 400 terhadap penyakit gugur daun Corynespora tergolong moderat. Seleksi karakter yang memiliki heritabilitas dan nilai HKG yang tinggi akan  mempertinggi kemajuan seleksi.

 

Kata kunci :         Hevea brasiliensis, penyakit gugur daun Corynespora, ketahanan genetik, heritabilitas, parameter genetic

 

ANALISIS DAYA GABUNG  DARI  BEBERAPA KOMBINASI PERSILANGAN TETUA KARET UNTUK MENINGKATKAN PERSENTASE BUAH JADI

 

Combining Ability Analysis of  Several Rubber Parental Crossing Combination  to Increase Fruit Set

SAYURANDI dan Sekar WOELAN

 

Summary

 

Hand pollination, one of the methods to improve rubber plant characteristic, has been considered to be more efficient and inexpensive. Constraint always found in  plant rubber crossing is low fruit set percentage, so that genetic variability improvement is limited. Based on this a research was done on available parental combination to find out some rubber flowering characteristics and obtain better rubber parental combination through general combination ability (GCA), specific combination ability (SCA), and reciprocal by using  the diallel analysis. The research was conducted at Sungei Putih Experimental Garden, Deli Serdang,  North Sumatra Province. The research materials used five parental rubber clones, namely  PB 260, PB 330, IRR 111, IRR 219, and IRR 220. The experiment used Random Block Design (RBD) non-factorial with two replications and each replication consisted of 200 cross combinations. The crossing combination used in the research was diallel analysis and from the combinations, as many as 20 cross combinations were obtained. The research result based on flowering characteristics, showed that clone IRR 111 and IRR 220 had potency for male and female flowering ability.  Based on diallel analysis of rubber parental crossing combination, clone PB 260 and IRR 111  had good general combining ability (GCA) to be used as parental clones to produce more higher percentage of fruit set. While parental crossing combinations which had good  specific combining ability (SCA) , were IRR 111 X PB 260, IRR 111 X IRR 220, and the reciprocal PB 260 X IRR 111 and IRR 220 X IRR 111.

 

Keywords : Hevea brasiliensis, flowering characteristic, diallel analysis, combining ability

 

 

Ringkasan

 

Persilangan buatan merupakan salah satu metode yang lebih efisien dan relatif murah dalam perbaikan  karakteristik tanaman karet. Kendala yang selalu dihadapi pada proses persilangan adalah rendahnya persentase buah jadi (fruit set) yang dihasilkan, sehingga peningkatan keragaman genetik terbatas. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan suatu pengkajian lebih mendasar terhadap program penggabungan tetua yang digunakan dengan tujuan  untuk mengetahui karakteristik pembungaan beberapa klon karet dan untuk mendapatkan kombinasi tetua yang terbaik melalui nilai daya gabung umum (DGU), daya gabung khusus (DGK) serta resiprokalnya dengan menggunakan persilangan diallel. Penelitian dilakukan di Kebun Persilangan Balai Penelitian Sungei Putih, Kabupaten Deli Serdang – Sumatera Utara. Penelitian menggunakan lima klon karet yang digunakan sebagai tetua yaitu PB 260, PB 330, IRR 111, IRR 219, dan IRR 220. Penelitian  menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan dua ulangan  dan setiap ulangan terdiri atas 200 kombinasi persilangan. Kombinasi persilangan yang digunakan dalam penelitian adalah sistem persilangan diallel (diallel cross) dan diperoleh sebanyak 20 kombinasi persilangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik pembungaan, klon IRR 111 dan IRR 220 memiliki potensi sebagai penghasil bunga jantan dan betina. Berdasarkan analisis diallel dari kombinasi persilangan, klon PB 260 dan IRR 111 memiliki efek daya gabung umum (DGU) yang baik untuk dikembangkan sebagai tetua persilangan dalam meningkatkan persentase buah jadi yang lebih tinggi; sedangkan kombinasi persilangan yang memiliki efek daya gabung khusus (DGK) yang baik ditemukan pada kombinasi  IRR 111 X PB 260, IRR 111 X IRR 220 dan persilangan resiprokalnya pada kombinasi antara PB 260 X IRR 111 dan IRR 220 X IRR 111.

