Segenap Karyawan Balai Penelitian Sungei Putih Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1435 H

Ringkasan Jurnal Vol. 28 No. 1 2010

1

POTENSI KEUNGGULAN KLON KARET HARAPAN

IRR SERI 200 DARI HASIL SELEKSI  POHON INDUK

Potency of Promising Rubber Clones IRR 200 Series

from Ortet Selection

AIDI-DASLIN, SAYURANDI dan Syarifah Aini PASARIBU

 

 

Summary

 

                Rubber breeding program in Indonesia has produced many superior clones as latex  and timber yielders. Cultivation of superior clones has increased significantly productivity and national natural rubber competitiveness. Producing more superior rubber clones has been done through hand pollination and ortet selection programs at Sungei Putih Research Centre since 1985 with the purpose of obtaining superior genotypes as high latex yielders with good secondary characteristics.  The selection result of PBIG (Prang Besar Isolated Garden) seedling population in  North Sumatra has produced some potential genotypes developed as superior rubber clones. The genotypes have been selected from this ortet, retested in further trials at the experimental garden of  Sungei Putih Research Centre  and then registered as IRR 200 series promising clones.  The result of evaluation in further trials indicated that two clones were potential as latex-timber clones, namely IRR 272 and IRR 284.  These clones had vigorous growth before and after tapping. Girth growth in immature period (four years old) was around 46.1 – 47.5 cm.  Girth increment before tapping was around 11.9 – 12.8 cm/year while after tapping around 4.8 – 4.9  cm/year.  Average dry rubber yield over four years tapping of clones IRR 272 and IRR 284 was 66.56 g/tapping/tree and 65.48 g/tapping/tree, respectively.  Total wood volume was 0.80 m3/tree and 1.24 m3/tree, respectively.

 

Keywords: Hevea brasiliensis, further trial,  promising clones, IRR 200 series

 

 

Ringkasan

 

Program pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet unggul sebagai penghasil lateks dan kayu. Penanaman klon unggul secara nyata telah  meningkatkan produktivitas dan daya saing karet alam nasional. Untuk memperoleh klon-klon yang lebih unggul dilakukan dengan program persilangan buatan dan seleksi pohon induk (ortet). Kegiatan ini telah dilakukan di Balai Penelitian Sungei Putih sejak tahun 1985 sampai dengan saat ini dengan tujuan  mendapatkan genotipe unggul sebagai penghasil lateks tinggi dan memiliki karakteristik sekunder yang baik. Hasil seleksi pohon induk dari populasi tanaman semaian PBIG (Prang Besar Isolated Garden) yang ada di Sumatera Utara, telah menghasilkan beberapa genotipe yang potensial dikembangkan sebagai klon karet unggul.  Genotipe-genotipe terpilih dari seleksi pohon induk  tersebut, diteruskan ke tahap uji lanjutan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih dan diregistrasi menjadi klon harapan IRR seri 200. Dari hasil evaluasi diperoleh dua klon yang memiliki potensi sebagai klon penghasil lateks dan kayu yaitu klon IRR 272 dan IRR 284. Klon-klon tersebut memiliki pertumbuhan yang jagur baik pada masa sebelum disadap maupun setelah disadap. Pertumbuhan lilit batang pada umur empat tahun berkisar 46,1 – 47,5 cm, laju  pertambahan lilit batang sebelum sadap antara 11,9 – 12,8 cm/th, pada masa penyadapan antara 4,8 – 4,9 cm/th. Rata-rata hasil karet kering selama empat tahun penyadapan, klon IRR 272 dan IRR 284 masing-masing 66,56 g/p/s dan 65,48 g/p/s serta potensi volume kayu  total masing-masing  0,80 m3/ph dan 1,24 m3/ph.

