Ringkasan Jurnal Tahun 2009 No. 1

Written by admin on November 4, 2011. Posted in Ringkasan Jurnal

IDENTIFIKASI KLON KARET MELALUI KARAKTERISTIK DAUN

I. Variasi Ukuran Daun

Rubber Clone Identification through Leaf Characteristic

I. Various Leaf Size

Irwan SUHENDRY dan Syarifah Aini PASARIBU

Summary

High growth of rubber plant uniformity depends on clone purity in the planting. So far identification of rubber clones has been made only by limited technicians.  Their knowledge to characterize rubber clones is obtained from years of experience and it tends to determine by feeling after combining all main characteristics they have recorded. Description of some clone characteristic for every part of plant (leaf, crown, branch, stem, bark, etc.) has been determined but it is difficult to implement because all and specific characters of each clone should be remembered. Besides, some characters can not be identified due to the imperfect plant growth.  It is estimated that leaf can be used as clone characteristic because its specific character are stable in various environmental conditions.  Simple and easy identification techniques with accurate results are required very much to create homogene plants with high productivity.

 

A research to identify rubber clones through leaf characteristics was done from October 2008 to  January 2009.  The clones used were taken from a hybridization garden namely PM I0 with abovate leaf, RRIC 100 with oval leaf and IRR 100 with elliptical leaf.  A number of 25 leaves of each clone were collected randomly. The leaves had normal form and condition (size, shape, color, defect) and visually represented leaf appearance in a plant such as optimal growth, old age and stagnant growth.  Leaves were numbered  and then transferred to digital format through scanner. Each petiole was separated into three positions viz. left, middle and right but in the same file using Adobe Photoshop program.

 

The research results showed that all parameters indicated differences and the conversion values were significantly different among the clones.  It was concluded that those parameters could be used for the identification of rubber done characteristics.  In addition, some parameters also showed significant differences among petioles of clone and leaf lamina  of petiole and clone. The differences showed slight variation values and could be eliminated by selective sample collection and accurate size of leaves. The computer operator also might produce differences in the observed parameters due to their different skills in using computers.  Analysis results of each leaf indicated that all of observed parameters showed specific characters among clones of which each clone could be distinctly differentiated.  However the differences were not relatively contrasted on leaves. Most  characters represented leaf characteristics could be used as quantitative characteristics for rubber clone identification. Middle leaf size was more dominant and showed no deviation from both leaf sides, therefore, it could be chosen as a sample for clone identification by leaves.

 

Keywords: Hevea brasiliensis,  leaf,  identification, length, width, angle

 

Ringkasan

 

Keseragaman pertumbuhan tanaman sangat tergantung kepada kemurnian klon yang ditanam. Selama ini, identifikasi klon karet hanya  dilakukan oleh tenaga terlatih yang jumlahnya sangat terbatas.  Pengetahuan mereka membedakan ciri setiap klon karet diperoleh dari pengalaman bekerja bertahun-tahun dan lebih cenderung ditetapkan berdasarkan feeling setelah mengkombinasikan semua penciri utama yang mereka ingat dan ketahui. Deskripsi mengenai beberapa penciri klon telah dirumuskan untuk setiap bagian tanaman (daun, percabangan, tajuk, batang, kulit, dll), tetapi sulit diimplementasikan karena harus mengingat semua karakter dan mengetahui karakter mana saja yang spesifik untuk setiap klon.  Selain itu, beberapa karakter tidak dapat diidentifikasi karena tanaman belum berkembang secara sempurna. Diperkirakan daun dapat dijadikan penciri klon karena memiliki beberapa karakteristik spesifik daun terlihat stabil pada berbagai kondisi lingkungan. Teknik identifikasi yang mudah dilaksanakan dengan akurasi yang tinggi sangat dibutuhkan untuk menciptakan suatu pertanaman yang seragam dan produktivitas yang tinggi.