 

Kata kunci           :               Hevea brasiliensis, karakteristik pembungaan, persilangan  diallel, daya gabung

 

PEMANFAATAN KAYU KARET DARI BERBAGAI UMUR

DAN KLON UNTUK KAYU LAMINASI

 

Use of Rubber Wood of Various Ages and Clones

for Laminating Board

 

 

Island BOERHENDHY dan Dwi Shinta AGUSTINA

 

Summary

 

Rubber wood is a byproduct of natural rubber that could give the economic value besides the latex itself. The demand of rubber wood has increased especially after forest timber are banned to be exported in the form of sawn timber. Rubber wood could be an alternative of raw material as a substitution of forest timber. Many products have been produced from rubber wood, for example laminating board. In order to support the use of rubber wood as construction timber, a research on rubber wood processing included sawing, drying, preserving, and producing laminating board  was conducted.The clones used in this research were GT 1 and IRR 39 of 10, 20,30 years old. The data from this study hopefully could be used to support the plan to use rubber wood as laminating board. The result showed that rubber wood from GT 1 and IRR 39 had  proper characteristics to be used as construction timber. The quality of laminating board was determined by the age of rubber wood.

 

Key words : Hevea brasiliensis, rubber wood, clone laminating board

 

 

Ringkasan

 

Kayu karet merupakan hasil samping tanaman karet yang dapat memberikan nilai ekonomis selain lateksnya. Tingginya permintaan kayu karet terutama setelah adanya larangan ekspor kayu hutan dalam bentuk kayu gergajian. Kayu karet merupakan alternatif kayu pengganti kayu hutan. Banyak produk yang dapat dihasilkan dari kayu karet setelah dilakukan proses pengolahan. Salah satu bentuk produk dari kayu karet adalah kayu laminasi (glulam). Dalam rangka mendukung perencanaan peruntukan kayu karet untuk kayu pertukangan telah dilakukan penelitian pengolahan kayu karet yang meliputi penggergajian, pengeringan, pengawetan, dan pembuatan produk yang berupa glulam dari kayu karet klon GT 1  dan IRR 39  umur 10 tahun, 20, dan 30 tahun. Data hasil penelitian diharapkan dapat digunakan untuk mendukung perencanaan peruntukannya, khususnya untuk kayu laminasi atau glulam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu karet memiliki karakteristik yang sesuai untuk kayu pertukangan karena mempunyai sifat pengerjaan yang baik sampai sangat baik. Kualitas kayu glulam yang dihasilkan ditentukan oleh umur kayu penyusunnya.

 

Kata kunci : Hevea brasiliensis, kayu karet, klon, kayu laminasi

 

KARAKTERISTIK DAN POTENSI TANAH ULTISOL

UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN KARET

DI SEBAGIAN WILAYAH PULAU LAUT,

KALIMANTAN SELATAN

 

The Characteristics and Potency of Ultisol for

Developing Natural Rubber in Some Part of

Pulau Laut Area, South Kalimantan

 

Priyo Adi NUGROHO dan ISTIANTO

 

Summary

 

The information of Ultisol characteristics in Pulau Laut area for developing natural rubber is limited, furthermore land characterization particularly for soil and climate is important to be done. A survey using free method was conducted on 6,850 ha area which is divided in to 5 land units. Soil sampling was done in each land unit for chemical and physical analysis. The morphological characteristics were observed by 3 soil profile description. Land suitability was determined by matching soil and climate characteristics with rubber growth requirement. The result showed that Ultisol in Pulau Laut area has differrent variation among land unit., It characteristics as follow: effective depth >100 cm, in 40 – 80 cm from surface occured plinthite. Soil color 2.5 – 10 YR. Soil texture was silty clay loam, well soil drainage, CEC was low-medium level  (12,21 – 14,34 me/100g). Range of soil pH was 4,5 – 4,9 (low level). C-organic was very low (<2%). Soil nutrient status especially for N, P, K, Mg and Ca is very low category. The matching result  showed that Ultisol in Pulau laut area marginally suitable (S3) for developing natural rubber.