 

Kata kunci :  Hevea brasiliensis, uji lanjutan, klon harapan, IRR seri 200

 

 

2

PELUANG MEMPERSINGKAT MASA BELUM MENGHASILKAN PADA TANAMAN KARET MELALUI PENGGUNAAN BAHAN TANAM BERBATANG BAWAH BANYAK

Possibility of Shortening Immaturity Period of Rubber Plant by using
Planting Material  with Many Rootstocks

 

Nurhawaty SIAGIAN

 

 

Summary

In order to increase growth and uniformity of rubber plant, improvement of cultural practice from planting material preparation, land clearing, field planting up to plant maintenance during immaturity period is necessarily needed. Up to this time, rubber immaturity period by using recent technology has become four years after planting. Short immaturity period will hasten the return of investment. Since 2005, the use of rubber planting materials with many rootstocks has been expanded in farmer level especially in Singkut Sarolangun, Jambi  Province. Rubber planting materials with many rootstocks logically will increase girth growth of rubber due to having a lot of roots for the absorption of water and nutrients. Furthermore research is required to prove whether rubber planting materials with lots of roostocks can shorten the immaturity period. The aim of this research was to evaluate the influence of rootstocks number on the rubber growth during immaturity period. The experiment was conducted in Sungei Putih Research  Centre, arranged in a factorial completely block design with three replications. First factor was rootstock number, i.e. two, three, four and control/only one rootstock as usually used. The second factor was types of clone grafted i.e. PB 260 and IRR 118. Two-whorl polybag plant was used as planting material and field planting was done in May 2006. Each experimental unit used 60 plants, so that plants totalled 1440. Variables observed were girth and bark thickness growth, number and diameter of latex vessels, N, P,K and Mg leaf contents at four years old, and physical/chemical  properties of the soil trial area observed before planting. Result of research indicated that at the age of four years, girth growth  of PB  260 with two rootstocks reached 42.93 cm,only 2.13 cm bigger compared to that of control (40.80 cm). On IRR 118 clone, girth growth  under control  was 40.74 cm, namely 2 cm smaller  compared to that of three-rootstock plant (42.07 cm). In general, growth of IRR 118 clone was more vigorous compared to that of PB 260 clone. There was no significant influence of treatment of clone and rootstock number interaction on all parameters observed. Hastening girth growth to  1,5 – 2 times bigger  by using many rootstoks planting materials as informed previously was unprovable in this research. The possibility of shortening the immaturity period of rubber plant by using  planting materials  with many rootstocks was low.

 

Keywords: Hevea brasiliensis, roostocks, immaturity period, clone

 

 

Ringkasan

 

Untuk mempercepat dan menyeragamkan pertumbuhan tanaman karet, perbaikan kultur teknik dari sejak pengadaan bahan tanam, persiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan selama masa tanaman belum menghasilkan (TBM) perlu selalu dilakukan. Sampai saat ini, masa TBM tanaman karet dengan menggunakan teknologi terkini paling cepat mencapai empat tahun.  Masa TBM yang singkat akan mempercepat pengembalian modal. Sejak tahun 2005, penggunaan bahan tanam karet berbatang bawah banyak dengan tujuan mempersingkat masa TBM telah berkembang di tingkat petani yaitu di Singkut Sarolangun, Propinsi Jambi.  Bahan tanam karet berbatang bawah banyak secara logika akan mendorong pertumbuhan batang karet karena mempunyai banyak akar untuk penyerapan air dan hara. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk membuktikan apakah bahan tanam berbatang bawah banyak dapat mempersingkat  masa TBM. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh jumlah batang bawah/akar tunggang terhadap pertumbuhan tanaman di lapangan selama masa TBM.  Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, disusun menggunakan rancangan acak kelompok faktorial, tiga ulangan.  Faktor pertama adalah jumlah batang bawah yaitu dua, tiga, empat dan kontrol/hanya satu batang bawah.  Faktor kedua  adalah jenis klon yang diokulasi yaitu klon PB 260 dan klon IRR 118. Penanaman di lapangan yang menggunakan bahan tanam polibeg dua payung dilakukan pada akhir bulan Mei 2006. Setiap unit percobaan menggunakan 60 tanaman, sehingga total semua tanaman adalah 1440 batang. Peubah yang diamati adalah per-kembangan lilit batang dan tebal kulit, jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar hara N, P,K dan Mg daun pada umur empat tahun, sifat fisik dan kimia tanah areal percobaan di lapangan, sebelum penanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur empat tahun, pada klon PB 260 lilit batang tanaman  berbatang bawah dua mencapai 42,93 cm, yakni 2,13 cm lebih besar dibandingkan dengan lilit batang tanaman berbatang bawah satu/kontrol (40,80 cm). Pada klon IRR 118, lilit batang tanaman  berbatang bawah satu (kontrol) adalah 40,74 cm, yakni 2 cm lebih kecil dibandingkan dengan lilit batang tanaman berbatang bawah tiga (42,07 cm). Secara umum, pertumbuhan klon IRR 118 lebih jagur dibandingkan dengan pertumbuhan klon PB 260.Tidak terdapat pengaruh interaksi antara klon dan perlakuan sambung terhadap semua peubah yang diamati.  Peningkatan pertumbuhan lilit batang 1,5 – 2 kali lebih besar dengan penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak sebagaimana dilaporkan sebelumnya tidak terbukti pada percobaan ini. Peluang mempersingkat masa TBM tanaman karet dengan penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak adalah kecil.