 

Penelitian ini dilakukan dari bulan Oktober 2008-Januari 2009 dengan menggunakan klon PM 10 (daun berbentuk abovate), RRIC 100 (daun berbentuk oval) dan IRR 107 (daun berbentuk elips) yang diambil dari kebun persilangan secara acak sebanyak 25 tangkai daun untuk masing-masing klon. Tangkai daun yang dipilih memiliki bentuk dan kondisi ketiga helaian daun normal (ukuran, bentuk, warna, kecacatan), secara visual mewakili tampilan daun-daun lain di dalam satu tanaman, sudah tumbuh optimal, cukup tua, dan tidak mengalami pertumbuhan lanjutan. Tangkai daun contoh diberi nomor urut, kemudian daun ditransfer ke dalam format digital melalui scanner, dan setiap tangkai dipisahkan menjadi helaian kiri, tengah, dan kanan di dalam satu file yang sama dengan program adobe photoshop.

 

Hasil penelitian ini menunjukkan variasi  seluruh parameter alamiah serta nilai-nilai konversinya berbeda sangat nyata antar klon, sehingga parameter-parameter tersebut dapat dijadikan penciri dalam identifikasi klon karet. Disamping itu, sebagian parameter juga menunjukkan perbedaan nyata antar  tangkai daun dalam klon, serta antar helaian daun dalam tangkai daun dan klon. Perbedaan ini ditunjukkan dengan nilai keragaman yang tidak terlalu besar dan diperkirakan pengaruhnya dapat ditiadakan apabila teknik pemilihan contoh dapat dilakukan lebih cermat dan selektif, serta pengukuran dilakukan lebih akurat. Dari analisis terhadap setiap individu daun diketahui bahwa seluruh parameter yang diamati menunjukkan kekhasan karakter antar  klon, dimana setiap klon dapat dibedakan secara tegas dengan klon lain. Akan tetapi perbedaan tersebut relatif tidak terlalu kontras antar helaian daun. Proporsi karakter yang paling banyak mewakili sifat daun dapat dijadikan penciri kuantitatif dalam identifikasi klon karet. Bentuk dan ukuran daun tengah relatif lebih dominan dan menunjukkan variasi yang tidak terlalu menyimpang dari daun helai lainnya, sehingga helaian daun tengah dapat dipilih sebagai daun contoh untuk identifikasi klon melalui daun tanaman.

 

Kata kunci:          Hevea brasiliensis, daun, identifikasi, panjang, lebar, sudut

 

 

IDENTIFIKASI KLON KARET ANJURAN DENGAN TEKNIK RAPD

Identification of Recommended Rubber Clones By RAPD Technique

 

Fetrina OKTAVIA, Mudji LASMININGSIH dan KUSWANHADI

 

Summary

 

One of the important steps to obtain a superior rubber planting material is by purification process of the clones in budwood garden. The problem encountered is the difficulty in differentiating among clones. Today the purification process is still based on the difference of morphology. Characteristic of morphology is easily influenced by environment so it is more difficult to differentiate among clones. Consequently, the result of purification process often less accurate. The other problem is limited manpower with capability of making purification process. As seed breeders Indonesian Rubber Research Institute should maintain the identity of recommended clones, therefore  a method of standard assay should be provided. RAPD is one of the methods which can be used for identification of rubber clones. It is found to be relatively effective and simple. RAPD analysis is free from environment effect and can be used in characterization of plant at early step of development. Of the 21 commercial recommended clones of Indonesian Rubber Research Institute, identification has been done for 10 clones by 12 selected primers. UPGMA analysis of 10 clones has divided these clones into two big groups with a genetic diversity of 17%. It was concluded that 9 of 12 primers i.e. OPN-05, OPN-06, OPN-08, OPN-10, OPN-11, OPN-17, OPH-01, OPH-05 and OPH-19 could be used for identification of analyzed ten Indonesian recomended clones, so that it will help to accelerate the purification process of  budwood garden.

