WARTA PERKARETAN

Written by admin on January 6, 2012. Posted in Ringkasan Jurnal

PROSPEK TEKNIK SAMBUNG DINI DALAM PROPAGASI BIBIT KARET KLONAL

Summary

Ringkasan

Bibit karet diperbanyak dengan cara okulasi, yaitu suatu sistem perbanyakkan vegetatif yang dilakukan dengan cara menempelkan mata tunas pada pangkal batang bawah. Teknik perbanyakan ini mulai pertama diperkembangkan oleh Helten pada tahun 1917, dan masih menjadi satu –satunya cara perbanyakn bibit karet yang terbaik samapai dengan saat ini. Proses penyiapan bibit klonal dengan cara penyambungan tunas entres muda pada pangkal semai batang bawah  (rootstock) umur 2-6 minggu. Percobaan sambung dini dilakukan dengan peyambungan semai batang bawah umur 3-6 minggu dengan tunas entres muda klon PRIC 100 yang di persiapkan dari kebun entres. Percobaan terdiri dari dua perlakuan, pertama, samaian atau kecambah umur 3 minggu  dicabut dari bedeng  perkecambahan, kemudian disambung dengan tunas entres umur 2-3 minggu. Kecambah yang telah disambung kemudian ditanam kembali pada bedeng perkecambah dan disungkup  dengan plastik transparan. Kedua, samaian umur 4-6 minggu yang ditumbuhkan dalam  polibeg ukuran 10×20 cm disambung secara langsung tanpa percabutan dan disungkup  dengan kantong plastik transparan. Selanjurnya kedua kelompok tanaman tersebut ditempatkan dibawah paranet dengan intensitas  penyinaran 50%. Setelah 4 minggu sungkup dibuka dan diketahui tingkat keberhasilan penyambungan. Tingkat keberhasilan penyambungan pada perlakuan pertama 48%, sedangkan perlakuan kedua 69%. Keberhasilan  perlakuan kedua lebih tinggi karena akar batang bawah tidak mengalami gangguan. Kegagalan penyambungan antara lain disebabkan oleh gangguan penyakit daun dan batang, kendala yang lain adalah adanya hambatan pertumbuhan awal pada tunas batang atas. Dengan perbaikan dalam proses penyambungan dan pengaturan lingkungan yang sesuai, tingkat keberhasilan sambung dini dapat meningkat, sehingga mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai alternatif teknik perbanykan bibit karet.

Kata kunci : Karet, propagasi, sambung dini, bibit klonal

AGROBIODIVERSITY PADA SISTEM WANATANI BERBASIS KARET KLONAL

Ringkasan
Tanaman karet telah lama di kernal di Indonesia den berkembang luas di masyarakat dalam bentuk kebun karet campuran atau agroforest karet. Agroforest karet memiliki  nilai lebih dari sisi keanekaragaman jenis tanaman (agrobiodiversity), karena tingginya keragaman spesies tanaman selain karet. Rubber Agroforestry System (RAS), adalah teknologi yang mengintroduksikan bahan tanam karet klonal ke dalam agroforest karet. Teknologi RAS 1, salah satu tipe dari teknologi RAS yang setara dengan hutan karet rakyat dengan pengelolaan yang minimal dengan penggunaan karet klonal terbukti mampu mempertahankan keanekaragaman jenis tanaman didalam sistem RAS sangat penting artinya bagi petani  karena mampu memberikan nilai lebih dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari. Dilihat dari sisi agrobiodiversity, perkayaan jenis tanaman ini sangat penting perannya dalam menjaga kelestarian spesies – spesies tanaman tertentu.

Kata kunci : Hevea brasiliensis, agroforest karet, teknologi RAS, perkayaan jenis tanaman, agrobiodiversity.