 

Kata kunci : Hevea brasiliensis,batang bawah, masa TBM, klon.

 

 

3

POTENSI PRODUKSI KAYU KARET TUA DI TINGKAT PETANI DAN PERKEBUNAN
SERTA KENDALA DALAM PEMANFAATANNYA

Potency  of Old Rubberwood Production at Smallholder and

Plantation Levels and Its Constraint in Utilization

 

Nurhawaty SIAGIAN, Muhammad SUPRIADI  dan Chairil ANWAR

 

Summary

 

At the moment, rubberwood obtained from replanting (especially from smallholder rubber) has not been priced correctly yet.  If rubberwood is sold as raw material for wood-based industry, it will give a meaningful added value as capital for the replanting of old rubber smallholdings. Smallholder rubberwood has not been used optimally due to several factors such as the inavailability of rubberwood industry around smallholder plantation, lack of infrastructure (poor road system) to transport rubberwood by using trucks, a long-distance wood industry from the smallholder rubber area, low recovery rate, and no knowledge of where to sell rubberwood.  In order to improve the utilization of old rubberwood as raw material for wood-based industry, several fundamental things are essentially required: how much rubberwood volume per hectare of old rubber plantation can be exploited for wood-based industry, sawntimber recovery; and constraints encountered in its exploitation. Such data are basically needed to make a new formulation and effective strategy as well as operational steps  in improving the exploitation and benefits of rubberwood.  This article discusses such matters and data were  obtained from the study at farmer and plantation level in North  Sumatra.

 

Keywords :         Hevea brasiliensis, rubberwood, smallholder rubber, plantation

 

 

Ringkasan

 

Pada saat ini  kayu karet hasil peremajaan (terutama karet rakyat) belum dihargai secara memadai, padahal bila kayu karet dijual sebagai bahan baku industri berbasis kayu, produk sampingan ini dapat memberikan nilai tambah yang cukup berarti sebagai modal untuk peremajaan karet petani. Kayu karet rakyat belum dimanfaatkan secara optimal karena beberapa faktor antara lain belum tersedia industri berbasis kayu di sekitar sentra kebun petani, areal karet tidak dapat dilalui truk untuk mengangkut kayu karet, lokasi kebun sangat jauh dari lokasi pabrik, rendemen kayu rendah, serta petani belum mengetahui kemana menjual kayu karetnya.  Dalam upaya meningkatkan pemanfaatan kayu karet tua untuk bahan baku industri berbasis kayu, beberapa hal mendasar yang perlu diketahui adalah : berapa volume kayu karet per ha karet  tua  yang dapat dimanfaatkan untuk industri, rendemen kayu gergajian serta kendala-kendala yang dihadapi dalam pemanfaatannya. Data-data tersebut sangat diperlukan untuk membuat rumusan serta strategi yang efektif dan operasional dalam meningkatkan pemanfaatan dan manfaat kayu karet hasil peremajaan. Artikel ini membahas hal-hal tersebut di atas dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian pada tingkat petani dan tingkat kebun di Sumatera Utara.