 

Keywords : Hevea brasiliensis, soil, ultisol, pulau laut.

 

Ringkasan

 

Informasi mengenai karakteristik tanah Ultisol di daerah Pulau Laut untuk pengembangan karet masih terbatas sehingga karakterisasi lahan terutama tanah dan iklim perlu dilakukan. Suatu survey dengan sistem bebas telah dilakukan pada lahan seluas 6.850 ha yang dibagi ke dalam lima satuan lahan. Pengambilan contoh tanah dilakukan pada setiap satuan lahan untuk dianalisa sifat kimia dan fisikanya. Karakteristik morfologi tanah dan diketahui dengan pencandraan terhadap tiga buah profil tanah. Penilaian potensi lahan dilakukan dengan memadankan karakteristik tanah dan iklim  dengan syarat tumbuh tanaman karet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ultisol di lokasi tersebut mempunyai tingkat keragaman berbeda di setiap satuan lahan. Dengan karakter secara umum adalah solum tanah >100 cm, pada lapisan 40 – 80 cm dijumpai plinthite. Warna tanah 2,5 YR – 10 YR . Tekstur tanah lempung liat berdebu (silty clay loam). Drainase tanah tergolong baik, KPK tanah (CEC) tergolong rendah-sedang (12,21 – 14,34 me/100g). pH tanah berkisar antara 4,5 – 4,9 dan tergolong rendah. Kandungan C-organik umumnya sangat rendah (<2%). Kondisi hara tanah terutama N, P, K, Mg dan Ca tergolong sangat rendah. Berdasarkan pemadanan antara karakteristik tanah, karakteristik iklim dan persyaratan tumbuh tanaman karet, Ultisol di daerah Pulau laut kurang sesuai (S3) untuk pengembangan tanaman karet.

 

Kata kunci : Hevea brasiliensis, tanah, ultisol, pulau laut.

 

PENDUGAAN HARGA HARIAN PADA FUTURES TRADING

DAN INTEGRASI PASAR KARET ALAM

 

Daily Price Estimation on Futures Trading and

Natural Rubber Market Integration

 

Sinung HENDRATNO

 

Summary

 

Natural rubber price is an important economic variable because it becomes an investment guidance and decision making data for the natural rubber industries such as big estate companies and smallholders. Experts often say that natural rubber price discovery faces risk and uncertainty because of the market failure. Futures trading as an institution is a popular instrument for price risk management. This research was conducted to estimate the daily of the natural rubber price in futures trading and find out how strong the horizontal and vertical market integrated.  Research was done by direct observation with simulation trading method in the futures trading and by secondary data analyses. The direct observation as a primary data was derived from TOCOM, while the secondary data from the International Rubber Study Group and Rubber Association of Indonesia. The estimation analysis of daily natural rubber prices used econometrics model, while the horizontal and vertical market integration analysis used the counted values of Pearson’s price correlation. The research results showed that the estimation of the daily natural rubber price for opening, highest, lowest, and closing price equations in futures trading was influenced by autoregresive and distributed lagged variables; there was inflexibility in the market institutions, technologies, and psychologies. The equations had a highly adjusted determination coefficient, with significant independent variables; the model had a highly accuration especially for opening price estimation. The analysis results of the horizontal and vertical natural rubber market integration among the world, regional, and local markets indicated a strong correlation.  This research results also showed that the natural rubber futures trading could function not only as a price discovery but also as a hedging, arbitrage, and investment. Investors were expected to be able to influence the natural rubber price discovery mechanisms and maintain rubber price fluctuations at the high level which could guarantee and increase the welfare of natural rubber industries including smallholder rubber.