KARAKTERISISASI  SUMBER DAYA LAHAN UNTUK PERKEMBANGAN KARET
DI SEBAGAIAN WILAYAH ROKAN HULU, RIAU

Ringkasan
Luas areal perkebunan karet di Rokan hulu, Riau adalah 343.320 ha dengan produktivitas 61.623 ton. Peluang peningkatan produktivitas tanaman karet masih sangat terbuka di daerah ini. Hal yang mungkin dilakukan dalam rangka peningkatan produktivitas adalah rehabilitas kebun karet tua maupun rusak dan perluasan areal dengan memanfaatkan sumber daya lahan yang tersedia  (ektensifikasi). Ekstensifikasi berpeluang untuk dilakukan di kecamatan rokan IV kotoyang masih berpeluang untuk dikembangkan adalah 41.538 ha lahan kering (dengan pengunaan untuk kebun campuran dan  kebun karet), 61.341 ha hutan areal negara  (dengan pengunaan untuk tanah ulayat dan hutan lindung), serta 9.917 ha areal dengan penggunaan lain. Seluas 13.000 ha areal dicadangkan untuk perkebunan karet. Seluas 11.800 ha diantaranya sesuai untuk tanaman karet. Faktor fisik terutama kelerengan dan curah hujan dapat menjadi faktor pembatas apabila pengelolaan tidak dilakukan secara tepat. Faktor sosial ekonomi dan tersedianya sarana perasarana juga mendukung upaya peningkatan produktivitas tanaman  karet.
Kata kunci : Hevea brasiliensis, sumberdaya lahan, roken hulu, roken IV koto

PETENSI BIBIT DAN KERAGAAN KEBUN ENTRES KARET DI KALIMANTAN SELATAN

Ringkasan
Kalimantan sekatan merupakan salah satu Provinsi penghasil karet di indonesia dengan luasan mencapai 173.000 Ha. Harga karet yang sangat baik saat ini memacu minat petani menanam karet dan meremajakan karet yang sudah tua. Wilayah Kalimantan selatan diketahui merupakan salah satu sumber bibit karet terbesar di indonesia, oleh karena itu diperlukan informasi keragaan bahan tanam, termasuk sumber entres di sentra – sentra kebun entres yang telah dikembangkan. Tulisan ini merangkun informasi dari kegiatan permurnian yang dilakukan pada kurun 2009 – 2010, seperti kompisisi sebaran klon, kondisi kebun dan manajemen pengelolaanya. Berdasarkan sebaran jenis klonnya , Klon PB 260 masih menempati urutan tertinggi yang dikembangkan, yaitu 44,41% dari total populasi (setelah dimurnikan). Secara keseluruhan, sebagian besar kebun entres ditanam pada tahun 2008 dengan tingkat kemurnian berkisar antara 4,42 – 99,87% dengan rata- rata kemurnian secara keseluruhan hanya sekitar 67,91%. Data kondisi kebun entres menunjukkan keragaan tanaman yang hetrogen, dengan tiggi tanaman berkisar antara 1-3 m atau 3-10 payung daun, dan banyak diantaranya masih berupa tunas primer atau belum dilakukan pemotongan, kebun entres yang telah dilakukan pemotongan pertama, rata – rata dipelihara 2-3 tunas perpohon  namun namun pengelolaannya belum memperhatikan mutu fisiologis entres, jumlah entres yang telah di murnikan sebanyak 200.771 pohon. Potensi jumlah mata okulasi adalah sebesar 8.030.840 mata. Dengan jumlah batang bawah 17 juta tegakan pada tahun 2010, maka pengembangan kebun  entres perlu terus dilakukan untuk mencukupi kebutuhan mata okulasi.

Kata kunci : karet, bibit klonal, klon, kebun entres, kalimantan selatan.

ANALISIS  EKONOMI SISTEM WANATANI BERBASIS KARET RAKYAT DI KALAIMANTAN BARAT
IMPLIKASI BAGI PENGEMBANGAN KARET

Ringkasan
Analisis neraca usaha tani merupakan alat untuk memahami kenerja ekonomi dari suatu kegiatan pertanian, utamanya digunakan untuk menilai dampak dari intervensi teknologi, perubahan harga dan kebijakan. Analisis tersebut membantu memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kelebihan dan kekurangan dari beragam kegiatan pertanian. Analisis usaha tani yang disajikan dalam makalah ini menggunakan perangkat lunak Olympe, yaitu perangkat lunak pemodalan usaha tani yang dikembangkan oleh institut national de la recherche Agronamique  ( INRA ) , Agricultural Research Center For Internasional development (CIRAD) dan Mediterranean Agronomic institute of Montpellier (IAMM). Sebagai salah satu perangkat lunak pemodelan sistem usaha tani, Olympe merupakan alat bantu yang cukup efesien dalam memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kondisi petani dan mengaitkannya dengan inovasi dan praktik  teknis. Serangkaian analisi dapat dilakukan termasuk dampak  ekonomis dari pemilihan suatu teknik, pengaruh keridakteraturan iklim ataupun kondisi ekonomi, dan dampak lingkungan dari pengunaan lahan. Teknologi sistem wanatani berbasis karet ( RAS) di sanggau, Kalimantan barat , dikembangkan untuk diadaptasi oleh petani kecil yang modalnya terbatass. Hasil penelitian dan kajian menggunakan Olympe menunjukan  bahwa walaupun RAS membutuhkan modal yang lebih besar, profitabilitas lahan dan penerimaan petani ( return to labor ) memiliki nilai yang lebih besar bila dibandingkan dengan sistem karet tradisional petani. Penerimaan petani pada RAS bisa lebih tinggi dari penerimaan petani pada sistem usaha tani karet monokultur yang biasanya dilakukan secara intensif. Studi ini menyimpulkan bahwa teknologi RAS memiliki kelebihan dari segi ekonomi dan lingkungan di bandingkan sistem budidaya karet monokultur dan kelapa sawit monokultur.