 

Kata kunci : Hevea brasiliensis, kayu karet, karet rakyat, perkebunan

 

4

PENGARUH PENANAMAN Mucuna bracteata TERHADAP STATUS HARA
DAN PERTUMBUHAN TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN
Effect of Mucuna bracteata on Nutrient Status and Growth of Immature Rubber Trees

 

Priyo Adi NUGROHO, ISTIANTO, Nurhawaty SIAGIAN dan KARYUDI

 

Summary

At present, most of rubber plantation in Indonesia is using Mucuna bracteata as LCC (legume cover crop). M. bracteata has some advantages compared with the other LCC. The aims of this research were to find out potential nutrient return of M. bracteata into the soil and to observe the influence of M. bracteata planting on immature rubber. This research comprised two activities,  was done at two rubber estates in North Sumatra. The first activity was to collect the shoots and litter of M. bracteata at 1 – 3 years after planting from 1 m2 plot with three replicates for biomass analysis and nutrient return to the soil. The second activity was to compare the immature rubber growth of PB 260 clone at 43 months after planting which used M. bracteata and conventional LCC. The growth parameters observed were girth, bark thickness and crown. As many as 100 trees samples were taken  from different area topography, namely lowland, flat and undulating and then T-Test was done for the data. The result showed that the potency of biomass produced by M. bracteata at  one year old was 2.5 – 7 times higher than the other LCC such as to serelium, conventional legume (mix of Peuraria javanica (Pj), Colopogonium mucunoides (Cm) and Centrocema pubescans Cp) and Paspalum conjugatum, respectively. The number of nutrient potency which was returned to the soil by M. bracteata at three years after planting was higher than that of the other LCC. Girth growth and bark thickness of rubber covered by M. bracteata indicated better performance than those of rubber covered by the other LCC. The number of tappable plants in area covered by M. bracteata was higher than those of rubber covered by the other conventional LCC, with the percentage of 15% and 7% per ha, respectively.

 

Keywords : H. brasiliensis, legume cover crop, M. bracteata, girth, bark thickness

 

 

Ringkasan

                Saat ini hampir seluruh perkebunan karet di Indonesia menggunakan M. bracteata sebagai tanaman kacangan penutup tanah. M. bracteata memiliki beberapa keunggulan dibanding penutup tanah lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah nutrisi yang dikembalikan oleh M. bracteata ke dalam tanah dan mengamati pengaruh penanaman M. bracteata terhadap pertumbuhan tanaman karet belum menghasilkan (TBM). Penelitian terdiri atas dua kegiatan yang dilakukan di dua perkebunan karet di wilayah Sumatera Utara. Kegiatan pertama adalah mengumpulkan jumlah biomasa M. bracteata (shoot dan seresah) yang berumur 1, 2 dan 3 tahun setelah tanam, tiga kali ulangan, dari plot yang berukuran 1m2 dan bertujuan untuk mengetahui potensi pengembalian biomasa M. bracteata. Kegiatan kedua adalah membandingkan pertumbuhan TBM karet klon PB 260 berumur 43 bulan yang berpenutup tanah M. bracteata dan kacangan konvensional (campuran Pj, Cm dan Cp). Parameter pertumbuhan yang diamati adalah lilit batang, tebal kulit dan tajuk tanaman. Sebanyak 100 pohon sampel dengan tiga ulangan telah diambil pada tiga kondisi topografi yaitu rendahan, datar dan bergelombang. Data pengukuran kemudian diuji secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi biomasa yang dihasilkan oleh M. bracteata berumur satu tahun setelah tanam 2,5 – 7 kali lebih besar dibandingkan dengan tanaman penutup tanah lain seperti serelium (Cc), kacangan konvensional (campuran Peuraria javanica (Pj), Colopogonium mucunoides (Cm) dan Centrocema pubescens (Cp) serta Paspalum conjugatum. Potensi hara yang dikembalikan ke dalam tanah oleh M. bracteata berumur tiga tahun setelah tanam, lebih tinggi dibanding tanaman penutup tanah lainnya. Pertumbuhan lilit batang dan ketebalan kulit tanaman karet berpenutup tanah M. bracteata berindikasi lebih baik dibanding dengan tanaman karet berpenutup tanah kacangan konvensional. Jumlah tanaman yang telah mencapai matang sadap (lilit batang > 45 cm) di areal berpenutup tanah M. bracteata lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman karet di areal dengan penutup tanah kacangan konvensional, dengan persentase berturut-turut sebesar 15% dan  7% per ha.