 

Keywords :         Hevea brasiliensis, daily price, futures trading, and market integration

 

Ringkasan

 

Harga karet merupakan peubah ekonomi yang sangat penting karena akan menjadi pedoman usaha dan bahan pengambilan kebijakan bagi para  pelaku industri perkaretan baik perkebunan besar maupun rakyat. Seringkali pula disebutkan bahwa pembentukan harga karet menghadapi masalah risiko dan ketidak-pastian sebagai akibat dari gagalnya mekanisme pasar. Salah satu instrumen pengelola risiko dan ketidakpastian perubahan harga karet dapat dilakukan dengan kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa berjangka. Penelitian ini melakukan pendugaan harga karet alam harian yang terjadi di bursa berjangka karet dan mengetahui seberapa besar harga karet terintegrasi secara horisontal dan vertikal di berbagai tingkat pasar.  Penelitian dilakukan dengan pengamatan terlibat melalui simulasi perdagangan di bursa berjangka dan menganalisis data sekunder. Data primer pengamatan terlibat diperoleh dari TOCOM, sedangkan data sekunder diperoleh dari The International Rubber Study Group dan Gabungan Perusahaan Karet Indonesia. Analisis pendugaan harga karet alam harian menggunakan model ekonometrika, sementara itu analisis integrasi pasar karet alam secara horisontal dan vertikal menggunakan perhitungan besaran korelasi harga Pearson.  Hasil analisis menunjukkan bahwa estimasi harga karet alam harian untuk harga pembukaan,, harga tertinggi, harga terendah, dan harga penutupan di bursa berjangka dipengaruhi oleh peubah-peubah autoregresif dan distributed lagged dari harga-harganya sendiri yang mencerminkan adanya kekakuan institusi, teknologi, dan psikologi pasar. Estimasi menghasilkan koefisien determinasi terkoreksi yang tinggi dengan pengaruh peubah-peubah independen yang signifikan; model juga mempunyai keterandalan yang tinggi khususnya untuk pendugaan harga pembukaan. Sementara itu analisis tingkat integrasi harga karet alam baik secara horisontal dan vertikal di pasar dunia, regional, dan lokal disimpulkan sangat kuat dan berhubungan erat. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa futures trading komoditas karet alam mampu berfungsi sebagai pembentuk harga, selain itu juga menjadi alat lindung-nilai, arbitrase, dan investasi. Para investor diharapkan dapat memasuki bidang investasi ini untuk mempengaruhi pembentukan harga karet, sehingga fluktuasinya tetap terjaga pada taraf yang tinggi dan wajar, yang dapat menjamin kesejahteraan pelaku industri karet termasuk para petani.

 

Kata kunci: Hevea brasiliensis, harga harian, bursa berjangka, dan integrasi pasar

 

PROSES PEMBUATAN KARET VISKOSITAS MANTAP JENIS SIR 20 CV PADA FASA PADAT

 

Development of SIR 20 Constant Viscosity

Production on Solid Phase

 

Adi CIFRIADI, M. Irfan FATHURROHMAN, Yoharmus SYAMSU,

N. TEDJAPUTRA1)  dan Emil BUDIANTO2)

 

 

Summary

 

SIR 20 CV (constant viscosity)  is a specialty crumb rubber which has been produced commercially by some of Indonesian crumb rubber factories. There has been a great demand of such rubber by foreign consumers.  The production of this type of SIR 20 is done by soaking crepe in the stabilizing agent, hydroxyl ammonium sulfate solution,  prior to crumbling and drying in the mechanical drier. Hydroxyl ammonium sulfate is a solid neutral salt derived from a reaction of an organic base with sulfuric acid. In the solution form, hydroxyl ammonium sulfate  ionizes and liberates the sulfuric acid ions to the water. This makes  the solution into acid and very corrosive condition, hence it may damage the rubber processing machine  fast. The corrosiveness of this stabilizing agent should be reduced. An effort was made to reduce its corrosiveness by neutralizing stabilizing agent solution before being added on to the crumb just coming out from the drier. Viscosity stabilizing reaction was facilitated in the extruder while homogenization process of rubber crumbs went on. The experiments were  conducted by mixing modified viscosity stabilizing agent solution, modified-HNS, at dosage of  1,5; 5,0; dan 7,5 g/kg dry rubber. The crumb rubber produced was evaluated by analyzing its technical qualities, material homogensity test, vulcanization characteristics of ACS-1 rubber compound and physical properties of vulcanizate. The result showed that the production of SIR 20 with constant viscosity in the solid phase at commercial scale could be done by using modified-HNS solution as stabilizing agent, at  7,5 g/kg dry rubber dosage. The crumb rubber produced had  good technical qualities. Modified-HNS solution which reacted with the rubber molecule did not show amu significant effect to vulcanization characteristic  and vulcanizate properties of SIR 20 CV produced. Modified-HNS solution had almost neutral pH and its corrosiveness was lower than HNS solution. Therefore so it was suggested to use modified-HNS solution as stabilizing agent for SIR 20 CV production to minimize the corrosiveness effect on processing machinery.