 

Keywords: Hevea brasiliensis, RAPD, identification , clones, primer

 

 

Ringkasan

Salah satu tahapan penting dalam menghasilkan bibit karet unggul adalah proses pemurnian klon sebagai sumber mata okulasi di kebun kayu okulasi/entres. Permasalahan yang dihadapi dalam pemurniaan ini adalah kesulitan dalam membedakan antar klon. Saat ini pemurnian klon masih dilakukan berdasarkan perbedaan morfologi. Sifat morfologi mudah dipengaruhi oleh lingkungan sehingga mempersulit dalam membedakan klon-klon yang ada. Akibatnya  seringkali proses pemurnian klon kurang akurat. Permasalahan lain yang dihadapi adalah keterbatasan jumlah tenaga yang mampu melakukan pemurnian. Sementara itu, sebagai penghasil seed breeder Pusat Penelitian Karet harus terus menjaga identitas klon yang dianjurkan, sehingga metode uji baku perlu ditetapkan. RAPD merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi klon-klon tanaman karet secara efektif dan sederhana. Penggunaan teknik RAPD bebas dari pengaruh sensitivitas lingkungan dan dapat digunakan untuk karakterisasi tanaman pada tahap awal perkembangan. Dari 21 klon anjuran komersial Pusat Penelitian Karet Indonesia, sudah dilakukan identifikasi terhadap 10 klon dengan menggunakan 12 primer terpilih. Analisis UPGMA terhadap 10 klon tanaman karet tersebut telah berhasil membaginya ke dalam dua kelompok besar dengan diversitas genetik sebesar 17%. Sembilan dari 12 primer yang di uji yaitu primer OPN-05, OPN-06, OPN-08, OPN-10, OPN-11, OPN-17 OPH-01, OPH-05 dan OPH-19 dapat digunakan untuk mengidentifikasi 10 klon anjuran Indonesia yang di analisis sehingga dapat membantu mempercepat proses pemurnian kebun entres.

 

Kata kunci : Hevea brasiliensis,  RAPD, identifikasi, klon, primer

 

KETAHANAN BEBERAPA KLON KARET ANJURAN TERHADAP KEKERINGAN

Resistance of Several Recommended Rubber Clones to Drought

 

Khaidir AMYPALUPY dan  Thomas WIJAYA

 

Summary

 

Rubber cultivation is often faced to drought because of rainfall variation. How rubber response to drought was investigated in this experiment.  The objective of the research was to determine the resistance of several recommended clones to drought and examine the capability of clones to recover from water stress.  This research consisted of two activities: 1) The clone resistance to drought and 2) The ability of rubber clone to recover from water stress.  The first experiment used a randomized block design with five  recommended clones namely BPM 24, PB 260, GT 1, RRIC 100, and RRIM 712 with three replications.  After rubber had reached two whorls stage, watering was ceased until plant mortality. Treatments tested were seven levels of water stress i.e.  K0 (normal), K1 (wrinkle upper part of stem), K2 (first whorls was 50% yellowing), K3 (first whorl was shed and the second whorl was yellowing), K4 (second whorl was 75% shed), K5 (all whorl were shed, K6 (stem became yellow, dry and wrinkle).  The parameters observed were soil water content, relative water content, proline content, stem diameter, number of leaves, shoot and root dry weight, and water consumption.  The experiment showed that BPM 24 clone had capabilitly to withstand longer drought i.e 47 days without watering compared with the other clones.  BPM 24 clone also had better recovery after water stress compared with the other clones.

 

Keywords: Hevea brasiliensis, water stress, rubber clones, growth

 

 

Ringkasan

 

Budidaya tanaman karet sering dihadapkan dengan kekeringan karena adanya variasi curah hujan. Bagaimana respons klon karet terhadap kekeringan diteliti dalam penelitian ini. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ketahanan beberapa klon karet anjuran terhadap kekeringan dan kemampuan pulih kembali setelah mengalami kekeringan. Penelitian ini terdiri atas 2 kegiatan, yaitu 1) Tingkat ketahanan klon karet terhadap kekeringan, dan 2) Kemampuan klon karet untuk pulih kembali setelah mengalami kekeringan. Penelitian pertama menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan lima klon anjuran, yaitu BPM 24, PB 260, GT 1, RRIC 100, dan RRIM 712 dengan lima ulangan. Setelah bibit mencapai pertumbuhan dua payung penuh, penyiraman dihentikan sampai tanaman mati. Penelitian kedua menggunakan rancangan acak lengkap terdiri atas 7 perlakuan dan diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji terdiri atas 7 tingkat kekeringan, yaitu (KO) normal, (K1) batang atas mengeriput (K2) payung daun pertama menguning 50%, (K3) payung daun pertama rontok dan payung kedua menguning 50%, (K4) payung dua rontok >75%, (K5) payung pertama dan kedua rontok semua, dan (K6) batang menguning, kering dan keriput. Peubah yang diamati adalah kandungan air tanah, kandungan air daun relatif, diameter batang, jumlah tangkai daun, berat kering akar, berat kering tunas, kandungan prolin dan jumlah konsumsi air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa klon BPM 24 mempunyai kemampuan bertahan hidup dalam kondisi kekeringan yang lebih lama, yaitu 47 hari, dibandingkan dengan klon lainnya. Klon BPM 24 juga mempunyai kemampuan pulih kembali lebih baik setelah mengalami kekeringan dibandingkan dengan klon lainnya.