 

Kata kunci :         Hevea brasiliensis, kacangan penutup tanah, M. bracteata, lilit batang, tebal kulit

 

 

5

ANALISIS EKONOMI PEMUPUKAN PADA TANAMAN KARET

Economic Analysis of Rubber Fertilizing

 

Dwi Shinta AGUSTINA, Lina Fatayati SYARIFA, dan Sinung HENDRATNO

 

Summary

 

                Fertilizing is one of the important activities in rubber technical cultivation. With the increasing price of fertilizer, rubber fertilizing mainly in the mature period has become a concern of the farmers. This article analyzed an economic aspect of fertilizing on PR 261 rubber clone in the experimental garden of Sembawa Research Station. The result showed that within the condition of rubber price and standard price of fertilizer as happened this time, fertilizer treatment  was still beneficial. Sensitivity analysis made in time of the increase of fertilizer prices and the extreme decline of rubber prices still caused the fertilizer treatment remain profitable.

 

Keywords  Hevea brasiliensis, economic analysis, fertilizing, cost, productivity, B/C Ratio

 

 

Ringkasan

 

Pemupukan merupakan salah satu kegiatan penting dalam kultur teknis perkebunan karet. Dengan semakin meningkatnya harga pupuk, pemupukan pada tanaman karet terutama pada masa tanaman menghasilkan menjadi perhatian bagi para pekebun. Artikel ini menganalisis aspek ekonomi pemupukan pada tanaman karet klon PR 261 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi harga karet dan harga pupuk standar seperti yang terjadi saat ini, perlakuan pemupukan masih menguntungkan. Analisis sensitivitas jika terjadi kenaikan harga pupuk dan penurunan harga karet yang ekstrim secara simultan juga menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan masih tetap menghasilkan keuntungan.

 

Kata kunci:          Hevea brasiliensis, analisis ekonomi, pemupukan, biaya, produksi, B/C ratio

 

 

6

EPOKSIDASI KARET ALAM DALAM FASA LATEKS MENGGUNAKAN ASAM PERFORMAT

 

Epoxidation of  Natural Rubber in Latex Phase

using Performic Acid

 

M. Irfan FATHURROHMAN dan Yoharmus SYAMSU

 

Summary

 

Natural rubber of  Hevea brasiliensis is a natural polymer which has good physical properties and high elasticity. However, the natural rubber molecule is a non-polar hydrocarbon which easily swells in oil or grease. Epoxydation of double bond of natural rubber molecule is an effort to increase its polarity, so its resistance to oil or grease as well as several of its physical properties will increase. The aim of this experiments was to study the effect of reaction parameters, i.e duration of reaction, temperature, and protein content of natural rubber latex on rate of epoxydation reaction. Epoxydation experiments in the latex phase was conducted using performic acid 0.0035 mole/gram of rubber and hydrogen peroxide 0.01 mole/gram rubber as reactants. Natural rubber latex used were field latex, centrifuged latex, and DPNR latex, with 20% of dry rubber content at the epoxydation reaction. Epoxydized rubber obtained was analysed by FTIR spectroscopy for qualitative or quantitative analysis. The infrared spectra of epoxidized natural rubber obtained in this experiments had maximum absorption peaks at wave number of 1251 cm-1 and 874 cm-1, which showed specific absortion peaks of symmetric and asymmetric of epoxide groups. The increasing of duration and temperature reaction increased the percentage of epoxyde groups formed. On the contrary, increasing protein content in the latex decreased the percentage of epoxyde groups formed, thus the rate of epoxydation reaction would also be affected.

 

Keywords : natural rubber, performic acid, epoxydation

 

 

Ringkasan

 

Karet alam Hevea brasiliensis merupakan suatu polimer alam yang memiliki sifat fisika yang baik dan elastisitas yang tinggi. Namun karena karet alam bersifat non-polar menyebabkan karet alam tidak tahan terhadap minyak. Epoksidasi ikatan rangkap dari molekul karet alam merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kepolaran molekul karet tersebut. Dengan demikian ketahanan terhadap minyak dan beberapa sifat fisika lainnya akan meningkat pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parameter reaksi seperti lama reaksi, temperatur, dan kadar protein pada lateks alam terhadap laju reaksi epoksidasi. Percobaan epoksidasi pada fase lateks dilakukan dengan menggunakan asam format 0,0035 mol/gram karet dan hidrogen peroksida 0,01 mol/gram karet sebagai reaktan. Lateks alam yang digunakan adalah lateks kebun, lateks pekat dan lateks DPNR dengan kadar karet kering pada waktu reaksi berlangsung masing-masing 20%. Karet epoksida yang terbentuk dianalisis secara spektroskopi FTIR baik untuk analisis kualitatif maupun kuantitiatif. Spektrum inframerah karet alam epoksida hasil percobaan mempunyai puncak serapan inframerah pada bilangan gelombang 1251 cm-1 dan 874 cm-1 yang merupakan puncak serapan spesifik untuk regangan simetrik dan asimetrik dari gugus epoksida. Peningkatan lama reaksi dan suhu reaksi meningkatkan pula persentase gugus epoksida yang terbentuk. Sebaliknya peningkatan kandungan protein di dalam lateks menurunkan persentase terbentuknya gugus epoksida, serta laju reaksi epoksidasi juga akan dipengaruhi.