 

Key words: SIR 20 CV, HNS-modified, solid phase reaction.

 

 

Ringkasan

 

Karet viskositas mantap jenis SIR 20 adalah suatu jenis karet remah khusus yang diminati konsumen dan telah diproduksi secara komersial di beberapa pabrik karet remah Indonesia, menggunakan bahan pemantap hidroksil amonium sulfat. Pembuatan SIR 20 viskositas mantap ini dilakukan melalui perendaman lembaran krep dalam larutan bahan pemantap sebelum diremahkan, kemudian dikeringkan di dalam mesin pengering. Hidroksil amonium sulfat adalah suatu garam netral padat yang berasal dari suatu basa organik dengan asam sulfat. Dalam bentuk larutan, hidroksil ammonium sulfat terionisasi kembali dengan melepaskan ion-ion dari asam sulfat ke dalam air. Akibatnya larutan tersebut bersifat asam dan sangat korosif, sehingga mesin-mesin pengolahan karet cepat aus dan rusak. Sifat korosif dari bahan pemantap ini harus dikurangi. Upaya pengurangan risiko korosi ini dipelajari melalui penurunan derajat keasaman larutan bahan pemantap dan pembubuhan pada remahan karet pada saat remahan karet baru keluar dari mesin pengering. Reaksi pemantapan viskositas karet difasilitasi di dalam ekstruder pada saat proses homogenisasi remahan karet tersebut. Percobaan dilakukan dengan mencampurkan larutan bahan pemantap, HNS-modifikasi dengan dosis 1,5; 5,0; dan 7,5 gram/kg karet kering. Karet remah yang dihasilkan dievaluasi melalui analisis mutu teknisnya, uji homogenitas bahan, sifat-sifat vulkanisasi dan sifat-sifat fisika vulkanisatnya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pembuatan karet viskositas mantap jenis SIR 20 dalam fasa padat pada skala komersial dapat dilakukan dengan baik mengunakan larutan HNS-modifikasi sebagai bahan pemantap dengan dosis 7,5 gram/kg karet kering serta menghasilkan mutu teknis yang baik pula. Larutan HNS-modifikasi yang telah bereaksi dengan karet alam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap sifat-sifat vulkanisasi dan sifat-sifat fisika vulkanisat SIR 20 viskositas mantap yang dihasilkan. Larutan HNS-modifikasi mempunyai pH mendekati netral dan memiliki tingkat korosifitas lebih rendah dibanding larutan HNS tanpa modifikasi, dengan demikian lebih layak digunakan sebagai bahan pemantap viskositas karet agar efek korosinya pada permesinan dapat diminimumkan.

 

Kata kunci : SIR 20 CV, HNS-modified, solid phase reaction.

Trackback from your site.

Leave a comment

- Online Now
Visits Today: -
Pageviews Today: -
New Visitors Today: -
Returning Visitors Today:
New Visits Today: -%
Visits Yesterday: -
Pageviews Yesterday: -
New Visitors Yesterday: -
Returning Visitors Yesterday: -
New Visits Yesterday: -%
Total Visits: -
Total Pageviews: -