 

Kata kunci : Hevea brasiliensis, kekeringan, klon karet, pertumbuhan

 

 

PEMANFAATAN BAKTERI PELARUT FOSFAT UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KARET

Use of Phosphate Solubilizing  Bacteria to Improve Rubber Growth

 

Umi HIDAYATI dan Thomas WIJAYA

 

Summary

 

Fertilizer is one of the production inputs in rubber plantation. Due to the price of fertilizer tends to increase, it is necessary to find alternative nutrient for rubber. By using microorganism such as phosphate solubilizing bacteria (PSB), it is possible to improve the availability of phosphate for rubber growth. For this reason, a study of the use of PSB was conducted. This research was done to study the effect using of PSB to improve rubber growth. The experiment was conducted at the glass house of Sembawa Research Centre, arranged in a factorial completely randomized design (CRD). It consisted of two factors and four replications. First factor was the application of bacteria: (1) without application of PSB, and (2) application of PSB. Second factor was the dose of SP 36 fertilizer application: (1) without SP36 fertilizer application, (2) 25% of  recommended dose of SP36, (3) 50% of  recommended dose of SP36, and (4) 100% of  recommended dose of SP36. The observations included plant height, stem diameter, and shoot dry weight, soil nutrient analysis (soil pH and P content) and leaf nutrient analysis (N, P, K, and Mg). The research results revealed that the application of PSB in combination with application of SP36 could improve shoot dry weight of rubber. The application of  SP36 fertilizer was found more effective on growth by combination with PSB application.

 

Keywords :         Hevea brasiliensis, fertilizer, phosphate solubilizing bacteria, growth

 

Ringkasan

 

Pupuk merupakan salah satu sarana produksi yang dibutuhkan pada perkebunan karet. Sarana produksi tersebut semakin lama semakin meningkat harganya, sehingga diperlukan suatu terobosan agar kebutuhan hara untuk tanaman karet tetap terpenuhi. Salah satu cara dalam membantu pemenuhan kebutuhan hara dengan menggunakan mikrobia. Bakteri pelarut fosfat merupakan salah satu mikrobia yang dapat membantu peningkatan ketersediaan hara fosfat untuk tanaman. Oleh karena itu pemanfaatan bakteri tersebut untuk tanaman karet perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat bakteri pelarut fosfat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman karet. Percobaan dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Sembawa dengan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor dan 4 ulangan. Faktor pertama yaitu inokulasi bakteri pelarut fosfat meliputi : (1) tanpa aplikasi bakteri pelarut fosfat, dan (2) aplikasi bakteri pelarut fosfat. Faktor kedua yaitu dosis pupuk fosfat menggunakan SP 36, meliputi (1) tanpa SP 36, (2) menggunakan 25% dosis anjuran SP 36, (3) menggunakan 50% dosis anjuran SP36, dan (4) menggunakan 100% dosis anjuran SP 36. Pengamatan pertumbuhan tanaman meliputi tinggi tanaman, diameter batang, dan berat kering tanaman. Analisa kandungan hara tanah meliputi pH dan P. Analisa hara daun meliputi N, P, K, dan Mg.  Hasil penelitian menunjukkan inokulasi bakteri pelarut fosfat yang dikombinasikan dengan penggunaan SP 36 dapat meningkatkan berat kering tanaman karet. Penggunaan SP 36 lebih efektif untuk pertumbuhan dengan kombinasi perlakuan bakteri pelarut fosfat.