 

Kata kunci : karet alam, asam performat, epoksidasi

 

 

7

ESTIMASI ELASTISITAS PERMINTAAN EKSPOR KARET ALAM MALAYSIA
MENGGUNAKAN ERROR CORRECTION MODEL (ECM)

Estimating Elasticities of Export Demand of Malaysian Natural Rubber using Error
Correction Model (ECM)

 

Lina Fatayati SYARIFA 1)

 

Summary

 

Malaysia is the third largest producer of natural rubber (NR) in the world behind Thailand and Indonesia. However, the export demand of Malaysian NR has fluctuated  that could be due to the export price, foreign income, and price of synthetic rubber. The aim of this study was to estimate demand elasticities of Malaysian natural rubber towards factor changes that significantly influenced the demand. Quarterly data were used to estimate the export demand function with an error correction model. The estimation result showed that the own price elasticities of SMR 20 and latex were 0.20 and 0.98, respectively, suggesting that they were inelastic. Thus, the changes of prices of NR would cause only a small change in the quantities demanded, implying that the changes in price would not give important effect on export quantity demanded. Based on latex  income elasticity of  2.95, it suggested that foreign income became the important determinant of the export demand. Then, the cross price elasticities of SMR 20 and latex concentrate were 0.21 and 0.08, respectively, suggesting that they were inelastic against synthetic rubber.

 

Keywords: Natural rubber, export demand, error correction model, elasticities

 

Ringkasan

Malaysia merupakan produsen karet alam terbesar ketiga setelah Thailand dan Indonesia. Namun, permintaan ekspor untuk karet alam berfluktuasi dari waktu ke waktu.  Hal ini antara lain disebabkan oleh perubahan faktor-faktor harga ekspor, pendapatan luar negeri, dan harga karet sintetis dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi elastisitas permintaan karet alam terhadap perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan karet alam secara signifikan. Data triwulan digunakan untuk mengestimasi fungsi permintaan ekspor dengan menggunakan model ECM. Hasil estimasi menunjukkan bahwa elastisitas harga SMR 20 dan lateks yang masing-masing nilainya 0,20 dan 0,98, menunjukkan bahwa keduanya adalah inelastis. Dengan demikian, perubahan harga karet alam hanya akan menyebabkan perubahan kecil terhadap jumlah permintaan, yang menunjukkan bahwa kebijakan harga tidak akan memberikan efek penting bagi jumlah ekspor yang diminta. Berdasarkan nilai elastisitas pendapatan terhadap lateks pekat adalah 2,95, ini menunjukkan bahwa pendapatan luar negeri menjadi penentu penting dari permintaan ekspor lateks pekat. Kemudian, nilai elastisitas harga substitusi SMR 20 dan lateks masing-masing 0,21 dan 0,08,  menunjukkan bahwa keduanya inelastis terhadap karet sintetis.

 

 

Kata kunci: karet alam, permintaan ekspor, model ECM, elastisitas

 

1

POTENSI KEUNGGULAN KLON KARET HARAPAN

IRR SERI 200 DARI HASIL SELEKSI  POHON INDUK

 

Potency of Promising Rubber Clones IRR 200 Series

from Ortet Selection

 

AIDI-DASLIN, SAYURANDI dan Syarifah Aini PASARIBU

 

 

Summary

 