Kata kunci : kinerja sistem usaha tani , neraca usaha tani, profitabilitas lahan, penerimaan petani, sistem wanatani berbasis karet (RAS), Kalimantan barat.

POTENSI RUSSIAN DANDELION SEBAGAI PENGHASIL KARET ALAM

Ringkasan
Karet alam yang dimanfaatkan pada umumnya berasal dari hevea berasiliensis. Adanya penyakit South American leaf Blight (SALIB) pada tanaman karet Hevea brasiliensis menimbulkan kekhawatiran. Oleh  karena  itu ekslorasi tanaman penghasil karet alam selain hevea brasiliensis perlu dikembangkan. Salah satu tanaman tersebut adalah russuan dandelion. Berdasarkan penamaan binomial , tanaman ini termasuk dalam genus taraxacum dengan nama spesies taraxacum koksaghyz. Morfologi dasarnya terdiri atas akar , daun, tangkai bunga,bunga, dan biji. Bijinya mampu berkecambah dengan baik pada suhu antara 5C sampai 35C. Akarnya merupakan sumber lateks dan potensi hasilnya dapat mencapai 500 sampai 100 kg karet kering /ha/panen .

Kata kunci : Russian dandelion, karet alam SALB, Taraxacum,Lateks Hevea brasiliensis.

MATERIAL KOMPOSIT DALAM TEKNOLOGI PEMBUATAN BARANG JADI KARET

Ringkasan
Akhir – akhir ini material komposit semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang karena  keunggulan sifat – sifatnya seperti ringan, kuat,kaku  serta tahan terhadap korosi dan beban lelah. Dengan alasan tersebut, bahan ini juga digunakan dalam teknologi  pembuatan barang jadi karet seperti ban kendaraan, selang karet  (hose),conveyor belt, gaskests,expansion joint dll. Dalam makalah ini dijelaskan penggunaan material komposit untuk pembuatan produk selang karet. dalam pembuatan barang jadi karet, material komposit berupa penghabungan antara material pengisi bersifat penguat dan kompon karet. material pengisi baik dalam bentuk serbuk (partikel) ataupun serat berfungsi sebagai material penguat  sedangkan kompon karet berfungsi sebagai matriks. Material serat dalam pembuatan barang jadi karet dapat berbentuk benang (yarn),cord,kain (fabric), ataupun kawat (wire). Adanya material serat dapat meningkatkan kekuatan dan kekakuan dari produk karet sehingga dalam produk selang karet material ini secara umu berfungsi untuk menahan tekanan internal dari fluida dan gaya-gaya  eksternal. Sifat – sifat penguatan dari material serat dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: jenis, ukuran, orientasi dan bentuk serat. Umumnya setiap barangjadi karet termasuk selang karet terdapat beberapa hal yang perlu di pertimbangkan agar  produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan teknis diantranya  : pemilihan jenis material ( material elastomer dan bahan kimia karet ), sifat – sifat mekanik produk, batas temperatur pemakaian, ketehan terhadap kondisi lingkungan, kemudahan dalam proses pembuatan, dan pertimbangan biaya pembuatan produk.

Kata kunci : material komposit, teknologi barang jadi karet, selang karet, material pengisi.

Trackback from your site.

Comments (1)

  • bam
    April 9, 2012 at 7:10 pm |

    salam kenal pak mau tanya soal dampak penyakit tanaman karet terhadap hasil produksi itu gimanya?

Leave a comment

- Online Now
Visits Today: -
Pageviews Today: -
New Visitors Today: -
Returning Visitors Today:
New Visits Today: -%
Visits Yesterday: -
Pageviews Yesterday: -
New Visitors Yesterday: -
Returning Visitors Yesterday: -
New Visits Yesterday: -%
Total Visits: -
Total Pageviews: -