 

Kata kunci :         Hevea brasilieneis, pupuk, bakteri pelarut fosfat, pertumbuhan

 

 

ISOLASI GEN PENYANDI ACC OKSIDASE PADA TANAMAN KARET H. Brasiliensis Muell. Arg. DENGAN PENYARINGAN PUSTAKA cDNA

Isolation of Gene Encoding for ACC Oxidase in H. brasiliensis Muell. Arg. by Screening of cDNA Library

 

KUSWANHADI dan Pascal MONTORO1)

 

Summary

 

Ethylene is a major stimulating factor for natural rubber production in H. brasiliensis and often applied in the form of Ethephon, an ethylene releaser. In a positive feedback type mechanism, the application of ethylene leads to the enhanced expression of genes involved in ethylene biosynthesis such as ACC oxidases, which are also responsive to wounding. The aim of this research was to isolate genes encoding for ACC oxidase enzymes in H. brasiliensis. A full-length cDNAs of 1115 bp was isolated from cDNA library of bark, named and submit as HbACO1 (EMBL accession AM743170). It has an ORF of 916 bp and encoding for an ACC oxidase enzyme of 312 amino acids. The genomic structure of the HbACO1 was 1456 pb, and consisted of 3 introns and 4 exons. Their splicing site was GT/AG jonction. Based on the identified motif of the binding site for enzyme activity, it was suggested that the ACC oxidase enzyme encoded by this gene isoforme would be active. Further study was required to reveal the expression of this HbACO1 in response to internal and external factors, especially in relation to ethylene stimulation and wounding. Besides, the attemp in isolation of another members of the multigenic family should be continued in order to know well the regulation of the ethylene biosynthesis in rubber tree.

 

Keywords: Hevea brasiliensis, ACC oxidase, ethephon, ethylene, gen, cDNA library, DNA, RNA

 

Ringkasan

 

Etilen merupakan stimulan yang umum digunakan untuk meningkatkan produksi tanaman karet, diaplikasikan sebagai ethephon yang merupakan penghasil etilen. Dalam tipe mekanisme umpan balik yang positif, etilen akan menginduksi beberapa gen yang terkait dengan biosintesis etilen dalam tanaman, antara lain gen penyandi ACC oksidase, yang juga respon terhadap pelukaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi gen pengkode ACC oksidase pada tanaman karet. Sebuah cDNA berukuran 1115 pb telah berhasil diisolasi dari pustaka cDNA kulit, dinamakan HbACO1 dan didaftarkan dalam bank data EMBL dengan kode akses AM743170. cDNA ini mempunyai ORF 916 pb dan menyandikan enzim berukuran 312 asam amino. Struktur genomiknya berukuran 1456 pb, terdiri atas 4 intron dan 3 ekson. Splicing site  intronnya adalah GT/AG. Berdasarkan asam amino pembentuk motif binding-site yang berhasil diidentifikasi dapat disimpulkan bahwa HbACO1 ini akan menyandikan enzim ACC oksidase yang aktif. Penelitian lebih lanjut mengenai ekspresi dari gen tersebut dalam berbagai jaringan tanaman sebagai respons terhadap faktor internal maupun eksternal, khususnya yang berkaitan dengan stimulasi ethylen dan pelukaan, perlu dilakukan. Di samping itu,  usaha untuk mengisolasi anggota yang lain dari kelompok multigenik penyandi ACC oksidase juga perlu dilanjutkan agar regulasi biosintesis etilen dalam tanaman karet dapat diketahui.