                Rubber breeding program in Indonesia has produced many superior clones as latex  and timber yielders. Cultivation of superior clones has increased significantly productivity and national natural rubber competitiveness. Producing more superior rubber clones has been done through hand pollination and ortet selection programs at Sungei Putih Research Centre since 1985 with the purpose of obtaining superior genotypes as high latex yielders with good secondary characteristics.  The selection result of PBIG (Prang Besar Isolated Garden) seedling population in  North Sumatra has produced some potential genotypes developed as superior rubber clones. The genotypes have been selected from this ortet, retested in further trials at the experimental garden of  Sungei Putih Research Centre  and then registered as IRR 200 series promising clones.  The result of evaluation in further trials indicated that two clones were potential as latex-timber clones, namely IRR 272 and IRR 284.  These clones had vigorous growth before and after tapping. Girth growth in immature period (four years old) was around 46.1 – 47.5 cm.  Girth increment before tapping was around 11.9 – 12.8 cm/year while after tapping around 4.8 – 4.9  cm/year.  Average dry rubber yield over four years tapping of clones IRR 272 and IRR 284 was 66.56 g/tapping/tree and 65.48 g/tapping/tree, respectively.  Total wood volume was 0.80 m3/tree and 1.24 m3/tree, respectively.

 

Keywords: Hevea brasiliensis, further trial,  promising clones, IRR 200 series

 

 

Ringkasan

 

Program pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet unggul sebagai penghasil lateks dan kayu. Penanaman klon unggul secara nyata telah  meningkatkan produktivitas dan daya saing karet alam nasional. Untuk memperoleh klon-klon yang lebih unggul dilakukan dengan program persilangan buatan dan seleksi pohon induk (ortet). Kegiatan ini telah dilakukan di Balai Penelitian Sungei Putih sejak tahun 1985 sampai dengan saat ini dengan tujuan  mendapatkan genotipe unggul sebagai penghasil lateks tinggi dan memiliki karakteristik sekunder yang baik. Hasil seleksi pohon induk dari populasi tanaman semaian PBIG (Prang Besar Isolated Garden) yang ada di Sumatera Utara, telah menghasilkan beberapa genotipe yang potensial dikembangkan sebagai klon karet unggul.  Genotipe-genotipe terpilih dari seleksi pohon induk  tersebut, diteruskan ke tahap uji lanjutan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih dan diregistrasi menjadi klon harapan IRR seri 200. Dari hasil evaluasi diperoleh dua klon yang memiliki potensi sebagai klon penghasil lateks dan kayu yaitu klon IRR 272 dan IRR 284. Klon-klon tersebut memiliki pertumbuhan yang jagur baik pada masa sebelum disadap maupun setelah disadap. Pertumbuhan lilit batang pada umur empat tahun berkisar 46,1 – 47,5 cm, laju  pertambahan lilit batang sebelum sadap antara 11,9 – 12,8 cm/th, pada masa penyadapan antara 4,8 – 4,9 cm/th. Rata-rata hasil karet kering selama empat tahun penyadapan, klon IRR 272 dan IRR 284 masing-masing 66,56 g/p/s dan 65,48 g/p/s serta potensi volume kayu  total masing-masing  0,80 m3/ph dan 1,24 m3/ph.

 

Kata kunci :  Hevea brasiliensis, uji lanjutan, klon harapan, IRR seri 200

 

 

2

PELUANG MEMPERSINGKAT MASA BELUM MENGHASILKAN PADA TANAMAN KARET MELALUI PENGGUNAAN BAHAN TANAM BERBATANG BAWAH BANYAK

Possibility of Shortening Immaturity Period of Rubber Plant by using 
Planting Material  with Many Rootstocks

 

Nurhawaty SIAGIAN

 

 

Summary

In order to increase growth and uniformity of rubber plant, improvement of cultural practice from planting material preparation, land clearing, field planting up to plant maintenance during immaturity period is necessarily needed. Up to this time, rubber immaturity period by using recent technology has become four years after planting. Short immaturity period will hasten the return of investment. Since 2005, the use of rubber planting materials with many rootstocks has been expanded in farmer level especially in Singkut Sarolangun, Jambi  Province. Rubber planting materials with many rootstocks logically will increase girth growth of rubber due to having a lot of roots for the absorption of water and nutrients. Furthermore research is required to prove whether rubber planting materials with lots of roostocks can shorten the immaturity period. The aim of this research was to evaluate the influence of rootstocks number on the rubber growth during immaturity period. The experiment was conducted in Sungei Putih Research  Centre, arranged in a factorial completely block design with three replications. First factor was rootstock number, i.e. two, three, four and control/only one rootstock as usually used. The second factor was types of clone grafted i.e. PB 260 and IRR 118. Two-whorl polybag plant was used as planting material and field planting was done in May 2006. Each experimental unit used 60 plants, so that plants totalled 1440. Variables observed were girth and bark thickness growth, number and diameter of latex vessels, N, P,K and Mg leaf contents at four years old, and physical/chemical  properties of the soil trial area observed before planting. Result of research indicated that at the age of four years, girth growth  of PB  260 with two rootstocks reached 42.93 cm,only 2.13 cm bigger compared to that of control (40.80 cm). On IRR 118 clone, girth growth  under control  was 40.74 cm, namely 2 cm smaller  compared to that of three-rootstock plant (42.07 cm). In general, growth of IRR 118 clone was more vigorous compared to that of PB 260 clone. There was no significant influence of treatment of clone and rootstock number interaction on all parameters observed. Hastening girth growth to  1,5 – 2 times bigger  by using many rootstoks planting materials as informed previously was unprovable in this research. The possibility of shortening the immaturity period of rubber plant by using  planting materials  with many rootstocks was low.

 

Keywords: Hevea brasiliensis, roostocks, immaturity period, clone

 

 

Ringkasan

 

Untuk mempercepat dan menyeragamkan pertumbuhan tanaman karet, perbaikan kultur teknik dari sejak pengadaan bahan tanam, persiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan selama masa tanaman belum menghasilkan (TBM) perlu selalu dilakukan. Sampai saat ini, masa TBM tanaman karet dengan menggunakan teknologi terkini paling cepat mencapai empat tahun.  Masa TBM yang singkat akan mempercepat pengembalian modal. Sejak tahun 2005, penggunaan bahan tanam karet berbatang bawah banyak dengan tujuan mempersingkat masa TBM telah berkembang di tingkat petani yaitu di Singkut Sarolangun, Propinsi Jambi.  Bahan tanam karet berbatang bawah banyak secara logika akan mendorong pertumbuhan batang karet karena mempunyai banyak akar untuk penyerapan air dan hara. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk membuktikan apakah bahan tanam berbatang bawah banyak dapat mempersingkat  masa TBM. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh jumlah batang bawah/akar tunggang terhadap pertumbuhan tanaman di lapangan selama masa TBM.  Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, disusun menggunakan rancangan acak kelompok faktorial, tiga ulangan.  Faktor pertama adalah jumlah batang bawah yaitu dua, tiga, empat dan kontrol/hanya satu batang bawah.  Faktor kedua  adalah jenis klon yang diokulasi yaitu klon PB 260 dan klon IRR 118. Penanaman di lapangan yang menggunakan bahan tanam polibeg dua payung dilakukan pada akhir bulan Mei 2006. Setiap unit percobaan menggunakan 60 tanaman, sehingga total semua tanaman adalah 1440 batang. Peubah yang diamati adalah per-kembangan lilit batang dan tebal kulit, jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar hara N, P,K dan Mg daun pada umur empat tahun, sifat fisik dan kimia tanah areal percobaan di lapangan, sebelum penanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur empat tahun, pada klon PB 260 lilit batang tanaman  berbatang bawah dua mencapai 42,93 cm, yakni 2,13 cm lebih besar dibandingkan dengan lilit batang tanaman berbatang bawah satu/kontrol (40,80 cm). Pada klon IRR 118, lilit batang tanaman  berbatang bawah satu (kontrol) adalah 40,74 cm, yakni 2 cm lebih kecil dibandingkan dengan lilit batang tanaman berbatang bawah tiga (42,07 cm). Secara umum, pertumbuhan klon IRR 118 lebih jagur dibandingkan dengan pertumbuhan klon PB 260.Tidak terdapat pengaruh interaksi antara klon dan perlakuan sambung terhadap semua peubah yang diamati.  Peningkatan pertumbuhan lilit batang 1,5 – 2 kali lebih besar dengan penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak sebagaimana dilaporkan sebelumnya tidak terbukti pada percobaan ini. Peluang mempersingkat masa TBM tanaman karet dengan penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak adalah kecil.

 

Kata kunci : Hevea brasiliensis,batang bawah, masa TBM, klon.

 

 

3

POTENSI PR