 

Kata Kunci :         Hevea brasiliensis, ACC Oxidase, ethephon, etilen, gen, DNA Library, DNA, RNA

 

 

PENGARUH TANAMAN SELA UBI KAYU TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN DAN PENGURASAN HARA TANAH

Effect of Cassava Intercropping on Growth of  Immature Rubber Trees and Soil Nutrient Uptake

 

Priyo Adi NUGROHO, ISTIANTO, Zaida FAIRUZAH dan KARYUDI

Summary

 

Minimal land use efficiency during the establishment of rubber plantation has resulted in low eficiency of sunlight harvesting. The intercropping of legume cover crops under rubber is an effort to improve land use efficiency in the rubber plantation.  In smallholder rubber, intercropping between rubber with food crops or horticulture are usually done to increase land use efficiency. In the last few years, the demand of cassava has increased significantly. The imbalance between land availability and cassava demand has given an idea of using immature rubber area for cassava planting, particularly in the area under dispute cultivated by people.  The effect of cassava planting in the rubber interrows on rubber growth was observed by measuring rubber girth.  Soil nutrient status, epecially N, P, K, and Mg contents, was determined by taking soil samples in both locations namely rubber area with and without cassava intercropping.  Nutrient uptake potency was measured by using biomass data and cassava nutrient status.  White root disease incidence was observed by identifying rubber condition in both locations. The results showed that cassava intercropping retarded the rubber growth, indicated by slow girth increment in the area with cassava intercropping (5.21 cm) compared with that in the control (6.90 cm), and with coefficient variation of 22.5% and 16.1%, respectively. It was noted that the uptake of N, P, K, and Mg occurred between rubber plants and cassava.  The uptake of those nutrients at cassava of four months was 6 g, 0.4 g, 0,29 g and 0.4 g, respectively.  The white root disease attact at the rubber plants with cassava intercropping was relatively high, viz. 37.6%.

 

Keywords:          Hevea brasiliensis, immature rubber, nutrient uptake, cassava, white root disease

 

Ringkasan

 

Rendahnya efisiensi dalam penggunaan lahan pada awal pembangunan perkebunan karet menyebabkan banyak energi matahari yang tidak terpanen. Penggunaan LCC di gawangan tanaman karet merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan yang dilakukan oleh perkebunan besar. Di tingkat petani upaya yang dilakukan adalah penggunaan tanaman sela, seperti tanaman palawija dan hortikultura. Dalam beberapa tahun terakhir permintaan pasar akan ubi kayu cukup tinggi. Ketidakseimbangan antara ketersediaan lahan dan permintaan ubikayu menyebabkan timbul pemikiran di masyarakat untuk menanam ubi kayu pada tanaman karet TBM, terutama pada lahan perkebunan yang masih dalam status sengketa dan digarap oleh masyarakat. Untuk mengetahui pengaruh penanaman ubi kayu terhadap pertumbuhan tanaman karet, dilakukan pengukuran lilit batang tanaman karet pada areal yang tidak ditanami dan ditanami ubi kayu. Status hara tanah juga ditentukan dengan mengambil tiga sampel tanah secara komposit di kedua lokasi tersebut untuk dianalisis kandungan N,P,K dan Mg. Potensi pengurasan hara dihitung melalui pendekatan serapan hara yaitu dengan memanfaatkan data biomasa dan status hara tanaman ubi kayu. Tingkat serangan JAP juga diamati dengan melakukan identifikasi di areal yang ditanami dan tidak ditanami ubi kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman ubi kayu menekan pertumbuhan tanaman karet dengan rata-rata lilit batang 5,21 cm pada areal yang ditanami ubi kayu dan 6,90 cm pada areal kontrol dengan nilai CV masing-masing 22,5% dan 16,1%. Pengurasan hara tanah  N,P,K dan Mg terjadi pada tanaman karet yang ditanami ubi kayu. Potensi pengurasan hara untuk setiap tanaman ubi kayu yang berumur 4 bulan berturut-tutur adalah 6 g N, 0,4 g P, 0,29 g K dan 0,4 g Mg. Tingkat serangan JAP yang menginfeksi tanaman karet pada areal tanaman sela ubi kayu  tercatat cukup tinggi yaitu 37,6%.

 

Kata Kunci : Hevea brasiliensis, tanaman belum menghasilkan, pengurasan hara, ubi kayu, jamur akar putih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KERAGAAN DAN USULAN ALTERNATIF STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR KARET INDONESIA

Performance and Alternative Proposals of Export Development Strategies for Indonesian Natural Rubber

 

Bambang DRADJAT1) dan Sinung HENDRATNO

 

Summary

 

This research was focussed on the export development of natural rubber with respect to its growth and values. Based on this development, the aim of this research was to propose alternative development strategies for natural rubber in future. The Analysis Hierarchie Process (AHP) framework of export business of natural rubber was arranged consecutively from focuss or goals, factors, actors, objectives of actors, and alternative strategies for actors. Each components of goals, factors, actors, objectives, and alternative strategies were assessed on the basis of their importance by using Saaty scales. Results of interviews with experts were analyzed by using AHP technique. The development of natural rubber export from 2000 to 2006 showed that the competitiveness position of Indonesia in the world market was fairly good. In order to increase the growth and values of natural rubber export, the experts concluded that smallholders through their organizations and small-scale business were the main actors. This had to be supported by the government through deregulation related to the natural rubber commodity. The objectives of actors could be achieved by combining strategies such as: a) the provision of capital in smallhoder rubber development, b) the development of farmers’ and other actors’ institutions, as well as extention education, education, training, and services institutions, c) reduced cost and time in processing land sertification and land use right (Hak Guna Usaha/HGU), d) the development of transportation facilities from farm roads to export harbour, e) the development of quality standard, and f) improved access for farmers to financial institution (bank). The roles of the government as facilitators and regulators are fundamental in implementing such development strategies of natural rubber.

 

Keywords : Rubber, export, role of  government, and objectives and strategies

 

Ringkasan

 

Penelitian ini menitikberatkan pada pengembangan ekspor karet dilihat dari pertumbuhan dan nilai ekspor. Berdasarkan perkembangan ekspor karet, penelitian ini bertujuan untuk mengajukan alternatif strategi pengembangan ekspor karet di masa mendatang. Kerangka Analysis Hierarchie Process (AHP) tentang  masalah bisnis ekspor karet disusun secara berjenjang dengan menyusun fokus atau sasaran yang ingin dicapai, mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi, mengidentifikasi aktor (pelaku dan fasilitator), menetapkan tujuan yang ingin dicapai, dan mengidentifikasi alternatif tindakan (strategi) yang perlu dilakukan oleh aktor. Setiap komponen dalam sasaran, faktor, aktor, tujuan dan alternatif strategi dinilai tingkat kepentingannya dengan menggunakan skor berdasarkan skala dasar Saaty. Hasil wawancara dengan pakar sebagai nara sumber dianalisis dengan teknik AHP. Perkembangan ekspor karet dari tahun 2000 – 2006 menempatkan posisi daya saing Indonesia di pasar dunia cukup baik. Dalam rangka meningkatkan nilai dan pertumbuhan ekspor karet tersebut, para pakar menilai perkembangan pasar internasional sangat penting. Petani perkebunan karet rakyat terutama yang berhimpun dalam organisasi petani (Koperasi) dan UKM menjadi aktor utama untuk ekspor karet dengan dukungan deregulasi terkait dengan komoditas tersebut. Tujuan pengembangan ekspor karet dapat dicapai  melalui kombinasi strategi seperti: a) penyediaan modal untuk pengembangan perkebunan karet, b) pengembangan kelembagaan petani dan pelaku usaha lain serta pengembangan pendidikan, penyuluhan, pelatihan dan pembinaan, c) pembiayaan urusan sertifikasi lahan dan HGU dipercepat dan diperingan, d) pengembangan fasilitas transportasi dari jalan usahatani hingga pelabuhan, e) pengembangan standar mutu, dan f) penyediaan skim kredit. Peran pemerintah sebagai fasilitator dan regulator sangat penting dalam penerapan strategi pengembangan ekspor karet.

Kata kunci: karet, ekspor, peranan pemerintah, tujuan dan strategi.

Trackback from your site.

Leave a comment

- Online Now
Visits Today: -
Pageviews Today: -
New Visitors Today: -
Returning Visitors Today:
New Visits Today: -%
Visits Yesterday: -
Pageviews Yesterday: -
New Visitors Yesterday: -
Returning Visitors Yesterday: -
New Visits Yesterday: -%
Total Visits: -
Total Pageviews: -